KISAH HANDOKO
Mencari Cinta di Kenduri Kematian

Oleh: Mochamad Yusuf

1001 jalan mencari cintaHandoko kesal sama Yunus. Yunus, sobat kantornya yang sudah menjadi temannya sejak SMP, mengajak ngelayat keluarga salah satu karyawan yang barusan meninggal. Karyawan ini bekerja di bagian packaging shampoo. Ya, mereka semua bekerja di sebuah perusahaan consumer good yang cukup ternama.

Handoko kesal karena dia sudah letih bekerja seharian, masih disuruh ikut ngelayat keluarga karyawan yang tidak dia kenal. Ya, karyawan yang keluarganya meninggal bekerja di pabrik, sedangkan Handoko dan Yunus banyak kerja di kantor. “Datang ke sana masih bagian dari pekerjaan Yunus, karena dia manager HRD. Sedang aku? Aku kan manager accounting,” sungut Handoko.

Ini sudah kesekian kalinya Yunus mengajak kegiatan seperti ini. Lain waktu, Yunus mengajak datang ke teman yang barusan anaknya lahir. Kapan waktu ke teman yang anaknya sunat. Dan masih banyak kegiatan-kegiatan lain. Sebagian besar Handoko menolak, karena tidak kenal meski satu kantor. Yang dia datangi adalah yang dikenal dan masih ada hubungan kerja dengannya.

1001 jalan mencari cintaBagi Handoko kegiatan seperti itu tak ada manfaatnya. Secara karir tidak ada sangkut-pautnya. Yang jelas hanya dapat capek. Apalagi seperti kali ini, tempatnya di luar kota yang harus menempuh 3 jam. Tiba kembali ke rumah bisa menjelang fajar. Meski kantor, Yunus sebagai manager HRD, mengijinkan datang siang, tapi dia sudah membayangkan kecapekan yang didapat.

Sore tadi Handoko protes sama Yunus, “Tak usahlah kamu mengajakku.” Tapi Yunus mengatakan ini adalah salah satu jalan mencari jodoh. “Kamu diam saja di sini, di kantormu yang sejuk ini, takkan ada jodoh yang datang. Meski kamu berdoa beribu-ribu kali, kalau kamu tak usaha, ya takkan terwujud keinginanmu itu,” jelas Yunus.

Handoko teringat pertengkaran tadi pagi dengan mamanya. Mamanya meminta untuk menikah. Katanya dia sudah tua, umurnya mungkin sudah tak panjang lagi. “Lagian kamu sudah cukup umur kan? Umurmu sudah 31 tahun. Pekerjaanmu sudah mapan. Beberapa hal sudah kamu miliki,” teriak mamanya marah. Ini pertengkaran yang kesekian.

Dia melihat tampilan dirinya di laptopnya yang berwebcam. “Cukup tampan,” gumannya. Bahkan bisa dibilang ideal karena tingginya 175 cm. Dia membandingkan dengan Yunus, “Dengan dia tentu saja aku lebih menarik darinya. Dia agak kecoklatan, nggak tinggi bahkan agak gendut. Tapi kenapa ya dia banyak teman? Bahkan karyawan wanita di pabrik banyak yang suka,” katanya membatin.

Dia ingat suatu pagi ketika lagi ngobrol dengan Yunus di gerbang pabrik ada seorang karyawati memberi Yunus sebungkus tas kresek. “Apa ini?” tanya Yunus. “Kue donat Pak. Enak kok. Saya bikin dari kentang,” jawabnya. “Wow, kapan buatnya nih kalau sepagi ini sudah matang?” tanyanya lagi. “Bikinnya sih tadi malam sebelum tidur. Tapi gorengnya tadi sebelum subuh,” jawabnya lagi. “Asyik, terima kasih banyak ya. Ini semua untuk saya?” tanyanya. Karyawati itu mengangguk.

Peristiwa itu bagian dari banyak peristiwa serupa. Handoko diam-diam mengagumi Yunus. Apa yang dia lakukan ya? Apa yang menjadi rahasianya? Kecuali waktu kuliah, sejak SMP dia sesekolah, tak ada yang beda dengannya. Dan ketemu lagi ketika kerja di perusahaan ini.

Tok-tok. Terdengar bunyi pintu diketuk. “Hand, sibuk ya? Bisa kan nanti?” tanyanya. Handoko menghela napas. Menyatakan tidak, rasanya berat. Yunus jadi sobat kentalnya sejak lama.

“Hmm,.. aku tahu kamu keberatan. Hand, dunia ini misteri. Kita tidak tahu dari mana itu akan mempengaruhi kehidupan kita. Dulu saya kayak kamu. Namun berubah sejak KKN kuliah,” matanya tajam seakan membaca pikiran Handoko. “Suatu ketika waktu KKN, saya diundang teman kuliah ke desanya. Tempatnya jauh. Tapi waktu itu saya lagi suntuk di desa. Teman-teman KKN sedesa nggak ada yang asyik. Jadi saya iyakan.”

“Di desa sobat saya ini saya kenal dengan seorang yang cukup dituakan. Awalnya hanya perkenalan biasa, kelak saya sering datang ke dia. Bahkan setelah tidak KKN pun saya datang ke sana. Apalagi setelah saya terlambat lulus karena macet di skripsi. Dialah yang mendorong, memberi semangat, berdoa bahkan membantu mencari tema skripsi baru dan mencari orang yang tepat untuk membantuku. Dia sudah seperti kakak sekaligus orang tuaku.”

“Sejak itu saya tak segan membuat silaturahmi dengan orang. Bahkan saya rajin datang di acara-acara sosial seperti kematian, sunatan, pernikahan dan lainnya. Kalau memungkinkan saya akan datang meskipun itu jauh tempatnya. Bahkan sampai pelosok desa saya datang. Dalam pertemuan-pertemuan itu sering saya ketemu dengan lawan jenis. Dalam hati, saya katakan mungkin saja ada jodoh saya di antara mereka,” cerita Yunus panjang lebar.

“Tapi kan gadis desa!” sergah Handoko. “Apa yang salah dengan gadis desa? Oh maksudmu pendidikannya tak tinggi dan wawasannya kurang luas?” tanya Yunus. Handoko mengangguk dengan berat.

“Kalau itu maksudmu, lihat saja Rasmi.” “Siapa Rasmi itu?” “Istriku.” Handoko baru ingat kalau nama istri Yunus adalah Rasminingsih.

“Dia juga kuliah di kota, bahkan kerja di kota juga,” kata Yunus. Ya, istrinya memang kerja di sebuah bank swasta bagian Customer Service. Mungkin karena kecantikan dan kemolekannya dia ditempatkan di situ, batin Handoko. “Saya kenalnya ketika ada orang tua teman organisasi yang meninggal. Rasmi adalah tetangga sekaligus keponakan yang meninggal. Di sana kita berkenalan. Dan berlanjut seperti sekarang.”

“Ya, tentu saja tidak selalu ada kejadian seperti ini. Tapi niat saya ikhlas saja. Bukankah kita diminta untuk bersilaturahmi, bahkan untuk datang mengucapkan berduka merupakan kewajiban bersama? Tentu saja, ini lebih baik daripada diam di rumah. Dan ada konsekuensinya: capek. Ya, capek selalu ada. Tapi kalau kita lakukan dengan ihklas tak terasa capek kok.”

“Dan yang kita datangi nggak harus ke desa. Kebetulan yang kita kunjungi atau yang sering saya ajak ke desa. Karena memang kebanyakan mereka berasal dari desa. Beda dengan kita yang lahir di kota ini. Hahaha,” Yunus tertawa senang setelah melihat Handoko juga tertawa.

“Ring-ring,” suara sirine pabrik berbunyi menandakan jam pergantian shift bagi pabrik. Berarti juga menandakan jam pulang bagi pekerja kantor.

“Bagaimana? Ikut kan? Siip,” katanya setelah melihat Handoko menganguk. “OK kalau begitu, sampai nanti ya.. Saya harus mengecek dulu keadaan pabrik. Kita ketemu di lobby kantor. Ada beberapa teman yang juga mau ikut. Mandi saja di sini. Nggak bawa handuk? Pakai kertas koran saja. Hahaha,” candanya sambil menutup pintu kembali.

Handoko sekarang mengerti apa rahasianya Yunus. Dia ringan tangan. Tak segan membantu, tak berat melangkah untuk menjalin silaturahmi. Capek? Iyalah. Tapi saya yakin pasti dia juga punya resep mengalahkan kecapekan. “Kapan-kapan saya harus tanyakan lagi,” Handoko bersemangat.

Ok, saya bersiap datang. Siapa tahu ada jodohku di sana. “Kekasihku, tunggulah aku ya..” teriaknya senang. (TSA, 9/6/2009 subuh)

~~~
Kisah ini diangkat dari kejadian sebenarnya. Kisah ini bagian dari serial ‘1001 Jalan Mencari Cinta’. Artikel lainnya dapat dibaca di: www.enerlife.web.id/v10/category/my_enerlife/jalan-mencari-cinta/. Artikel menarik lainnya bisa dibaca di: www.enerlife.web.id

~~~
*Mochamad Yusuf adalah konsultan senior TI, pembicara publik, host radio, pengajar sekaligus developer website & software SAM Design. Dia aktif menulis dan beberapa bukunya sudah terbit. Beliau tinggal di pinggiran Surabaya. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di profil Facebooknya.