Secara perlahan saya sendok demi sendok. Hmm, memang nikmat sop sirip ikan Hiu ini. Saya tahu meski makanan ini sungguh lezat, saya akan berpikir ribuan kali sebelum membelinya dengan uang sendiri.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Makan untuk hidup atau hidup untuk makan? Hehehe. Yang jelas orang hidup perlu makanan. Sejak lahir, bahkan sejak masih di kandungan seorang manusia perlu makanan. Dia baru berhenti makan setelah mati.

Tentu selama hidup berbagai jenis makanan telah dilahapnya. Makanan yang dimakan biasanya terkait dengan kebudayaan, tempat tinggal dan agamanya. Misal: orang Indonesia akan banyak makan nasi, sedang orang Papua akan banyak makan sagu. Orang Amerika akan banyak makan roti atau terkait dengan gandum dan sebagainya.

Kebiasaan makanan ini mempengaruhi selera makanan. Meski begitu, bagaimanapun makanan juga bersifat universal. Yang terasa lezat bagi orang Jawa, bisa terasa lezat juga bagi orang Amsterdam. Maka berbahagialah orang yang memiliki kesempatan melakukan perjalanan keluar dari daerahnya. Entah daerah lain masih senegara, bahkan ke luar negeri.

Kesempatan melakukan perjalanan ke luar daerah, akan memberikan kesempatan padanya mencoba makanan yang tak biasa dimakan atau susah didapatkan di daerah asalnya. Maka makanan ini sering menjadi makanan khas yang tak ada di daerah lain. Misal: lontong balap yang banyak ditemukan di Surabaya dan sekitarnya, maka akan susah dicari di luar Surabaya dan sekitarnya. Maka bila ada orang yang tinggal di luar Surabaya dan sekitarnya, bila datang ke Surabaya bisa mencoba lontong balap ini.

Dari pengalaman makanan yang telah dinikmati selama hidup, maka ada beberapa makanan yang dapat dikatakan terlezat dalam hidupnya. Kalau hal itu ditanyakan ke beberapa orang, maka akan banyak jawabannya.

Seperti penasarannya Umar bin Khattab terhadap makanan terlezat yang telah dimakan oleh Nabi Muhammad. Maka suatu ketika setelah Nabi Muhammad telah meninggal, datanglah Umar ke rumah Hafsah. Dia adalah adik Umar yang juga istri Nabi Muhammad.

“Sebutkan makanan apakah yang terlezat, yang pernah dimakan oleh Nabi SAW di rumahmu?” tanya Umar. Hafshah menjawab, “Roti yang terbuat dari tepung kasar lalu dicelupkan ke dalam kaleng berisi minyak. Kami memakannya ketika masih panas, kemudian dilipat menjadi beberapa lipatan.”

Ternyata makanan terlezat beliau, bukanlah makanan yang mewah dan mahal. Kalau saya ditanyakan dengan pertanyaan yang sama, ‘makanan terlezat apa yang pernah saya rasakan?’ maka saya memiliki jawaban itu.

Saya sendiri beruntung telah melakukan beberapa kunjungan ke luar daerah yang saya tinggali. Saya pernah makan di sebuah tempat di tepi pantai di pulau Bali yang terkenal akan keindahan dan makanan lautnya. Kita dapat memilih ikan, atau makanan lautnya di keranjang-keranjang yang ada. Ikan dan makanan laut ini masih segar hasil tangkapan nelayan setempat. Lalu kita bisa meminta dimasak seperti apa. Lalu kita makan dengan penerangan lampu yang temaram, langit yang bertabur bintang dan alunan dentuman ombak. Semilirnya angin pantai itu menambah suasana sedapnya menyantap makanan tersebut.

Kenikmatan bersantap di pinggir pantai itu memang harus dibayar cukup mahal. Tapi kita pikir toh tidak setiap hari ke sini, jadi tak apa kalau sekali-kali. Jadi apakah makanan yang saya santap di pantai itu yang terlezat dalam hidup saya? Bukan.

Saya pernah mendapatkan undangan makan di sebuah restoran Cina mewah yang berada di sebuah hotel bintang 5. Salah satu hidangannya adalah semangkuk yang berisi olahan sirip ikan hiu. Sebuah makanan yang sangat mahal. Untuk satu mangkok itu, biaya yang harus dikeluarkan (waktu itu kira-kira sepuluh tahun lalu) adalah Rp. 150.000. Karena saya tahu makanan itu sungguh mahal, maka saya mencoba menikmati dengan tak terburu-buru.

Secara perlahan saya sendok demi sendok. Saya nikmati dengan mengunyah secara perlahan-lahan. Hmm, sungguh nikmat sop sirip ikan Hiu ini. Di luar khasiatnya yang katanya bisa ini itu, memang makanan ini sungguh lezat. Saya tahu saya akan berpikir ribuan kali sebelum saya membeli makanan ini dengan uang sendiri.

Tapi apakah itu jadi makanan terlezat saya? Tidak.

Entah dalam perjalanan, memberikan atau mengikuti seminar, saya akan bersentuhan dengan makanan hotel. Ada berbagai tingkatan hotel yang pernah saya datangi. Mereka memiliki makanan yang istimewa yang disajikan dari koki pilihan baik orang lokal atau asing. Semua makanannya enak-enak. Sangat lezat. Dan yang saya rasakan paling lezat adalah bubur ayam Hotel Indonesia (dekat bundaran HI Jakarta) sebelum dirobohkan untuk dibangun kembali. Bubur ayam ini hanya disajikan saat sarapan.

Apakah tak ada makanan dari hotel-hotel tersebut yang terasa lezat? Ataukah bubur ayam Hotel Indonesia itu yang saya bisa rasakan terlezat? Tidak juga.

Saya juga seringkali mendatangi undangan pernikahan baik skala rumahan, gedung pertemuan, hall sampai hotel berbintang lima. Makanan yang disajikan adalah makanan istimewa yang dapat disajikan oleh tuan rumah (keluarga mempelai). Memang makanannya sungguh sedap. Tapi saya tak meresakan ada yang terlezat di sini.

Saya sendiri memang suka makan (mungkin karena itu tubuh saya agak melar, hehehe). Setiap ada kesempatan, saya mencoba restoran/warung yang dikatakan memiliki menu yang terlezat di kota. Entah itu soto ayam, soto daging, nasi bebek, bakso dan lainnya. Memang benar apa yang dikatakan mereka, bahwa makanan yang disajikan sungguh sedap. Jadi pantas saja banyak orang menyukainya sehingga mereka kembali datang menikmatinya kembali. Jadi pantas kalau warung/restoran itu selalu ramai.

Apakah di antara makanan-makanan itu ada makanan terlezat yang pernah rasakan? Tidak.

Lalu makanan terlezat apa yang saya rasakan kalau begitu?

Suatu ketika saat bulan Ramadhan seperti sekarang ini, saya diajak seorang teman untuk shalat Maghrib di masjid Al Falah Surabaya. Ketika itu saya masih duduk di bangku SMP. Awalnya saya heran, kenapa harus shalat Maghrib begitu jauh dari rumah? Ya, jaraknya sekitar 3 km dari rumah. Tapi karena dia mengajak, saya hanya dibonceng, maka tak ada salahnya saya iyakan ajakannya.

Setelah berwudhu, kita masuk ke masjid. Karena penuh, kita hanya duduk di teras. Saya lihat di dalam, jamaah sudah membentuk barisan (shaft). Saya hitung sudah banyak shaft yang terbentuk. Saya bimbang, apakah menunggu di teras atau sekalian masuk dalam shaft. Saya tanyakan ke teman yang mengajak karena dia pernah ke sini sebelumnya. Dia bilang kita tunggu saja di sini.

Begitu adzan Maghrib dikumandangkan, kita berbuka dengan teh hangat yang sudah kita ambil sebelumnya. Ternyata setelah teh habis, di dasar gelas ada kurmanya. Setelah membatalkan puasa, kita cepat-cepat masuk masjid. Karena kalau tidak, maka tidak kebagian tempat. Meski begitu, kita tetap tersisa di shaft terakhir.

Setelah shalat Maghrib, para jamaah tak kunjung beranjak dari duduknya. Aneh saya pikir, karena dzikir dan doa sudah dipanjatkan. Bahkan saya lihat jamaah di shaft-shaft depan sudah beranjak keluar masjid. Ternyata kita menunggu dapat kupon takjil. Takjil adalah makanan gratis yang disediakan oleh orang lain, kalau di sini berarti masjid Al Falah.

Setelah dapat kupon, kita keluar mencari tempat penukaran kupon takjil. Sebelumnya kita cari sandal dulu, karena tempat penukarannya di luar masjid. Persisnya di belakang pagar masjid belakang. Kita mulai antri, lebih tepatnya berebut, untuk menukarkan kupon. Takut kehabisan takjil.

Setelah takjil didapat, kita cari tempat untuk makan. Karena mungkin sudah jamahan terakhir, saat kita toleh semua tempat sudah penuh. Tanah pelataran kosong pun juga dipenuhi jamaah yang hanya duduk berjongkok. Kita cari-cari tempat, akhirnya kita pasrah pada sebuah tempat di tepi saluran air (got).

Got ini di depan sebuah rumah di belakangnya masjid Al Falah. Gotnya cukup lebar, dan tepinya dibuat miring. Jadi kalau duduk berjongkok, harus berusaha jangan sampai terdorong masuk ke got. Istilah jawanya, ‘njlungup’. Tempatnya gelap, dan banyak nyamuknya. Mungkin karena gotnya tak mengalir lancar sehingga jadi sarang nyamuk.

Kita buka takjilnya. Sebuah nasi bungkus. Bungkusnya adalah kertas minyak coklat dan sepotong daun pisang di dalamnya. Nasinya sedikit, mungkin hanya sekepalan. Menunya nasi campur. Jadi berisi nasi, sedikit mie, sepotong tahu dimasak Bali dan sepotong daging. Ada sesendok kecil sambal di ujung.

Saya pikir pasti tak kenyang dengan makan nasi bungkus ini (kelak saya tahu bahwa nasi bungkus ini kerap dijuluki sebagai sego (nasi) kucing, karena menu sedikit yang biasa diberikan ke kucing peliharaan). Di kegelapan itu saya makan dengan tangan, karena tak disediakan sendok. Sesuap demi sesuap saya masukkan sego kucing ke tenggorokan.

Ya, ampun meski makanan ini sederhana dan tempatnya menyedihkan seperti itu, saya sungguh menikmati makanan ini. Makanan yang paling lezat yang pernah saya rasakan saat itu. Bahkan seteleh berpuluh-puluh tahun sesudahnya, makanan itu tak terkalahkan kelezatannya. Kelezatannya sampai saat ini begitu membekas di memori otak saya. Sungguh kelezatannya masih bisa saya ingat dan rasakan sampai sekarang ini.

Dan ajaibnya setelah selesai makan itu, perut saya terasa kenyang. Bagaimana bisa makanan itu menjadi lezat dan mengenyangkan? Entahlah. Yang jelas, saya tidak dapat mengulangi keesokan harinya. Karena teman saya tak mengajaknya kembali. Dan saya tak memiliki kendaraan untuk ke sana. Saya memilih ke masjid dekat-dekat rumah.

Kadang-kadang saya ingin merasakan kembali kenikmatan makanan itu. Beberapa kali saya coba berbuka di masjid dengan menu seperti itu, tapi tak pernah merasakan selezat makanan yang dulu. Ternyata bagi saya makanan terlezat dalam hidup saya, bukanlah makanan termahal, termewah yang dibuat oleh koki terkenal dan dimakan di tempat yang nyaman. Makanan terlezat saya adalah sego kucing dan makan di pinggir got. Hehehe.

Kalau Anda, makanan terlezat apa yang pernah Anda rasakan? [TSA, 7 Ramadhan 1433H / 26 Juli 2012M subuh]

~~~
Serial “Obrolan di Bawah Rindangnya Cemara” ini adalah janji saya di awal bulan puasa 2012 untuk membuat sebuah kegiatan yang bermanfaat dan berbeda dengan Ramadhan-Ramadhan saya yang lain. Yakni membuat sebuah tulisan setiap harinya selama bulan Ramadhan. Semoga bisa! Amin.

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, pembicara publik, host radio, pengajar sekaligus praktisi TI. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya, http://yusuf.web.id atau di Facebooknya, http://facebook.com/mcd.yusuf .

2 thoughts on “Obrolan di Bawah Rindangnya Cemara (7): Makanan Terlezat dalam Hidup

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *