(ref: nyunyu.com)
(ref: nyunyu.com)
Saya jarang bertemu dengan orang yang bangga dan menikmati pekerjaannya. Yang kerapkali saya temukan, malah sering mengeluh bahkan mengaku tidak kerasan dan berniat pindah kerja. Sesuatu yang hanya keluhan, karena sampai lama bertemu kembali dengannya dia tetap di tempat kerja yang sama.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Dulu setiap pergi ke kantor saya akan melewati sebuah perempatan yang ramai. Perempatan ini sebenarnya ada di dalam sebuah perumahan. Namun di sini ada sekolah elit yang siswanya rata-rata bermobil atau diantar dengan mobil. Jadi jalan begitu sesak dengan kendaraan.

Karena sering tidak ada polisi yang menjaga, sering perempatan ini terkunci sehingga bikin macet. Kalau sudah begini, semua stress. Ingin datang sekolah atau kantor tepat waktu, tapi terjebak dengan kemacetan. Untunglah ada ‘polisi cepekan’.

Meski hanya cepekan, dia tampil bersih dan parlente. Pakai training, jaket, topi, sepatu dan kaca mata hitam. Sambil mengatur, sekali-kali dia meniupkan peluitnya. Dia lakukan hal ini semua dengan riang. Karenanya sekali-kali dia berjoget atau menari. Kalau dia mendapat uang, dia akan memberi hormat dengan berbagai aksi yang bikin senyum. Semua yang menyaksikan aksinya pasti senang minimal bersyukur karena arus lalu lintasnya jadi lancar.

Melihatnya, saya bangga dengan orang ini. Meski hanya kerjaannya ‘recehan’ dia sangat menikmati pekerjaannya. Seperti tidak ada keluhan. Dia ‘happy’ dengan pekerjaannya. Dia ikhlas dengan pekerjaannya.

Sekarang sejak diatur lagi arah arus lalu lintas di jalan-jalan sekitar perempatan, sudah tidak terjadi kemacetan lagi. Dan ‘polisi cepekan’ itu menghilang. Saya merasa kehilangan orang yang begitu menikmati pekerjaan dan hidupnya. Semoga dia tetap sehat dan barokah.

Saya jarang bertemu dengan orang yang bangga dan menikmati pekerjaannya. Yang kerapkali saya temukan, malah sering mengeluh bahkan mengaku tidak kerasan dan berniat pindah kerja. Sesuatu yang hanya keluhan, karena sampai lama bertemu kembali dengannya dia tetap di tempat kerja yang sama.

Hidup mungkin adalah panggung sandiwara. Kita hanya aktor yang ditugaskan oleh Sutradara Agung untuk memerankan sebuah peran. Ada yang ditugaskan peran sebagai presiden, dokter, polisi, tukang sapu, dosen, polisi cepek dan lainnya. Tidak penting di mana dia berperan, yang penting adalah dia memerankan perannya dengan baik. Menjalankan instruksi sutradara dengan benar. Dan menikmati perannya.

Bagaimana menurut Anda? [ELMI, 18/8/2013]

~~~
Enerlife, ‘Energize Your Life’, adalah tulisan motivasi bermaksud mencerahkan pikiran dan hati. Serta memberi motivasi kesuksesan hidup. Anda bisa membaca artikel Enerlife lainnya di: http://Enerlife.web.id.

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, konsultan tentang online communication, pembicara publik tentang TI, host radio, pengajar sekaligus praktisi TI. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya, http://yusuf.web.id atau di Facebooknya, http://facebook.com/mcd.yusuf.

1 thought on “Enerlife [11]: Menikmati Pekerjaan Menikmati Hidup

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *