(ref. sxc.hu)
(ref. sxc.hu)
Saya tertarik dengan kebiasaan satpam perumahan ini. Karena ini adalah kompleks perumahan. Bukan kompleks militer. Kalau kompleks militer, wajar para penjaga akan memberi hormat. Karena itu jarang saya menemukannya di perumahan. Di perumahan saya juga tidak ada, meski pintu portal berkonsep buka tutup juga.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Setiap hari saya mengantar anak-anak ke sekolah. Dalam perjalanannya supaya cepat, saya menempuh jalan tembus lewat sebuah perumahan. Di perumahan ini pintu gerbangnya ditutup dengan portal. Hanya menyisakan sedikit ruang untuk 1 sepeda motor lewat.

Namun bila yang lewat adalah warga perumahan itu sendiri, maka portal itu akan dibuka oleh satpam. Tidak hanya keistimewaan itu saja yang didapat warga. Tapi juga diberi hormat ala militer oleh satpam di situ. Di dekat pintu portal itu ada 1-2 satpam yang menjaganya.

Saya tertarik dengan kebiasaan satpam perumahan ini. Karena ini adalah kompleks perumahan. Bukan kompleks militer. Kalau kompleks militer, wajar para penjaga akan memberi hormat. Karena itu jarang saya menemukannya di perumahan. Di perumahan saya juga tidak ada, meski pintu portal berkonsep buka tutup juga.

Saya tidak tahu apakah penghormatan di perumahan itu adalah protap, prosedur tetap, sehingga semua satpam akan melakukan hal ini. Atau hanya dilakukan beberapa satpam saja. Tapi yang jelas saya seringkali menyaksikan hal ini.

Saya berpikir, kenapa kira-kira para satpam melakukan hal ini. Toh dia bukan militer, meski mungkin saja mantan militer. Saya mengira mereka memberi hormat ini karena menghormati dan menghargai yang memberikan gaji pada mereka. Yakni para warga perumahan. Saya yakin para warga pasti ditarik iuran yang tujuannya salah satunya memberi gaji pada satpam.

Lalu saya merenung, wajar kita akan menghormati majikan kita, meski bukan memberi hormat ala militer. Karena dia telah memberi gaji ke kita. Dengan gaji itu kita menjadi hidup.

Tidak salah menghormati majikan kita. Betul. Jadi kalau pada manusia yang memveri hidup, kita memberi hormat maka seharusnya kita harus menghormati majikan kita sesungguhnya. Yakni Tuhan Yang Maha Kuasa. Sumber dari segala sumber yang memberi rezeki kita. Yang memberi kita hidup. Yang memberi kita sehat.

Namun kenapa kita seringkali malah tidak menghargai dan memberi hormat yang Pemberi Hidup sesungguhnya ini? Yakni dengan memberi hormat dengan selalu berbuat baik. Selalu menjalankan apa yang diperintahkan. Dan juga selalu menjauhi apa ya dilarang. Dan tentunya tidak menyekutukannya dengan yang lain. [TSA, 12/4/2013 subuh]

~~~
Kubah adalah Kuliah Bekal Hidup. Tulisan di serial Kubah ini mencoba mencari hikmah dari semua kejadian yang terjadi di alam. Semoga dengan hikmah ini kita dapat hidup bahagia di dunia dan mulia di akhirat. Artikel lain bisa Anda baca di serial ‘Kuliah Bekal Hidup, http://www.enerlife.web.id/category/kubah/’ lainnya.

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, konsultan tentang online communication, pembicara publik tentang TI, host radio, pengajar sekaligus praktisi TI. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya, http://yusuf.web.id atau di Facebooknya, http://facebook.com/mcd.yusuf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *