(ref: sxc.hu)
(ref: sxc.hu)
Mendengar komentar saya ini gurunya malah menimpali, “Zidan, kenapa tidak sekalian semua pelajaran kamu target nilai sempurna? Sepuluh semua?” Pertanyaan ini sungguh menghentak saya. Ya. Kenapa tidak?

Oleh: Mochamad Yusuf*

Dalam periode tertentu sekolahnya Zidan, anak pertama saya, mengundang orang tua mendiskusikan perkembangan sang siswa. Saat pertemuan ini siswa (sang anak) juga harus datang. Tiga pihak: anak, guru dan orang tua akan membahas masalah apa yang dihadapi anak dan dicarikan solusinya. Biasanya pertemuan ini diawali dengan presentasi anak tentang kemampuan yang dimiliki dan rencana-rencananya ke depan.

Pertemuan terakhir agak berbeda. Zidan yang sekarang duduk di kelas 6 mempresentasikan rencana-rencananya dalam menghadapi UNAS. Juga target sekolah mana yang ingin dimasuki selulus SD. Dalam presentasinya itu, dia mentargetkan nilai UNAS untuk Matematika: 9,5, Bahasa Indonesia: 9,5 dan IPA: 10. Total: 28.

Melihat hal ini, saya mengusulkan ke Zidan merevisi targetnya. Karena saya tahu Zidan suka dan pintar Matematika, maka target Matematika harusnya 10. Bila suka dan menguasai akan lebih mudah digenjot lagi. Toh nilai-nilai Matematikanya sering 10. Makanya saya heran, kenapa Zidan mentargetkan nilai sempurna malah di IPA bukan di Matematika, meski saya tahu dia juga suka IPA.

Mendengar komentar saya ini gurunya malah menimpali, “Zidan, kenapa tidak sekalian semua pelajaran kamu target nilai sempurna? Sepuluh semua?” Pertanyaan ini sungguh menghentak saya. Ya. Kenapa tidak?

Saya tahu Zidan membuat target itu sebagai sesuatu yang masih bisa dikejar. Tentu dia menghitung kemampuan dan realitas. Dulu saya juga sering memberi target demikian. Takut kalau ketinggian targetnya, justru tidak tercapai. Lebih baik membuat target yang bisa dicapai.

Namun terakhir-terahir saya berpikir, kalau membuat target yang bisa dicapai maka target itu sebenarnya bukan sesuatu yang tinggi. Buktinya masih bisa dicapai. Karena itu, saya membuat target lebih tinggi dari harapan yang ingin dicapai. Bila targetnya tinggi dari harapan, maka kita akan berupaya habis-habisan mencapainya. Hasilnya kadang melebih harapan yang dikira. Meski kadang tidak mencapai target.

Contoh: Zidan mentargetkan Matematikanya mendapat nilai 9,5. Karena harapannya memang mendapat nilai 9,5. Dia akan belajar mati-matian untuk mendapat nilai itu. Bila dia mendapat nilai 9,5 maka dia sudah puas, karena sesuai target. Bila dia gagal, maka dia bisa mendapat nilai 9 atau 9,3.

Bagaimana kalau dia mentargetkan nilai 10? Dia akan berusaha mati-matian mencapainya. Bila dia gagal, dia bisa mendapat nilai 9,5 atau 9,7. Ini berarti sama dengan harapannnya bahkan lebih tinggi dari harapannya. Syukur-syukur malah mencapai target: nilai 10!

Saya jadi teringat kejadian beberapa waktu lalu. Saya suka menulis. Menulis apa saja. Tapi saya tidak punya keberanian menulis buku. Pikiran saya tentu hal itu sangat sulit. Sulit dari segalanya. Sulit membagi waktu untuk menulis, sulit mencari tema yang baik untuk buku, sulit mencari penerbit yang mau menerbitkan dan tentunya sulit mencari orang yang mau membeli buku itu.

Namun akhirnya di tahun 2009 saya mentargetkan menulis 4 buku. Saya paksa diri mati-matian mengejar target itu. Meski tidak ada waktu luang dan badan lelah luar biasa, sepulang kantor saya paksa menulis buku. Begitu capeknya, kadang saya menulis dengan mata tertidur. Akhirnya naskah buku itu selesai, dan lewat bantuan seseorang akhirnya saya bisa menemukan penerbit yang mau menerbitkan. Alhamdulillah, buku itu akhirnya meluncur ke pasaran dan cukup laku.

Akhirnya saya bisa menulis 2 buku. Meski tidak mencapai target, tapi 2 buku itu adalah lebih dari harapan saya. Membuat 1 buku saja sudah luar biasa. Apalagi ini 2 buku. Saya sungguh bahagia dengan pencapaian. Dan membuat saya lebih berbahagia dengan terbitnya buku itu adalah pencapaian target lain yakni kuliah S2.

Dulu saya tidak pernah berpikir untuk kuliah S2. Wong kuliah S1 saja susahnya minta ampun. Bukan masalah kemampuan tapi keuangan. Apalagi saat kuliah S2, saya sudah punya beban keluarga yang harus dihidupi. Ternyata dengan terbitnya buku itu dan Alhamdulillah laku, saya punya royalty untuk dapat membiayai kuliah S2 saya. (Saya telah menulis 11 artikel terkait hal ini. Anda dapat membacanya di sini, http://www.yusuf.web.id/tag/master-of-facebook/.)

Karena itu, saya membuat target lebih tinggi dari harapan saya. Segagal-gagalnya mencapai target, masih mencapai harapan yang diinginkan. Syukur-syukur lebih tinggi dari harapan. Atau malah mencapai target.

Tapi meski begitu saya tidak membuat target setinggi mungkin. Sesuatu yang terlalu tinggi dan tidak mungkin dicapai. Misal: mentargetkan menulis 10 buku setahun. Padahal kenyataan kemarin hanya 2 buku setahun.

Meski di dunia ini tidak ada yang mustahil dicapai, saya tetap menjaga target ini jangan sampai berlebihan. Bila berlebihan, saya takut justru saya mengacuhkan target ini. Karena sudah berpikir akan sia-sia. Juga menghindari frustasi/putus asa bila tidak mencapai target.

Jadi buatlah target. Lebih tinggi dari harapan. Namun janganlah sampai terlalu tinggi. Sesuatu yang mustahil tercapai. Dengan membuat target, akan membantu kita mencapai harapan yang kita inginkan. Itu lebih baik, daripada hanya sekedar mengangankan tanpa berusaha mencapainya.

Buatlah target di segala bidang kehidupan. Target di rumah, target di sekolah, target di kantor, target hobi dan target-target lain. Membuat target membuat Anda tahu harapan yang ingin dicapai. Selamat membuat target. [PR, 30/10/2012]

~~~
EnerLife, ‘Energize Your Life’, adalah tulisan motivasi bermaksud mencerahkan pikiran dan hati. Serta memberi motivasi kesuksesan hidup. Anda bisa membaca artikel EnerLife lainnya di: http://EnerLife.web.id.

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, pembicara publik tentang IT, host radio, pengajar sekaligus praktisi IT. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya, http://yusuf.web.id atau di Facebooknya, http://facebook.com/mcd.yusuf .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *