Anehnya dia malah menolak tangan saya. Dia berkata, ”Bukan. Saya bukan orang sukses. Kalau misalkan saya dianggap sukses, maka ucapkan sukses itu pada orang tuaku.” Saya tertegun dengan kriterianya ini.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Banyak orang berharap ingin sukses. Orang tua berdoa agar anaknya sukses. Para guru mendoakan murid-muridnya juga sukses. Karenanya buku-buku tentang sukses laris. Seminar-seminar tentang sukses selalu ramai.

Tetapi sebenarnya apa sukses itu?

Kalau ditanya pada sebagian besar orang, maka jawaban tentang sukses hampir seragam.

Sukses itu kaya. Sehingga bisa memiliki rumah besar dan bagus di perumahan elit. Atau memiliki mobil baru dan bagus. Gadget yang dibawa, ponsel atau tablet, bermerk dan berharga mahal. Di hari libur bisa jalan-jalan ke mall sambil makan di restoran siap saji. Atau bila liburannya panjang, berlibur ke tempat wisata seperti Bali. Bahkan bisa juga ke luar negeri.

Jawaban lain sukses itu memiliki kedudukan dan kekuasaan.

Bila dia pegawai negeri maka dia menjabat sebuah kedudukan, misal: lurah, camat, kepala dinas dan lainnya. Kalau dia pegawai swasta, dia menjadi manajer, direktur atau direktur utama. Dengan kekuasaannya ini memiliki pengaruh pada pegawai yang posisinya di bawah, bisa puluhan, ratusan bahkan ribuan orang.

Karena ukuran seperti ini, kadang kita tak melihat bagaimana proses pencapaian itu. Yang dilihat hasilnya, yakni kaya dan berkedudukan. Tak peduli bagaimana mereka mendapatkannya. Apakah pakai jalan kerja keras, korupsi dan uang suap, melakukan teror dan lainnya. Tak perlu dilihat.

Bicara tentang sukses ini saya teringat seorang teman. Saya bertemunya dengan posisi sukses seperti ukuran umum: kaya dan berkuasa. Karena lama tak bertemu dan saya tahu bagaimana dia dulunya, saya ulurkan tangan dan mengucapkan, “Wah, selamat ya. Hebat. Kamu sekarang sudah termasuk orang sukses.”

Anehnya dia malah menolak tangan saya. Dia berkata, ”Bukan. Saya bukan orang sukses. Kalau misalkan saya dianggap sukses, maka ucapkan sukses itu pada kedua orang tuaku. Saya bisa menjadi seperti ini karena jasa dan usaha-usaha yang dilakukan kedua orang tuaku.”

Saya tertegun dengan kriteria baru tentang sukses ini. “Jadi apa sebenarnya ukuran sukses bagimu? “ tanya saya.

“Ukuran sukses bagi saya adalah bila saya mendidik anak-anak saya menjadi orang yang sholeh. Yakni orang yang beriman dan menjalankan syariat agama dengan benar. Juga menjadikan dia berhasil pada bidang pekerjaannya. Kalau dia jadi pilot, maka dia pilot yang baik. Kalau dia jadi pemusik, dia pemusik yang baik. Kalau dia pengusaha, maka dia adalah pengusaha yang baik. Dan seterusnya.”

“Karena itu bukan saatnya sekarang kamu menyalami aku tentang kesuksesanku. Datanglah ke aku beberapa puluh tahun lagi, saat anak-anakku yang masih kecil sekarang sudah besar. Lihat bagaimana mereka setelah besar tadi. Apakah saya sesukses kedua orang tuaku mendidik aku atau tidak. Saat itu aku akan terlihat sebagai orang sukses atau tidak.”

Wah, boleh juga ukuran kesuksesan yang ditetapkannya. Dengan begini, dia akan mempersiapkan dengan sungguh-sungguh generasi penerusnya. Dan ini adalah sebuah proses yang panjang, banyak tantangan dan hambatan di sana-sini.

Seusai bersua dengannya, saya diam. Saya tak tahu apakah ukuran kesuksesan ini akan saya pakai untuk diriku. Entah. Karena itu sesuatu yang berat.

Kalau Anda, apa ukuran kesuksesan bagi Anda? [TSA, 3 Ramadhan 1433H / 22 Juli 2012M subuh]

~~~
Serial “Obrolan di Bawah Rindangnya Cemara” ini adalah janji saya di awal bulan puasa 2012 untuk membuat sebuah kegiatan yang bermanfaat dan berbeda dengan Ramadhan-Ramadhan saya yang lain. Yakni membuat sebuah tulisan setiap harinya selama bulan Ramadhan. Semoga bisa! Amin.

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, pembicara publik, host radio, pengajar sekaligus praktisi TI. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya, http://yusuf.web.id atau di Facebooknya, http://facebook.com/mcd.yusuf .

1 thought on “Obrolan di Bawah Rindangnya Cemara (3): Ukuran Lain Kesuksesan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *