(ref. www.arrahmah.com)
(ref. www.arrahmah.com)
Saya iri dengan ustadz Jeffry. (Demikian juga aku iri dengan Bapakku dulu). Tadi siang setelah menunaikan shalat jumat, sang imam masjid langsung mengajak shalat ghaib. Shalat mendoakan almarhum ustdaz Jeffry yang meninggal dunia dini hari tadi.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Kita tidak pernah kenal secara pribadi. Bahkan tidak pernah bertatap muka. Kita hanya tahu karena dia adalah selebritis dai. Namun kita semua mau untuk melakukan shalat ghaib jamaah, meski saya dengar beberapa orang meninggalkan masjid karena terdengar suara raungan motor.

Ustadz Jeffry yang kerap dipanggil Uje wafat di hari jumat. Jumat dini hari. Seperti juga ayahku dulu yang juga wafat di jumat dhuha menjelang shalat Jumat.

Dan saat kembali dari masjid, saya diberitahu Ibu saya bahwa di masjid Istiqlal ustadz Jeffry juga dishalatkan jenazah di sana. Sunggu luar biasa. Berarti dia banyak didoakan orang. Sudah lebih dari 40 orang. Sudah lebih dari cukup untuk bekal di dunia akhirat.

Saya jadi teringat cerita yang pernah saya baca di buku “Kisah-Kisah Allah”.

Di zaman nabi Musa ada seorang ahli ibadah. Dia rajin menjalankan ibadah. Dia dikenal juga sebagai orang yang alim dan melakukan banyak perbuatan baik pada banyak orang.

Nabi Musa juga menghormatinya. Namun suatu hari dia mendapat wahyu dari Allah, bahwa ahli ibadah ini melakukannya ini semua karena riya. Dia berniat itu bukan semata-mata karena Allah. Tapi hanya ingin dapat pujian dari manusia.

Suatu hari ahli ibadah ini dikabarkan meninggal dunia. Karena Nabi Musa tahu perangainya seperti ini, Nabi Musa tidak datang melayat. Namun banyak orang yang datang, menyalatkan dan memakamkan. Jumlahnya lebih dari 40 orang. Mereka mendoakan ahli ibadah ini. Mereka berdoa, “Ya Allah, tempatkan dia di sisiMu. Tidak ada yang kami lihat dari dia kecuali kebaikan yang melekat padanya”.

Setelah ahli ibadah itu dimakamkan, Allah memberi wahyu kepada nabi Musa. “Hai Musa, kenapa kamu nggak hadir di pemakamannya?” tegur Allah. Nabi Musa berkata, bahwa dia tidak mau hadir karena melihat perangainya yang buruk seperti yang diwahyukan Allah sebelumnya. Yakni orang yang berbuat riya.

“Ya, betul,” firman Allah, “Dia memang orang yang riya. Namun saat orang-orang menyaksikan kebaikan padanya dan mendoakan serta menyaksikan bahwa hanya ada kebaikan padanya, maka Saya memaafkannya dan memasukkannya dalam golongan orang bertakwa.”

Doa lebih dari 40 orang saat dimakamkan dan kesaksian mereka akan kebaikannya, telah mengantarkannya ke surga. InsyaAllah ustadz Jeffry dan ayah saya yang meninggal di hari Jumat akan demikian. Karena tentu sudah lebih dari 40 orang yang mendoakan dan memberi kesaksian sebagai orang yang baik. [PR, 2/4/2013 siang]

~~~
Kubah adalah Kuliah Bekal Hidup. Tulisan di serial Kubah ini mencoba mencari hikmah dari semua kejadian yang terjadi di alam. Semoga dengan hikmah ini kita dapat hidup bahagia di dunia dan mulia di akhirat. Artikel lain bisa Anda baca di serial ‘Kuliah Bekal Hidup, http://www.enerlife.web.id/category/kubah/’ lainnya.

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, konsultan tentang online communication, pembicara publik tentang TI, host radio, pengajar sekaligus praktisi TI. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya, http://yusuf.web.id atau di Facebooknya, http://facebook.com/mcd.yusuf.

1 thought on “Kubah [13]: Doa Kematian dari 40 Orang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *