(ref: sxc.hu)
(ref: sxc.hu)
Apakah kita bisa mengendalikan kemauan makhluk mati, seperti gunung, laut, angin bahkan matahari? Pasti banyak yang menjawab: tidak mungkin! Mereka tidak memiliki nyawa, sehingga tidak memiliki kemauan. Jadi bagaimana kita bisa meminta mereka untuk melakukan apa yang kita inginkan?

Oleh: Mochamad Yusuf*

Kita tahu hanya makhluk (ciptaan Tuhan) bernyawa saja yang memiliki kemauan. Kemauan ini ada di dalam otaknya. Karena ada kemauan ini mereka ingin makan, ingin minum, ingin tidur dan lainnya. Kemauan itu bisa muncul dari diri sendiri misal: haus. lapar. Tapi juga bisa dari luar, entah dipaksa atau diimingi, seperti kuda yang dipecut untuk berlari lebih kencang.

Untuk sebagian makhluk hidup ini kita bisa mengendalikan kemauannya. Bahkan binatang buas pun bisa kita suruh. Seperti: singa yang diminta meloncat di lingkaran api, ikan lumba-lumba yang meloncat dan menari-nari dan lain-lain seperti kita saksikan aksinya di tempat sirkus.

Tapi apakah kita bisa mengendalikan kemauan makhluk mati, seperti gunung, laut, angin bahkan matahari?

Pasti banyak yang menjawab: tidak mungkin! Mereka tidak memiliki nyawa, sehingga tidak memiliki kemauan. Jadi bagaimana kita bisa meminta mereka untuk melakukan apa yang kita inginkan?

Mungkin tidak, kalau yang meminta kita. Tapi bagaimana yang meminta Tuhan, Allah SWT? Pasti mereka akan patuh. Dan mereka juga patuh pada seseorang yang diperintahkan Allah SWT patuh padanya, misal: Nabi Muhammad SAW.

Ini tampak pada cerita saat gunung dan makhluk mati lainnya diperintahkan Allah untuk menerima perintah Nabi Muhammad SAW saat beliau dianiaya saat berdakwah di sebuah kampung. Cerita selengkapnya tentang hal ini, sudah saya tulis di sini, http://www.enerlife.web.id/2012/kubah-3-hati-yang-batu-membuat-kita-celaka/.

Hari ini saya mendapat cerita lain yang menunjukkan bahwa benda mati pun juga bisa memiliki kemauan. Artinya dia juga bisa melakukan apa yang diinginkan. Cerita ini terkait dengan saudara sepupu Nabi Muhammad SAW, Ali bin Abi Thalib RA.

~~~
Pada suatu subuh, Ali bin Abi Thalib keluar dari rumah dengan tergesa-gesa. Dia khawatir ketinggalan shalat Subuh berjamaah bersama Rasulullah SAW. Tetapi di tengah jalan menuju masjid, Ali bertemu orang tua Nasrani yang sedang berjalan sangat pelan. Orang tua itu memegang tongkat penyangga.

Ali bin Abi Thalib mengikuti langkah orang tua itu dari belakang. Demi menghormati orang tua itu, Ali tidak sanggup melewatinya. Saat tiba di masjid, Ali bergegas masuk dan bersiap menunaikan shalat Subuh berjamaah.

Ketika Ali memasuki masjid, dilihatnya Rasul sedang ruku’. Saat itu, beliau ruku’ sangat lama. Tidak seperti biasanya. Seolah-olah Rasulullah SAW sedang menunggu Ali bin Abi Thalib agar ikut serta shalat berjamaah.

Setelah selesai shalat Subuh, Ali bertanya kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, kenapa engkau memanjangkan ruku’ pada shalat kita kali ini? Padahal sebelumnya, engkau belum pernah melakukannya.”

“Saat aku sedang ruku’ dan ketika aku hendak i’tidal, tiba-tiba datang Malaikat Jibril menekan punggungku. Setelah lama menekan, barulah aku bisa i’tidal,” jawab Rasul.

Mendengar jawaban Rasulullah seperti itu, Ali menceritakan apa yang terjadi saat perjalanannya ke masjid tadi. Rupanya Allah SWT telah mengisyaratkan kepada Rasulullah supaya menunggu Ali agar ikut shalat Subuh berjamaah.

Yang menarik di cerita ini, ada riwayat lain yang mengatakan bahwa saat itu, Allah SWT telah memerintahkan Malaikat Mikail agar menahan laju putaran matahari. Tentu dengan lebih lambatnya berputarnya matahari maka waktu juga berjalan lebih lambat. Sehingga semua berjalan lebih lambat. Tentu saja Ali tetap dengan waktu yang normal.

Dengan begitu, Ali bin Abi Thalib bisa sahalat Subuh berjamaah bersama Rasulullah SAW karena sikap Ali yang menghormati orang tua Nasrani itu.

~~~
Ada cerita lain. Cerita ini saya yakin semua pernah mengetahuinya. Cuma terakhir kali saya membacanya dengan adanya riwayat lain. Ada versi lain, tidak mengubah cerita secara keseluruhan. Hanya berbeda di akhir cerita. Persis cerita Ali bin Abi Thalib di atas.

~~~
Dahulu kala ada seorang penjahat kawak. Seorang penjahat yang tidak punya belas kasihan pada lawannya. Karena dia tidak segan membunuh yang berani menghalangi kejahatannya. Sampai saat itu dia sudah membunuh 99 orang. Sebuah jumlah yang luar biasa.

Namun sejalan usia, dia mulai sadar dan ingin bertobat. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk dapat bertobat. Akhirnya dia mendatangi seorang pemuka agama dan meminta pendapat apakah dia bisa bertobat.

Jawaban pemuka agama ini ternyata tidak melegakan. Karena kata pemuka agama, dia sudah tidak dapat dimaafkan. Kalaupun tobat, tidak akan diterima. Korbannya sudah sangat banyak. Neraka tempatlah, kata sang pemuka agama itu.

Mendengar jawaban pemuka agama ini, sang penjahat naik pitam. Dihunusnya pedang dan ditebaslah leher pemuka agama ini. Sekarang dia genap membunuh 100 orang.

Namun setelah membunuh, sang penjahat ini sadar lagi. Dia ingin bertobat. Maka dicarilah orang alim. Akhirnya dia menemukan orang alim. Dengan berurai air mata, dia menceritakan keinginannya untuk tobat. Dan minta petunjuknya apa yang harus dilakukan agar dia bisa bertobat.

Orang alim ini meminta penjahat tadi pergi ke sebuah kampung. Kampung ini berisi orang-orang sholeh. Dengan tinggal di sini, penjahat tadi bisa dibimbing sehingga bisa tobat dengan sebenarnya.

Setelah mengucap terima kasih, penjahat itu melangkah dengan mantab pergi ke desa yang dimaksud orang alim. Hatinya berbunga-bunga, karena dia tahu dia bisa bertobat. Dan dosanya bisa dikabulkan.

Namun di tengah perjalanan, penjahat ini mulai sakit-sakitan. Akhirnya dia jatuh tersungkur dan meninggal dunia.

Malaikat kejahatan dengan sigap membawa roh untuk disiksa. Dia sudah gemas ingin menyiksanya karena melakukan banyak kejahatan. Namun saat mau dibawa, malaikat kebaikan merebut roh penjahat itu. Kata malaikat kebaikan, dia sudah tobat maka seharusnya dia dimasukkan ke tempat yang menyenangkan.

Akhirnya 2 malaikat itu berebut dan beradu argumen bahwa dialah yang berhak membawa roh penjahat itu. Akhirnya datang malaikat Jibril melerai. Akhirnya atas petunjuk Allah SWT, malaikat Jibril memutuskan untuk mengukur jarak antara desa tempat berangkat dengan matinya penjahat dan jarak desa yang dituju.

Jarak yang terpendek itulah yang menang. Jadi bila jarak ke desa tujuan lebih dekat, maka malaikat kebaikan yang menang. Namun bisa jarak dari desa asal lebih dekat, maka malaikat kejahatan yang berhak roh itu.

Setelah diukur ternyata jarak ke desa tujuan lebih pendek daripada jarak dari desa asal. Jadi penjahat yang sudah membunuh 100 orang dan melakukan banyak kejadian, eh ketika meninggal masih bisa masuk surga.

Yang menarik dari cerita ini, dari riwayat lain, Allah SWT meminta bumi untuk mengkerut kulitnya sehingga jarak ke desa tujuan lebih pendek. Di sini, bumi juga bisa diatur dan diperintahkan. Makhluk mati ternyata juga bisa hidup. [PR, 27/11/2012]

~~~
Kubah adalah Kuliah Bekal Hidup. Tulisan di serial Kubah ini mencoba mencari hikmah dari semua kejadian yang terjadi di alam. Semoga dengan hikmah ini kita dapat hidup bahagia di dunia dan mulia di akhirat. Artikel lain bisa Anda baca di serial ‘Kuliah Bekal Hidup, http://www.enerlife.web.id/category/kubah/’ lainnya.

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, konsultan tentang online communication, pembicara publik tentang TI, host radio, pengajar sekaligus praktisi TI. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya, http://yusuf.web.id atau di Facebooknya, http://facebook.com/mcd.yusuf .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *