(ref: naurafariha.blogspot.com)
(ref: naurafariha.blogspot.com)
Ketika John mendekatinya, dia santai saja. Tidak merasa salah. Bahkan kemudian saat ada polisi yang menilangnya, dia ngotot tidak bersalah. Dia menyalahkan tukang parkirnya yang membolehkan parkir di situ.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Seorang teman yang ambil S3 di Australia berkomentar di status Facebook saya. Katanya, para guru sekolah dasar di sana sangat mengkhawatirkan murid-muridnya bila tidak mau antri. Mereka tidak khawatir bila mereka tidak bisa matematika. Kata mereka pembentukan karakter yang mau antri dan tidak main ‘selonong’ sangat lama. Bisa 16 tahun. Sedangkan untuk dapat menguasai materi Matematika hanya diperlukan waktu 6 bulan.

Cerita ini sebenarnya sudah saya ketahui sebelumnya. Bahkan dari berbagai sumber yang hampir sama terjadi di negara-negara di Amerika, Jerman dan lain-lain. Pendidikan dasar mereka lebih menitikberatkan pada moral, etika dan hubungan dengan sosial daripada nilai-nilai pelajaran sekolah.

Akibatnya hasil pendidikan mereka adalah orang-orang yang berkarakter disiplin, tertib, patuh hukum dan hubungan sosial yang tertib.

Contoh lain adalah saat saya menyaksikan sebuah program di TV swasta. Programnya namanya ‘John Pantau’. Saya tidak tahu acara ini sebenarnya tentang apa, karena sebelumnya dan setelah itu juga tidak menyaksikan acara ini. Maklum saya jarang nonton TV. Hehehe.

Acara ini dipandu seseorang yang bernama John Pantau. Tampilannya seperti detektif. Ada kamera dan kaca pembesar. Waktu itu dia mau membandingkan bagaimana reaksi seseorang dengan kejadian yang sama.

Segmen pertama mengambil setting sebuah tempat di Australia. Di sebuah jalan ada tanda larangan parkir. Tanda P dicoret. Lalu tampak seseorang memarkir mobil di sana. John mendekatinya dan berusaha mewancarainya. Tapi yang terjadi dia menutupi mukanya dan berlari cepat menghindari John. Akhirnya John tidak dapat mengejarnya. Entah, kenapa dia lari dan menutupi mukanya. Mungkin karena malu.

Segmen kedua mengambil tempat di sebuah jalan di jakarta. Kasusnya sama. Ada tanda larangan parkir. Tampak seorang Ibu memarkir mobilnya. Ketika John mendekatinya dia santai saja. Tidak merasa salah. Bahkan kemudian saat ada polisi yang menilangnya, dia ngotot tidak bersalah. Dia menyalahkan tukang parkirnya yang membolehkan parkir di situ. Dia minta pak polisi memanggil tukang parkirnya. Untungnya pak polisi nurut (hehehe, seharusnya polisi mengabaikan saja, salah ya salah). Di situ Ibu tetap ngotot dan malah bertengkar dengan tukang parkir.

Si John bingung dengan karakter Ibu ini. Sudah salah, mau ditilang ngotot merasa tidak bersalah. Bahkan menyalahkan orang lain.

Ini mungkin karena akibat pendidikan kita. Di sini, Indonesia, pendidikan khususnya pendidikan dasar lebih menitiberatkan pada nilai. Bukan pada pembentukan karakter. Bahkan pelajaran Agama di sekolah hanya mengajarkan ritualnya. Misal pada pelajaran agama Islam, lebih meminta mereka menghapal surat-surat, doa, bacaan shalat, rukun-rukun agama dan lain-lain.

Tidak ada yang salah. Namun pelajaran pembentukan karakter seperti jujur, malah kurang. Jadi ironisnya saat mengerjakan ulangan agama yang banyak hafalannya itu malah bekerjasama dengan teman lain atau mencontek. Karena nilai yang utama, maka para siswa tidak mempedulikan caranya.

Ini nanti berlanjut saat dewasa kelak. Mereka akan menjalankan perintah agamanya, seperti melakukn shalat, puasa, haji bahkan mengejar itikaf tapi tidak merasa bersalah menggunakan mobil dinasnya untuk keperluan pribadi. Atau memainkan harga saat proyek atau pengadaan barang. Bahkan mereka santai saja bermain suap atau korupsi.

Dan ironisnya mereka kerap tidak merasa bersalah. Bahkan tidak menyesal. Mereka beranggapan apa yang dilakukan hal yang wajar. Kalau tertangkap, mereka hanya menganggap sebagai kesialan. Apes. Karena yang lain ya melakukan dan hal itu merupakan yang jamak, dan tidak ditangkap. Dan yang lain tetap saja melakukannya karena memang sudah umum.

Karena itu saya ingin menekankan pada serial tulisan ini, bahwa harusnya kita menjalankan agama dengan kaffah. Dengan menyeluruh dan paripurna. Agama bukanlah ibadah saja seperti shalat, puasa dan haji. Tapi agama juga harus tertib, jujur, tidak mau serobot, menggunakan timbangan yang benar dan lain-lain.

Saya akan menulis dalam serial ini cerita/kisah yang ternyata menjalankan bukan ibadah ritual mengantarkan seseorang menjadi insan sempurna. Harusnya ibadah ritual seperti shalat, puasa dan haji dijalankan namun ibadah sosial seperti mau antri, tidak buang sampah sembarangan, jujur, tidak mau memanfaatkan mobil dinas di luar kepentingan dinas dan lain-lain juga dilakukannya.

Harusnya ibadah horizontal (sosial) sama pentingnya dengan ibadah vertikal. [PUTA, 20/12/2013]

~~~
Serial “Jangan Beri Makan Keluarga Kita Dengan Korupsi” adalah tulisan-tulisan saya yang akan mencari jawab kenapa dengan rakyat negeri ini suka melakukan korupsi. Juga berupaya mengajak diri memerangi korupsi dengan tidak memberi makan untuk keluarga kita dengan korupsi. Saya sebenarnya ingin memberi judul “Berantas Korupsi Indonesia” tapi tertalu berat. Demikian juga judul “Indonesia Bebas Korupsi”, “Bebaskan Keluarga Kita dari Harta Korupsi” dll. Maka judul serial “Jangan Beri Makan Keluarga Kita Dengan Korupsi” lebih masuk akal dan bisa dilakukan.

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, konsultan tentang online communication, pembicara publik tentang II, host radio, pengajar sekaligus praktisi IT. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya, http://yusuf.web.id atau di Facebooknya, http://facebook.com/mcd.yusuf.

1 thought on “Jangan Beri Makan Keluarga Kita Dengan Korupsi [2]: Ibadah Sosial Yang Disepelekan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *