(ref: sxc.hu)
(ref: sxc.hu)
Seorang pelajar menangis tersedu-sedu di sebuah pinggir jalan. Wajahnya mengkilat karena keringat. Rambutnya awut-awutan. Juga bajunya. Bahkan kancing paling atas terlepas. Entah disengaja dilepas atau kancingnya lepas. Tangannya terlihat ada darah.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Hii.. ngeri. Apakah dia barusan membunuh?

Tidak. Tapi entahlah… karena dia barusan tawuran dengan pelajar sekolah tetangga. Sekolah yang menjadi musuh bebuyutan sejak dulu. Barusan dia menghajar seseorang pelajar lawan dengan tangan kosong. Tangannya berdarah itu entah darahnya atau darah lawan.

Nafasnya tersengal-sengal. Sambil sekali-sekali dia menoleh ke kanan ke kiri, dia menangis. Dia menyesal atas apa yang dilakukannya. Mulailah dia berpikir, kenapa dia sampai seperti ini. Mulailah dia mengingat keadaannya. Dia tahu siapa yang disalahkan.

Ini pasti gara-gara orang tuanya yang jarang memperhatikannya. Ini karena kedua orang tuanya harus bekerja. Saat dia bangun mereka sudah berangkat kerja. Dan sampai dia tidur kembali kadang mereka belum juga datang. Kalaupun mereka datang saat dia belum tidur, tidak ada komunikasi karena mereka sudah kecapekan.

Ini gara-gara seniornya yang mengajarkan bahwa membalas dendam kepada pelajar lawan adalah halal. Ini adalah musuh bebuyutan. Meski dia tidak kenal dan tidak tahu apa kesalahan mereka, kalau pas tawuran inginnya dia akan menonjok mereka habis-habisan…

Ini gara-gara… Dia bisa mencari berbagai alasan untuk membenarkan apa yang dia lakukan.

Seseorang telah berumur dengan berani datang menemuinya. “Ada apa?” tanyanya. Sang pelajar menceritakan kegalauannya, bahwa dia merasa hidupnya sia-sia. Dia merasa hidupnya tidak berarti. Hidupnya terasa kosong. Mulailah dia menyalahkan ini dan itu.

“Hidup bagaikan buku,” kata orang tua itu, “Buku adalah kumpulan kertas yang ditutup dengan sampul. Sampul depan adalah saat kita lahir dan sampul belakang adalah saat kita meninggal. Ada buku tebal, ada buku tipis. Ini sesuai dengan usia yang diberikanNya.”

“Tiap-tiap lembarnya adalah hari-hari dalam hidup kita. Hebatnya seburuk-buruk apapun yang sudah dicoret-coret di halaman sebelumnya, akan selalu tersedia halaman selanjutnya yang putih bersih. Siap untuk ditulisi atau dicoreti.”

“Begitu pun hidup kita. Seburuk hari apapun hari kemarin, Tuhan selalu menyediakan hari yang baru buat kita hingga hari penutup kita. Itulah kesempatan yang baru untuk kita agar bisa melakukan sesuatu yang benar dan meninggalkan kesalahan.”

“Jangan menimpakan kesalahan kita karena hal lain atau orang lain. Kesalahan itu yang membuat kita. Bukan orang lain. Maka yang bertanggung jawab adalah kita sendiri. Kalau pun yang lain atau orang lain sangat mempengaruhi perbuatan kita, kita bisa membicarakannya atau mencarikan solusi terbaik untuk kita.”

“Yang jelas, buku itu akan terus dibuka sampai habis di sampul penutupnya. Bila demikian, maka buku itu akan dikumpulkan untuk dinilai atau dievaluasi. Jangan sampai ketika dikumpulkan bukunya, tidak ada catatan yang baik kita torehkan,” kata orang tua tadi.

Si pelajar diam. Tangisnya reda, dan ucapan orang tua tadi merasuk ke dalam otaknya. Direnungkan dan diputuskan dia bertekad selalu membuat catatan baik di bukunya. Apapun yang terjadi.

Anda demikian juga bukan? [PURI, 3/10/2012 sore]

~~~
EnerLife, ‘Energize Your Life’, adalah tulisan motivasi bermaksud mencerahkan pikiran dan hati. Serta memberi motivasi kesuksesan hidup. Anda bisa membaca artikel EnerLife lainnya di: http://EnerLife.web.id.

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, pembicara publik tentang IT, host radio, pengajar sekaligus praktisi IT. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya, http://yusuf.web.id atau di Facebooknya, http://facebook.com/mcd.yusuf .

2 total views, 2 views today

2 thoughts on “Enerlife [1]: Hidup Bagaikan Buku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *