Itu rejeki yang luar biasa. Tak semua orang bisa memiliki hobi yang bisa jadi duit. Kebanyakan malah hobinya menghabiskan duit. Memang tetap menyenangkan. Tapi kalau jadi duit, kan jadi luar biasa?

Oleh: Mochamad Yusuf*

Suatu saat saya bertemu seorang teman lama. Teman sekolah menengah pertama. Memang kita baru bertemu secara tatap muka saat itu. Kita bertemu kembali karena Facebook. Terima kasih Facebook!

Namun meski baru bertemu kembali saat itu, ternyata dia mengikuti aktivitas saya lewat Facebook. Dan dia selalu membaca tulisan-tulisan saya di blog, yang saya share ke Facebook.

“Saya senang tulisanmu, Suf,” katanya. “Terima kasih,” jawabku. “Ini hanya hobi. Sesuatu yang aku sukai. Ya, seperti hobi memancing bagi orang lain,” lanjutku.

“Wah, hebat,” katanya, “Kenapa nggak ditekuni saja?” Saya diam. “Maksudmu kegiatan saya sepenuhnya hanya menulis?” akhirnya saya berkomentar.

“Ya.”

“Kalau itu sih bukan hobi. Tapi itu sudah jadi pekerjaan. Takutnya sudah nggak asyik lagi. Nggak bikin happy lagi. Menulis jadi dipaksa karena sudah ditarget.”

“Hahaha.”

“Kenapa tertawa?”

“Jawabanmu itu lho, Suf, persis perkataan temanku.”

Temannya yang dimaksud itu adalah seorang pengarang lagu. Atau lebih tepatnya pembuat jingle. Jingle ini biasanya sebagai lagu latar untuk iklan-iklan khususnya iklan radio. Atau sebagai lagu latar (scooring) CD interaktif company profile.

Dia melakukannya sebagai hobi. Dilakukannya saat sela-sela waktu luang. Biasanya di malam hari saat anak-anak sudah tidur. Atau saat bangun di dini hari sebelum subuh. Bahkan kerap saat tak bisa tidur. Daripada tak jelas aktivitasnya saat tak bisa tidur, dia membuat lagu/jingle.

Bahkan beberapa jingle memenangkan perhargaan. Yang jelas jingle-jingle iklannya banyak digunakan di iklan radio lokal. Di luar itu, dia mengarang lagu-lagu. Beberapa lagunya dibeli pengarang lagu di Jakarta. Setelah diaransemen ulang, lagu-lagu ini jadi best seller yang dinyanyikan penyanyi-penyanyi top Jakarta.

Dia melakukan ini karena memang punya kemampuan. Dia sudah belajar musik sejak di bangku SD. Ya, seperti orang tua-orang tua lain, dia dipaksa orang tuanya untuk ikut les. Banyak les yang harus diikuti, salah satunya les piano.

Meski dia tak terlalu suka dengan les piano ini, dia juga ikuti terus les ini. Mungkin karena memiliki bakat, dia tak kesulitan menguasai piano ini. Dia senang-senang saja kalau harus ikut konser. Dia senang kalau orang tuanya bisa bangga dan senang dengan prestasi ini.

Meski begitu, dia tak meninggalkan pelajaran sekolahnya. Bahkan nilai-nilainya bagus. Ini juga gara-gara diikutkan les. Les pelajaran sekolah. Dengan seabrek kegiatan ini, dia menjalani masa-masa sekolahnya.

Karena nilai-nilainya selalu bagus, dia tak kesulitan melanjutkan pendidikan lebih tinggi ke sekolah yang bagus. Yakni sekolah-sekolah favorit. Termasuk saat kuliah.

Selepas kuliah, karena lulusan perguruan tinggi top maka dia mendapat pekerjaan yang bagus. Berkarir di sebuah perusahaan multinasional dengan gaji dan fasilitas yang baik. Dan yang lebih penting dia menikmati pekerjaannya ini.

Saat teman saya bertemu dengannya, dia berseloroh, “Kok nggak ditekuni saja sih hobi kamu yang mengarang lagu itu?” “Nggak,” jawabnya. “Ini hobi. Kalau ditekuni berarti sudah bukan hobi lagi. Itu pekerjaan. Takutnya sudah nggak asyik lagi. Jadi beban, karena mungkin ditarget. Lagian pekerjaanku ini menyenangkan. Dan oke juga kok hasil materinya,” jelasnya gamblang.

Jawaban yang sama dengan jawaban saya inilah yang membuat teman saya tertawa.

“Kalian memiliki kesamaan,” katanya setelah menyelesaikan cerita pertemua dengan temannya yang pengarang lagu itu. “Apa?” tanya saya.

“Pertama, menjadikan hobi tetap sebagai hobi. Mempertahankan kegiatan hobi sebagai salah satu kegiatan yang menyenangkan.”

“Kedua, hobi kalian sama-sama bisa menjadi duit. Kalau teman saya bisa dapat duit dari penjualan lagu dan jinglenya. Sedangkan kamu, Suf, tulisan-tulisan itu menjadi buku yang bisa dijual. Atau kamu bisa membuat tulisan yang bisa jadi duit, misal menulis di media massa.”

“Itu rejeki luar biasa. Tak semua orang bisa memiliki hobi yang bisa jadi duit. Kebanyakan malah hobinya malah menghabiskan duit. Memang tetap menyenangkan. Tetap dapat menimbulkan kepuasan. Tapi membutuhkan biaya. Kamu sudah dapat duit, tapi tak mengeluarkan duit.”

“Hahaha,” saya tertawa dengan seloroh temam saya ini.

Tapi diam-diam saya menyetujui perkataan ini. Ya, ini sesuatu rejeki yang luar biasa. Memiliki hobi yang dapat menjadi uang. Dalam hati saya beryukur dengan ini semua. [TSA, 23/02/2012 malam]

~~~
Artikel ini bagian dari buku yang saya rencanakan untuk terbit. Rencananya ada 99 artikel yang berkaitan dengan rahasia rejeki. Untuk seri 1 sampai 10, anda bisa membaca secara lengkap di http://www.enerlife.web.id/category/rejeki/. Setelah seri itu, tak ditampilkan secara lengkap. Namun hanya setiap kelipatan seri 5 yang ditampilkan secara lengkap. Jadi pantau terus serial ‘Rahasia Rejeki’ ini.

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, pembicara publik, host radio, pengajar sekaligus praktisi TI. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya, http:// yusuf.web.id atau di Facebooknya, http:// facebook.com/mcd.yusuf .

4 thoughts on “Rahasia Rejeki (80): Rejeki Hobi Yang Menghasilkan

  1. Setuju banget nih,
    menjadikan hobi tetap menjadi hobi, gimana caranya biar stay disitu?
    Aku punya sebuah hobi yang setelah beberapa kali aku share ke orang semua menanyakan hal yang sama, untuk menjadikannya duit. Akunya sendiri pengen hobiku itu menghasilkan tapi nggak ngoyo.
    Ada saran kah mas?
    Tengkyu 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *