(ref: sxc.hu)
(ref: sxc.hu)
Peristiwa besar di Ramadhan ini adalah sebuah ujian yang sungguh sangat berat. Saya diberi sakit yang tingkatannya kata beberapa orang sedikit di atas kematian. Begitu berat sehingga kita terpukul.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Sudah puluhan Ramadhan, alhamdulillah, sudah saya lalui. Bulan yang dikatakan bulan penuh berkah ini bagi saya banyak memiliki makna. Tak hanya sekedar saatnya berpuasa setiap hari selama sebulan. Tapi banyak peristiwa besar dan penting yang hadir di bulan Ramadhan yang mulia ini.

Waktu kecil dulu saat bulan puasa tiba, rumah saya harus menjadi ‘mushalla dadakan’. Entah apa yang menjadi motif Bapak menjadikan rumah kita menjadi mushalla untuk shalat tarawih. Dari kamar tamu, garasi, kamar tengah sampai kamar tidur semua jadi mushalla. Yang tidak dipakai hanya kamar tidur anak-anak, dapur dan kamar mandi, tentu saja. Jadi keseluruhan rumah menjadi mushalla.

Mungkin niat Bapak dulu menjadikan rumah karena tak ada masjid/mushalla yang dekat dengan perkampungan kita. Tapi kalau saya pikir sekarang, keadaan dulu ya sama dengan sekarang. Tak ada lagi tambahan masjid/mushalla dekat rumah. Jadi mungkin memang tujuannya Bapak mulia, lebih membuat para tetangga lebih rajin shalat tarawih. InsyaAllah seperti itu.

Yang jelas, jamaah ‘mushalla dadakan’ selalu penuh. Mungkin karena selalu ada takjil. Jadi setiap selesai shalat tarawih, semua dapat takjil. Bukan nasi memang. Tapi hanya sekedar kue atau buah. Karenanya saya, yang masih anak-anak dan teman-teman sangat menunggu selesainya tarawih. Kita berebut untuk dapat takjil. Jadinya saya dan teman-teman sangat senang sekali dengan bulan Ramadhan ini. Suasananya begitu membahagiakan.

Diwaktu dewasa setelah menikah, peristiwa besar lain adalah semua anak saya lahir di bulan Ramadhan. Anak pertama saya, Muhammad Zidan Falah Ramadhan, lahir di bulan Ramadhan. Bahkan Zidan, anak laki-laki saya ini, lahir di hari Jumat.

Karena itu, saya berharap anak kedua juga lahir di bulan Ramadhan. Bahkan ketika diketahui jenis kelaminnya perempuan, saya sudah menyiapkan namanya, ‘Ramadhani’. Nama yang sama dengan artis cantik yang sekarang menikah dengan anaknya konglomerat, Nia Ramadhani.

Tapi ternyata Zelda malah lahir di hari yang istimewa. Saat itu di tahun 2006, ada perpecahan penentuan 1 Syawalnya. Golongan Muhammadiyah jauh hari sebelumnya sudah menentukan tanggal 23 Oktober. Sedangkan kelak NU dan pemerintah menentukan lebaran pada esoknya yakni 24 Oktober.

Lalu Zelda lahir pada tanggal 23 Oktober. Jadi kalau mengikuti ketentuan pemerintah, maka Zelda lahir di bulan Ramadhan. Sedangkan kalau mengikuti penanggalan Muhammadiyah maka Zelda lahir di hari kemenangan, Idul Fithri.

Saya sudah siap memberi nama ‘Ramadhani’, tapi karena pertentangan penentuan ini saya jadi ragu. Kalau memberi nama ‘Ramadhani’ seakan pro NU, tapi kalau saya beri nama Fithri sepertinya pro Muhammadiyah. Maka supaya lebih netral, nama-nama itu saya tanggalkan. Anak perempuan saya ini, saya beri nama Zaskia Zelda Yafi Azzahra.

Peristiwa besar lain di bulan Ramadhan ini adalah sebuah ujian yang sungguh sangat berat. Saya diberi sakit yang tingkatannya kata beberapa orang sedikit di atas kematian. Begitu berat, sehingga keluarga saya, dan saya tentu saja, begitu terpukul.

Sampai-sampai seakan saya memiliki pertanyaan bagi Tuhan, “Kenapa saya?” Kenapa bukan yang lain saja? Bukankah ada orang yang lebih ‘merugikan’ bagi orang lain, akhlaknya yang lebih ‘menyengsarakan’ dan lainnya yang tidak mendapat penyakit itu?

Pertanyaan ini muncul karena penyakit ini penyakit langka. Hanya ditemukan 1 dari 100.000 kejadian. Selain itu penyakit ini masih misteri. Belum ditemukan penyebabnya dan bagaimana obatnya. Tapi sejak awal saya pasrah. Memang saat pertama yang saya bayangkan adalah bagaimana masa depan anak-anak.

Begitu parahkah sakit saya?

Ya. Saya mengalami sakit yang menyebabkan kelumpuhan seluruh badan. Dari leher ke bawah: badan, perut, kaki, tangan menjadi lumpuh. Tidak bisa digerakkan. Satu mm pun tidak! Ya, seperti penyakit stroke. Tapi bukan stroke. Penyakit ini bernama GBS, Guillain Barre Syndrome.

Penyakit ini saya derita sejak hari pertama di bulan puasa di 2007. Selama setengah bulan, saya dirawat di rumah sakit. Dan sisanya setengah bulan kemudian saya memulihkan kondisi menjadi normal. Persis 1 Syawal saya sudah bisa mengikuti shalat ied. Ya, saya sudah bisa melakukan gerakan-gerakan shalat meski tak sempurna.

Jadi persis sebulan, saya normal kembali. Tak normal 100% sih. Namun saya sudah bisa berkendara mobil. Tapi tak berani naik sepeda motor. Ya, ini keajaiban! Karena menurut literatur dan pengalaman orang-orang, sembuhnya begitu lama. Bisa berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Kelak saya tahu dari tulisan saya yang kemudian banyak direspon orang adalah banyak yang sembuhnya sampai lama. Bahkan banyak yang mengidap penyakit ini akhirnya meninggal dunia. (Anda bisa membaca tulisan saya tentang sakitnya saya ini di ‘Pengalaman Saya saat Sakit GBS’).

Saat sakit di bulan Ramadhan inilah saya benar-benar merasakan bagaimana syahdunya puasa. Sesuatu yang saya renungkan sebagai peringatan dari Tuhan, agar saya selalu ingat padaNya dan berterima kasih atas karunia yang diberikan, seperti kesehatan. Akhirnya saya bersyukur, Tuhan banyak memberi makna pada bulan Ramadhan saya. Terima kasih. Alhamdulillah. [TSA, 9 Ramadhan 1433H / 28 Juli 2012M subuh]

~~~
Serial “Obrolan di Bawah Rindangnya Cemara” ini adalah janji saya di awal bulan puasa 2012 untuk membuat sebuah kegiatan yang bermanfaat dan berbeda dengan Ramadhan-Ramadhan saya yang lain. Yakni membuat sebuah tulisan setiap harinya selama bulan Ramadhan. Semoga bisa! Amin.

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, pembicara publik tentang IT, host radio, pengajar sekaligus praktisi IT. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya, http://yusuf.web.id atau di Facebooknya, http://facebook.com/mcd.yusuf .

2 thoughts on “Obrolan di Bawah Rindangnya Cemara (9): Peristiwa-Peristiwa Besar yang Saya Alami di Ramadhan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *