Sejak awal memiliki ponsel, saya tak mau hanya sekedar menjadikan alat untuk komunikasi. Saya pikir sudah dibawa kemana-mana, tapi hanya fungsinya untuk telpon dan SMS. Buat apa?

Oleh: Mochamad Yusuf*

Apalagi kalau telpon itu banyak stand by-nya. Alias hanya bersiap terima telpon atau SMS. Buat apa membawa sesuatu yang jadi beban tapi tak begitu optimal buat kita? Apalagi kalau kita tak sedikit mengeluarkan uang untuk mendapatkan dan ‘menghidupinya’?

Setiap saya keluar rumah khususnya saat bekerja, ponsel selalu saya bawa. Maka saya tak ingin dia hanya sebagai tool. Alat. Tapi sebagai sobat kental atau asisten pribadi. Seseorang yang selalu menemani kita di manapun kita berada.

Dia harusnya bisa membantu menyimpan catatan kontak teman-teman atau saudara-saudara kita. Dia juga harusnya mengingatkan momen-mone istimewa seperti ultah saudara/sahabat, waktunya memperpanjang STNK dan lainnya. Atau mencatat sesuatu yang penting. Juga harusnya dia dapat menyimpan ide-ide kita. Atau membantu menampung semua pikiran, ide atau kritikan lewat tulisan-tulisan.

Dia juga harusnya menemani kita berolah raga. Dia juga membantu kita memberi petunjuk dalam perjalanan supaya tak tersesat atau terjebak kemacetan. Saat menunggu atau waktu di mana kita hanya bisa menunggu, maka dia harusnya bisa mengisi waktu kita. Misal: dengan bermain game. Atau kapan-kapan saat di malam hari saat kita belajar atau beraktivitas, dia bisa menemani kita dengan mendengarkan radio atau musik.

Saya lebih senang ponsel saya rusak karena kerja keras daripada awet namun sekedar hanya untuk telpon dan SMS. Kalau dia sudah bekerja keras sehingga rusak, maka dia sudah sangat berguna bagi kita. Kehadirannya sungguh sangat berarti bagi kita.

Karenanya saya sungguh heran, kalau ada orang dengan gampang menghilangkan kontak teman atau saudaranya. Seakan menyepelekan silaturahmi dengan sahabat atau kerabatnya. (Termasuk saya heran, bagaimana orang dengan mudahnya gonta-ganti nomor ponsel, sehingga memutuskan silaturahmi).

Biasanya ini terjadi karena mereka tak mengoptimalkan ponselnya atau ponselnya tak sanggup melakukan penyimpanan kontak dengan baik. Terlebih kalau satu profil menyimpan banyak data, misal: banyak nomor ponsel, email, alamat, foto, website, ulang tahunnya dan lainnya.

Kontak saya sejak memiliki ponsel, meski bergonta-ganti ponsel, masih tersimpan rapi. Kadang saking lamanya, ketika saya buka daftar kontak, saya harus mengingat-ingat bagaimana rupanya.

Saya tahu dia teman saya. Bahkan dulunya teman sekantor. Tapi saking lamanya, sampai lupa bagaimana wajahnya. Tapi saya tahu, saya senang bisa menyimpan kontaknya. Karena kalau mau menyambung silaturahmi dengannya, tinggal telpon atau SMS. Dan setelahnya pasti saya akan bisa mengingat kembali.

Saat ini daftar kontak saya sudah mencapai 2000-an.

Melihat begitu besar manfaat ponsel itu, terakhir-terakhir ini saya berpikir untuk membeli tablet. Anggap saja ponsel dengan layar lebar. Jadi tulisan-tulisan di layar bisa lebih terbaca. Kalau mengetik bisa lebih mudah. Kalau main game, atau melihat film lebih lega dan nyaman.

Namun tablet itu tetaplah harus memiliki fungsi dasar ponsel. Yakni bisa untuk terlpon dan SMS. Karena kalau tidak, buat apa saya bawa kesana kemari, kalau tidak saya pakai?

Pengalaman saya kalau hanya untuk main game atau lihat film, tak selalu saya lakukan. Fungsi hiburan di ponsel hanya sekali-kali saya lakukan, misal sedang menunggu. Itu pun kadang menunggu saya gunakan untuk menyapa menyambung silaturahmi dengan sobat dan kerabat dengan call atau berSMS.

Permasalahannya tablet yang ingin saya miliki haruslah memiliki fungsi call dan SMS, kebanyakan merk lokal. Saya masih ragu dengan kualitas dan after salesnya. Banyak keluhan di internet tentang kualitas dan penangangan after sales-nya kurang baik. Dalam 1 tipe dengan merk sama, bisa permalahannya berbeda-beda. Ini menunjukkan standar kualitas yang tak sama.

Bagaimanapun menurut pengalaman saya, sebagai barang elektronik yang terdiri dari hardware dan software, pasti suatu saat ada yang ngadat. Kalau kualitas dan after salesnya kurang baik, hanya membuang-buang uang saja. Jadi tetap memerlukan after sales, meski hanya sekedar upgrade software.

Sedangkan merk global, jarang yang dilengkapi dengan fungsi call dan SMS. Hanya beberapa merk seperti ZTE, Huawei dan Samsung yang memilikinya. Sayangnya harganya mereka cukup mahal. Tentu saya maklumi kalau harganya dimahalkan. Kalau murah, tentu saja akan menggerogoti pangsa ponselnya. Orang-orang akan berpikir daripada beli ponsel yang layarnya kecil kenapa tidak sekalian tablet kalau harganya sama?

Lalu apa yang akan saya lakukan sekarang?

Ya, menunggu merk-merk global turun harga karena usia produk yang semakin menua. Biasanya makin lama produk sejak diluncurkan, harganya semakin turun. Atau menunggu merk-merk lokal dengan kualitas dan after sales yang semakin membaik.

Jadi, sekarang menunggu dan melihat… wait and see! Atau Anda punya saran? [TSA, 03/07/2012 subuh]

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, pembicara publik IT, host radio, pengajar sekaligus praktisi TI. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya, http://yusuf.web.id atau di Facebooknya, http://facebook.com/mcd.yusuf .

1 thought on “Mengapa Saya Harus Membeli Tablet PC

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *