Karin Black, sedan Toyota Corona Absolute 2.0 saya. (dok.pribadi)
Karin Black, sedan Toyota Corona Absolute 2.0 saya. (dok.pribadi)
Mungkin benar riset sapi di Inggris itu. Suatu waktu saya sekeluarga melakukan perjalanan dari Kediri ke Malang lewat Batu. Jalannya berliku dan naik turun di lereng gunung. Kanan kiri hutan/jurang.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Hari Minggu kemarin saya menonton film ‘Toy Story’. Kali ini seri ketiga. Sepertinya ini seri penutup dari sequel Toy Story. Tapi entahlah… kalau nanti pertimbangan komersial harus memunculkan kembali lanjutan dari film ini. Film dengan dukungan Steve Jobs saat nganggur dari Apple ini memang box office. Banyak penggemarnya dan selalu ditunggu kehadirannya.

Film ‘Toy Story’ ini bercerita tentang kehidupan, eh apa ya yang tepat, para mainannya si Andy. Andy adalah seorang anak kecil berumur sekitar 7 tahunan. Ya, dia seorang manusia, eh tentu saja, yang memiliki banyak mainan. Di antaranya si Woody, mainan koboi yang ada tarikannya di punggungnya. Kalau ditarik akan keluar suara rekaman. Ada Buzz, mainan astronot yang bertugas menjaga keamanan Galaxy. Dan masih banyak lagi termasuk pasangan legendaris boneka Barbie dan Ken.

Saat tak ada manusia, mainan ini hidup dan berbincang dengan mainan lainnya. Mereka juga bisa sedih, gembira, gundah, was-was, berpikir dan membuat ide untuk memecahkan sebuah masalah. Mereka ternyata bangga dan setia pada tuannya, yakni si Andy. Dan mereka senang kalau diperhatikan tuannya dan diajak bermain-main olehnya.

Film ini mengingatkan saya pada film lain ‘Night at the Museum’. Film ini juga menceritakan ‘kehidupan’ lain, yakni para penghuni museum seperti patung pahlawan Theodore Roosevelt, diaroma Indian, mumi Mesir dan lainnya. Saat malam hari mereka hidup. Mereka bisa berkelahi, jatuh cinta, berpesta dan lain sebagainya.

Kedua film ini seakan menegaskan bahwa benda mati bisa juga seperti benda hidup, saat tak ada manusia yang melihat tentunya. Jadi tiba-tiba saya berpikir jangan-jangan benda kita yang tiba-tiba hilang padahal sebelumnya kita yakin berada di suatu tempat, karena dia ‘hidup’ dan berjalan. Atau sebaliknya kadang kita temukan barang yang kita cari-cari di tempat yang jelas, padahal sebelumnya kita sudah mencarinya kemana-mana sampai ke tempat-tempat tersembunyi sekalipun. Apakah dia ‘hidup dan jalan’?

Kalau kita baca kitab suci dan hadits, sebenarnya benda-benda mati juga ‘hidup’. Misalkan: saat penciptaan bumi, Tuhan menawarkan gunung untuk mengemban amanat menjaga bumi. Tapi bumi menolak. Lalu ditawarkan ke awan, awan juga menolak. Dan seterusnya sampai ke manusia. Manusialah yang bersedia menerima amanat itu, meski kemudian sebagian manusia tak pintar mengemban amanat.

Sebuah riset di Inggris melihat produktivitas 2 kelompok sapi perah dengan perlakuan beda. Kelompok yang pertama, sapi-sapinya diberi nama, diajak ngobrol dan diperlakukan seakan-akan manusia. Sedangkan kelompok lainnya sapi-sapinya diperlakukan seperti biasa, sebagai binatang. Hasilnya berbeda jauh. Kelompok sapi yang ‘diorangkan’ ternyata hasil susunya lebih banyak dari kelompok sapi dengan perlakuan ‘binatang’.

Karena itu Nabi Muhammad meminta kita memberi nama barang-barang kita.

Rasulullah memiliki seekor unta yang diberi nama ‘Qaswa’. Ada keledai yang diberi nama ‘Ya’fur’. Beliau memiliki 2 ekor kuda, seekor kuda perang berwarna coklat terang diberi nama ‘Al Murtajiz’. Dan seekor kuda Hitam yang diberi nama ‘As Sakbu’ yang berarti “jago berlari”.

Selain benda hidup seperti binatang, Rasulullah juga memberi nama untuk benda mati yang dimiliki. Beliau memiliki mangkuk minum/cawan diberi nama ‘Ar Rayyan’. Ada ‘Al Gharra’ untuk mangkuk makan. Beliau memiliki sebuah tas anyaman yang dibawa untuk menyimpan makanan maupun benda benda kecil saat berdakwah ataupun saat berperang, yakni ‘Al Kafur’. Dan sebuah pedang mashur bernama ‘Dzul Faqqar’ yang selalu dibawa saat berperang.

Saya sendiri sejak dulu juga memberi nama barang-barang saya. Tapi saya membatasi hanya barang yang bernilai mahal. Katakanlah di atas Rp 100.000. Dan juga barang yang selalu saya pakai atau sering digunakan. Kalau semua barang yang saya miliki saya beri nama, takutnya saya lupa namanya saking banyaknya. Karena Rasulullah sendiri juga memberi nama pada baju-bajunya. Kalau saya melakukannya, saya pasti kewalahan. Nabi cuma memiliki 2 baju…, lha saya? Hehehe.

Barang pertama yang saya beri nama adalah jam tangan yang saya beli saat sunat di waktu kelas 5 SD. Barang mewah dan mahal pertama yang saya miliki secara pribadi. Jam tangan otomatis, tenaga dari gerakan tangan tanpa baterai, bermerk Citizen ini saya namakan ‘Sony’. Sony ini plesetan sunnah, karena saya melakukan kewajiban sunat.

Lalu ada sepeda motor dan mobil. Yang sepeda motor saya beri nama cowok. Honda Kharisma saya beri nama ‘Kris Kros’. Sedangkan Honda Supra Fit adalah ‘Vito’. Tapi untuk Yamaha Mio saya beri nama cewek: ‘Mia’. Sedangkan untuk mobil saya beri nama cewek. Suzuki Katana saya beri nama ‘Katie’, sedangkan Toyota Corona Absolute saya beri nama ‘Karin’.

Mungkin ada benarnya memberi nama pada benda yang kita miliki. Mungkin benar riset sapi di Inggris itu. Suatu waktu saya sekeluarga melakukan perjalanan dari Kediri ke Malang lewat Batu. Perjalanan ini menempuh jalan berliku dan naik turun di lereng gunung. Kanan kiri bisa hutan atau jurang. Jarang ada rumah penduduk. Bahkan juga jarang kendaraan yang lewat.

Dalam perjalanan itu tiba-tiba mobil yang kita tumpangi seperti mau mogok. Saya panik. Kalau mogok di sini, akan susah mencari bantuan. Sambil mengelus-ngelus pilar depan antara kaca depan dan samping saya berkata, “Karin, please jangan mogok dulu kamu. Kalau kamu mogok di sini, kita akan susah. Mogoklah kamu nanti setiba di tempat tujuan.”

Sambil berkata ini saya terus mengemudi. Anehnya mobil tak mogok lagi. Dan sampailah kita ke tempat tujuan, yakni di rumah kakak di Batu Malang. Lalu saya cek mesinnya. Ya terasa tak ada apa-apa, wong saya juga nggak tahu mesin. Dan setelah itu ya lancar sampai kembali ke Surabaya. Meski begitu, ketika ada kesempatan saya bawa ke bengkel untuk dicek dan diperbaiki.

Rumah yang saya tempati saya beri nama Vica. Jadi setiap kita masuk rumah tetap bersalam meski tahu rumah kosong. Kita akan bilang, “Assalammu alaikum Vika.” Atau di saat lain, saat saya tinggal anak saya yang kecil, Zelda, saya akan menyentuh tembok kamar tamu sambil bilang, “Titip Zelda ya Vica. Jaga dia, jangan buat dia takut.”

Lalu ada ponsel dan notebook yang sudah pasti selalu saya beri nama. Karena bagi saya ponsel dan netbook seperti teman karib. Karena kemana-mana selalu ikut, seakan-akan menjadi sobat kental. Ponsel Sony Ericsson X8, saya beri nama Shakira. Saya memang tak repot untuk mencari nama untuk ponsel ini. Karena nama Shakira memang nama kode resmi (name code) yang diberikan pabriknya untuk tipe ini, E15i. Lalu ada Diana untuk Samsung Chat C3322. Sobat kental saya yang lain adalah netbook Asus EeePc 1215B yang saya beri nama Ezrina. Mereka selalu bersama saya untuk selalu berkreativitas.

Dan masih banyak barang-barang lain seperti flashdisk, USB modem, mp3 player, kamera, mesin cuci dan lain-lain. Ya, kadang saya juga lupa namanya. Tapi yang jelas kalau saya pakai, kadang saya elus-elus seakan benda hidup dan mengajaknya bicara. Saya tahu, meski dia benda mati dia sudah sangat berjasa bagi saya. Sehingga sepatutnya saya memperlakukan seperti manusia dan berterima kasih pada mereka.

Apakah Anda juga memberi nama pada benda-benda milik Anda? [TSA, 8 Ramadhan 1433H / 27 Juli 2012M subuh]

~~~
Serial “Obrolan di Bawah Rindangnya Cemara” ini adalah janji saya di awal bulan puasa 2012 untuk membuat sebuah kegiatan yang bermanfaat dan berbeda dengan Ramadhan-Ramadhan saya yang lain. Yakni membuat sebuah tulisan setiap harinya selama bulan Ramadhan. Semoga bisa! Amin.

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, pembicara publik tentang IT, host radio, pengajar sekaligus praktisi IT. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya, http://yusuf.web.id atau di Facebooknya, http://facebook.com/mcd.yusuf .

5 thoughts on “Obrolan di Bawah Rindangnya Cemara (8): Memberi Nama Untuk Benda Mati

  1. nama benda-bendanya mengingatkan saya akan sepeda motor supra X 125R kesayangan saya “Supra Satria” plesetan dari film favorit “DB” (Super saiya) 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *