Kebun belakang rumah yang penuh Pisang (dok. pribadi)
Kebun belakang rumah yang penuh Pisang (dok. pribadi)
Kita renungkan filosofi hidup pisang ini. Seperti pisang, hidup manusia juga terbatas. Anggap saja sampai berusia 100 tahun. Seharusnya saat hidup seorang manusia memiliki sebuah tujuan. Yakni berguna bagi makhluk hidup lain. Juga lingkungan sekitarnya.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Di belakang rumah, saya tanam pisang Kepok. Saya tanam jenis pisang ini karena enak kalau digoreng. Batangnya besar dan tinggi. Sebelumnya sudah ada pisang Susu. Sebaliknya dengan pisang Kepok, pisang Susu pohonnya kecil dan rendah.

Karena itu pisang Susu seringkali jadi miring bahkan roboh karena tidak mampu menahan berat pisang yang dihasilkan. Sebaliknya karena batangnya besar, meski buahnya banyak dan berat, pisang Kepok masih mampu menahan buahnya. Padahal 1 tandan bisa sampai 10 sisir atau lebih. Sedangkan pisang Susu paling maksimal hanya 5 sisir.

Karena kesibukan kita, saya dan istri kerja, seringkali tidak sempat mengecek kebun belakang. Suatu ketika saat saya menengok kebun, saya terkejut melihat ada sebuah pohon pisang yang mulai membusuk. Mulai mati. Daunnya banyak yang kering. Dan batangnya mengecil.

Saat saya tengok ke atas batang pohon, astaga! Buah pisangnya sudah habis. Tinggal tangkainya. Tangkainya pun juga mengering dan mengecil.

Ternyata pohon pisang ini sudah berbuah bahkan sudah matang. Namun tidak kunjung kita petik, akhirnya membusuk dan habis. Tapi pengalaman saya, sering habis karena dimakan burung. Ini kalau saya terlambat memetik buahnya.

Saya merenungkan perilaku pisang ini. Dia hidup dengan memiliki 1 tujuan. Berbuah! Buah yang berguna bagi makhluk hidup lain. Berbuah bukan untuk diri.

Berbeda dengan buah lain, buah pisang tidak bisa dijadikan bibit. Kalau pohon lain, misal mangga, dia berbuah juga untuk diri. Jadi bila buah mangga sampai matang dan tidak dipetik, dia akan jatuh, membusuk dan tinggal bijinya. Bijinya ini bisa tumbuh kembali sebagai pohon mangga.

Setelah berbuah, pohon pisang ini akan mati. Apapun yang terjadi, meski buahnya tidak dipetik atau tetap masih menggantung di pohonnya.

Kita renungkan filosofi hidup pisang ini. Seperti pisang, hidup manusia juga terbatas. Anggap saja sampai berusia 100 tahun. Seharusnya saat hidup seorang manusia memiliki sebuah tujuan. Yakni berguna bagi makhluk hidup lain. Juga lingkungan sekitarnya.

Kehadirannya memberikan manfaat bagi orang sekitar. Bukan malah merugikan, mengganggu atau merusak orang lain dan lingkungan sekitar. Bukan mengambil hak orang lain dengan terang-terangan atau secara halus seperti korupsi. Tidak menipu orang lain baik dengan perkataan atau perbuatan, seperti timbangan yang tidak akurat sebagai pedagang.

Sehingga kalau dia meninggal, orang bermanfaat ini tidak hanya ditangisi oleh orang yang mengenalnya tapi juga makhluk hidup lainnya. Tidak sebaliknya, makhluk lain jadi bergembira karena orang yang merugikan ini mati. (Anda bisa bia membaca artikel saya yang lain tentang ini di sini, Kubah [11]: Manusia Sukses Adalah Manusia Bermanfaat Bagi Yang Lain)

Jadilah memahami bahwa hidup tidaklah kekal. Tidak hidup selamanya. Maka hidup kita haruslah bermanfaat bagi yang lain. Sekali hidup, hiduplah yang berarti. Hidup yang bermanfaat bagi makhluk hidup lain. [TSA, 20/3/2013 subuh]

~~~
Enerlife, ‘Energize Your Life’, adalah tulisan motivasi bermaksud mencerahkan pikiran dan hati. Serta memberi motivasi kesuksesan hidup. Anda bisa membaca artikel Enerlife lainnya di: http://Enerlife.web.id.

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, konsultan tentang online communication, pembicara publik tentang TI, host radio, pengajar sekaligus praktisi TI. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya, http://yusuf.web.id atau di Facebooknya, http://facebook.com/mcd.yusuf.

2 thoughts on “Enerlife [13]: Filosofi Pisang, Sekali Hidup Hiduplah Berarti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *