(ref: mykindofcooking.blogspot.com)
(ref: mykindofcooking.blogspot.com)
Maka pada sebuah jamuan istana yang dihadiri Ratu dan kalangan istana yang sebagian besar iri pada Columbus, dia meminta bicara. Dengan lantang dia meminta yang hadirin mengambil telur rebus yang ada di jamuan. Dia meminta mereka menegakkan telur agar bisa berdiri. Ada hadiah bagi siapa yang bisa melakukannya, kata Columbus.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Setelah Christopher Columbus menemukan benua Amerika, dia kembali ke Spanyol. Atas keberhasilannya ini, dia banyak mendapat hadiah, tanah dan gelar kebangsawanan. Tentu saja ini menimbulkan banyak keirian bagi kalangan istana.

“Ya, siapapun bisa kalau ke arah barat pasti menemukan benua baru.”
“Gitu saja kok dapat penghargaan, padahal hanya menemukan kepulauan.”
“Tidak ada yang luar biasa dari Columbus dalam perjalanan penemuan benua barunya itu. Itu sesuatu yang mudah.”

Begitu suara-suara miring yang terdengar di kalangan istana. Mereka menganggap bahwa ide dan keberhasilan Columbus menemukan benua Amerika adalah keniscayaan dan semua orang bisa melakukannya.

Maka pada sebuah jamuan istana yang dihadiri Ratu dan kalangan istana yang sebagian besar iri pada Columbus, dia meminta bicara. Dengan lantang dia meminta yang hadirin mengambil telur rebus yang ada di jamuan. Dia meminta mereka menegakkan telur agar bisa berdiri. Ada hadiah bagi siapa yang bisa melakukannya, kata Columbus.

Maka berlomba-lombalah para hadirin menegakkan telur. Tentu saja susah. Karena telur yang ditegakkan bergulir menjadi tidur atau miring. Tidak ada seorang pun yang bisa melakukannya. Akhirnya mereka menyerah.

Columbus yang melihat mereka yang tidak senang padanya gagal menegakkan telurnya, jadi puas. Maka dia mengambil sebuah telur rebus. Mulailah dia mendirikan telur. Bagian bawah yang lebih gendut dia pukulkan ke meja dengan lembut. Kulit luarnya jadi retak. Dia raba-raba dan atur sedemikian rupa kulir luarnya, dan dia meletakkan telur itu meja. Wow,… sekarang telur rebus itu bida berdiri.

Semua yang melihat cara Columbus berseloroh,” Kalau begitu sih saya bisa…” Tapi tentu saja ucapannya ini tidak ada artinya. Karena mereka tidak melakukannya sebelumnya. Mereka hanya melihat yang berhasil dan mencontohnya. Kalau mencontoh sih semua orang bisa…

Sejak itu kritikan dan cemoohan pada Columbus berhenti. Usahanya untuk menemukan benua baru memang patut diapresiasi.

Dalam kehidupan kantor, kita akan menemukan banyak kejadian seperti ini. Saat seseorang telah berhasil menemukan sebuah cara yang membuat kantor sukses, berhasil, maju dan lainnya, maka yang lain akan berseloroh bahwa yang dilakukan biasa. Tambah ramai kalau dia banyak mendapat penghargaan dari kantor.

“Itu sih ide gue sejak lama.”
“Gue sudah tahu sejak lama kalau cara begitu.”
“Nggak ada yang istimewa cara begitu, semua orang bisa.”

Begitu cemoohan dan kritikan para pencemburu terhadap keberhasilan orang itu. Namun kenyataannya mereka tidak pernah berinisiatif dan melakukannya. Baru setelah berhasil, mereka mengklaim bahwa mereka dulu yang melakukannya.

Karena itu, orang yang berhasil lagi sukses tidak hanya sekedar berandai-andai, tapi juga berani melakukannya. Karena ide adalah sesuatu yang bisa dilakukan semua orang. Namun bagaimana mewujudkannya? Itu yang tidak mudah dan banyak sekali hambatan dan tantangannya.

Seperti ingin terbang ke angkasa adalah ide setiap manusia sejak dulu. Namun hanya Orville dan Wilbur Wright saja yang bisa mewujudkannya. Kalau kemudian mereka mendapat banyak sanjungan dan penghargaan adalah wajar. Dan begitu mudah bagi yang lain untuk meniru dan membuatnya lebih bagus.

Maka ada sebuah adagium di sebuah kantor, yakni: “Lebih Baik Meminta Maaf, Daripada Meminta Ijin.” Karena kadang sebuah ide atau gagasan kalau dimintakan ijin sering dihambat. Mungkin karena banyak pertimbangan dan ketakutan ini itu. Jadi lebih baik langsung dijalankan. Bila ternyata tidak sesuai, ya minta maaf. Tapi kalau berhasil, maka akan dipuji. Atau minimmal diam saja.

Jadi apa pelajaran dari cerita Columbus ini?

Beranilah bertindak! Kalau punya gagasan/ide baik langsung saja jalankan. Memang lebih baik dimintakan ijin terlebih dahulu. Tapi kalau yakin meresa benar, jalankan saja.

Google meminta karyawannya melakukan dari 20% jam kerjanya mengerjakan sesuatu proyek pribadi diluar pekerjaan kantor. Dan kelak banyak proyek-proyek Google yang berhasil dari ide-ide dan perwujudannya dari proyek-proyek personal yang dikerjakan oleh para karyawannya ini.

Selamat menjalankan ide-ide Anda. [SDSM, 07/4/2014]

~~~
Kerja 4 As adalah serial tulisan berkaitan dengan dunia kerja, problematika kantor dan solusinya, tip & trik serta ke-SDM-an (Sumber Daya Manusia). Anda bisa membaca artikel Kerja 4 As lainnya di: http://enerlife.web.id.

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, konsultan tentang online communication, pembicara publik tentang IT, host radio, pengajar sekaligus praktisi IT. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya, http://yusuf.web.id atau di Facebooknya, http://facebook.com/mcd.yusuf.

2 thoughts on “Kerja 4 As [5]: Praktek Adalah Ide Yang Mahal

  1. Hem, memang begitulah. Seharusnya kita juga memberikan kesempatan kepada anak didik kita untuk ‘merasakan’ pengalaman.
    Saya sering menyampaikan kepada mereka, “inspirasi belum tentu menghasilkan action. Namun action, sudah pasti menghasilkan inspirasi”.
    Begitulah realitasnya sepanjang kehidupan ini…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *