“Saya iri dengan ngoroknya Bapak,” katanya. “Lho, ada apa?” tanya Bapak keheranan. “Ya, saya iri Bapak begitu mudah tertidur. Bahkan seperti tidurnya nyenyak, sehingga ngoroknya keras.”

Oleh: Mochamad Yusuf*

Suatu saat teman saya, atasan sebuah perusahaan, uring-uringan. Dia kesal karena salah satu karyawan intinya sering telat ke kantor. Sebenarnya tak masalah datang siang, karena perusahaan itu perusahaan kreatif yang mengerjakan proyek.

Jadi mereka memang bisa kerja sampai malam kalau memang harus terpaksa mengerjakan proyek sesuai dengan deadline. Akibatnya mereka sering nglembur sampai larut malam atau dini hari. Sehingga mereka diberi kesempatan untuk datang ke kantor esoknya lebih siang.

Tapi hal itu tak masalah kalau tak bertemu dengan klien. Jadi masalah serius kalau sudah ada janjian meeting membahas proyek esok paginya. Tentu jadi malu kalau datang terlambat kan? Sekali dua kali, oke. Kalau sering?

Sering? Ya, karyawan yang satu ini memang hampir setiap hari terlambat. Nglembur atau tidak. Tapi memang normalnya, dia bekerja sampai larut malam sebagai konsekuensi.

Tapi tetap ada permasalahan kalau harus ketemu dengan klien. Makanya dia sering minta tolong project manager-nya untuk membangunkan. Ini yang membuat uring-uringan teman saya ini. Dia merasa tak seharusnya project managernya memiliki ‘job description’ seperti ini. Bangun pagi seharusnya jadi tanggung jawab masing-masing individu.

Usut punya usut, ternyata karyawan inti ini sering tak bisa tidur. Dia baru dapat tidur setelah mulai terdengar ayam berkokok alias mau subuh. Dia memiliki penyakit yang sering disebut sebagai insomnia.

Saya awalnya heran, bagaimana seseorang bisa tidak dapat tidur. Kebetulan saya juga tahu karyawan inti tersebut. Karena bagi saya, kalau kepala saya sudah menyentuh bantal, tiba-tiba sudah tidak sadar. Alias tertidur. Bangun-bangun sudah subuh. Saya memang gampang tertidur.

Tentang hal ini, saya teringat cerita Ibu saya yang sering diceritakan dalam berbagai kesempatan. Cerita itu tentang kondisi Bapak saya dan tetangga lama.

Dulu kita pernah tinggal di sebuah daerah dekat stadion Tambak Sari. Rumah kita jelek. Dindingnya hanya jalinan bambu. Istilah jawanya, ‘gedeg’. Hanya lantai dan bagian bawah tembok yang tersentuh semen. Maklum ayah hanya seorang sopir bemo, angkutan umum. [TPJ, 26/01/2012 isyak]


[dipotong]

~~~
Artikel ini bagian dari buku yang saya rencanakan untuk terbit. Rencananya ada 99 artikel yang berkaitan dengan rahasia rejeki. Untuk seri 1 sampai 10, anda bisa membaca secara lengkap di http://enerlife.web.id/category/rejeki/. Setelah seri itu, tak ditampilkan secara lengkap. Namun hanya setiap kelipatan seri 5 yang ditampilkan secara lengkap. Jadi pantau terus serial ‘Rahasia Rejeki’ ini.

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, pembicara publik, host radio, pengajar sekaligus praktisi TI. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya, http:// yusuf.web.id atau di Facebooknya, http:// facebook.com/mcd.yusuf .

4 thoughts on “Rahasia Rejeki (82): Tidur Nyenyak vs Insomnia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *