Tiba-tiba saya mengagumi mekanisme yang diatur oleh Tuhan. Apalagi ada sebuah rahasia rezeki di sini. Kejadiann ini merupakan rentetan kejadian yang saya alami sejak tadi pagi. Rentetan musibah!

Oleh: Mochamad Yusuf*

Setiap kali kita berharap dalam doa untuk dijauhkan dari segala musibah. Musibah hanya membuat kesengsaraan, kesedihan, kejengkelan, kerugian dan berkurangnya harta.

Namun bagaimana bila kita mendapat musibah? Apakah itu berarti Tuhan tidak mendengar doa kita? Apakah Tuhan ingin mengazab kita karena kita telah melakukan kesalahan?

Seminggu yang lalu saya berangkat ke kantor dengan tergesa-gesa. Iya, terburu-buru karena berangkat dari rumah lebih dari jadwal waktu yang diharuskan. Kalau tak cepat-cepat, bisa terlambat. Resikonya potong gaji.

Eh, sudah tahu berangkatnya terlambat, ternyata lalu lintas padat. Macet. Saya mulai putus asa. Namun kegigihan untuk selalu berusaha memaksa saya mengendarai motor di bahu jalan. Dengan lewat bahu jalan, relatif tak terlalu macet meski tak nyaman karena jalanan tak mulus.

Perasaan lega muncul saat masuk arteri jalan tol. Jalan ini memang sudah masuk jalan tol, karena menyambung ke jalan tol. Jadi jalannya lebar, mulus dan kanan kiri tak ada rumah karena dipagari. Bila sudah mencapai jalan ini, sudah tak ada kemacetan.

Tapi apa lacur? Di tengah jalan arteri itu tiba-tiba ban terasa kempes. Saya kurangi kecepatan untuk melihatnya. Astaga ban bocor!

Lemas sudah. Perasaan lega, karena ada rasa bisa tepat waktu masuk kantor, jadi sirna. Saya toleh ke kanan dan kiri. Sepi. Tak ada tanda-tanda tempat tukang tambal ban.

Dari sini ke ujung jalan arteri, masuk ke jalan umum, bisa sampai 2 km. Jadi selain terlambat, saya harus berolah raga dengan menuntun motor sejauh 2 km.

Untuk tak membuang energi, saya bertanya ke orang sekitar, di mana tukang tambal terdekat. Dikatakan ada di sebuah warung di bawah jembatan tol. Perkiraan saya itu di ujung jalan arteri. Bukan persis di bawah jembatan. Karena kalau itu, berarti dekat. Tak mungkin!

Saya tuntun ternyata memang benar. Ada warung. Warung itu di luar pagar jalan arteri. Ada di jalur hijaunya. Kawat pagar sepertinya dipotong untuk lewat. Tapi tak ada tempat tukang tambal ban.

Sambil terus menatap warung itu, saya tuntun terus motor saya. Ternyata ada seseorang yang memanggil saya lewat lambaian tangan. Terlihat seseorang membawa sekotak dan pompa manual. Ternyata memang ada tukang tambal, tapi tak seperti biasanya.

Tidak ada tanda/tulisan tukang tambal. Juga tak ada pompa mesin (kompressor). Tak ada juga peralatan yang diletakkan di luar. Orang yang lewat, pasti tak mengetahui kalau warung ini juga tempat tambal ban.

Sambil ditambal oleh tukangnya, saya merenung apakah saya adalah jalur rezeki buatnya? Kalau tak bocor di jalan tol, tak mungkin ada rezeki buatnya.

Tiba-tiba saya mengagumi mekanisme yang diatur oleh Tuhan. Apalagi ada sebuah rahasia rezeki di sini. Terlebih kejadian ini merupakan rentetan kejadian yang saya alami sejak tadi pagi. Sebuah peristiwa seperti ban bocor, tapi ini lebih parah. Kejadian seperti juga ban bocor itu yang bagi sebagian besar orang adalah musibah! [TSA, 06/06/2012 subuh]


[DIPOTONG]

~~~
Artikel ini bagian dari buku yang saya rencanakan untuk terbit. Rencananya ada 99 artikel yang berkaitan dengan rahasia rezeki. Untuk seri 1 sampai 10, anda bisa membaca secara lengkap di http://enerlife.web.id/category/rejeki/. Setelah seri itu, tak ditampilkan secara lengkap. Namun hanya setiap kelipatan seri 5 yang ditampilkan secara lengkap. Jadi pantau terus serial ‘Rahasia Rezeki’ ini.

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, pembicara publik, host radio, pengajar sekaligus praktisi TI. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya, http://yusuf.web.id atau di Facebooknya, http://facebook.com/mcd.yusuf .

2 thoughts on “Rahasia Rezeki (103): Beryukurlah Dapat Musibah, Karena Itu Rezeki

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *