Hari Jumat kemarin saya iseng membaca sebuah majalah (tak terkenal). Ada kolom yang membuat saya terkejut. Tulisan yang menyatakan keminderan sang penulis setelah bergabung dengan Facebook. Betulkah?

Oleh: Mochamad Yusuf*

Penulis ini menjadi minder setelah melihat teman-temannya dulu sekarang sudah berbeda. Ada yang sudah bepergian ke luar negeri, dari fotonya yang mejeng di tempat wisata terkenal. Ada yang sudah kaya karena berfoto bersebelahan dengan mobil mewahnya. Menjadi terkenal karena berfoto dengan orang-orang terkenal.

Perasaan minder ini dia tuliskan di Facebook. Ternyata tidak hanya dia yang memiliki perasaan itu. Banyak juga yang memiliki perasaan seperti itu. Itu terlihat dari komentar dan message yang masuk. Penulis merasa dia dan temannya yang bikin minder itu, sama keadaannya waktu sekolah. Bahkan dia banyak membantu pelajarannya, karena dia bodoh dan malasnya.

Apakah Anda juga mengalami perasaan seperti ini?

Sebenarnya kita tak tahu bagaimana perasaan atau latar belakang mereka sebenarnya. Apakah benar mereka seperti apa yang kita sangka dari foto yang kita lihat di Facebook itu. Yang kita lihat sebenarnya hanya sisi luarnya. Seperti peribahasa bilang, “Rumput tetangga terasa lebih hijau.”

Kita tak tahu meski bagi kita mereka terasa lebih bahagia atau mungkin lebih sukses dari kita dengan melihat foto-foto itu. Tapi itu bukan berarti mereka juga bahagia dan sukses seperti yang terlihat.

Saya pernah melihat seorang teman sekolah yang foto-fotonya menunjukkan dia sukses. Foto-fotonya ada di tempat di luar negeri. Bahkan dia berfoto dengan teman-teman bulenya. Tapi saya mencoba mencari foto-foto keluarganya, tapi tidak saya temukan. Saya penasaran lalu saya tanyakan dia, jawabannya ternyata dia belum menikah.

Meski aneh bagi saya, karena dia cantik seperti itu, tapi saya tak menanyakan lebih lanjut kenapa tak berkeluarga juga. Bagi saya, saya merasa lebih lengkap dibanding dia, meski saya tak pernah ke luar negeri seperti dia.

Lalu bagaimana kita bersikap dengan ‘kekayaan dan kesuksesan’ mereka? Saya justru dengan rendah hati menanyakan kunci suksesnya. Siapa tahu ada yang bisa kita contoh. Minimal memberi inspirasi atau referensi kalau kelak kita butuhkan informasi lebih detil. Sering karena ketidaktahuan kita, sehingga kita tak berhasil seperti seharusnya.

Misal: saya sejak dulu ingin menulis dan menerbitkan buku. Tapi bayangan saya, melakukan itu sangatlah susah. Sampai saya ketemu dengan teman sekolah. Dia memberi inspirasi dan petunjuk, bahkan dorongan bahwa saya juga bisa sepertinya. Dia memang penulis buku bahkan bestseller. Karenanya kemudian saya juga bisa memiliki buku sendiri.

Kalaupun tak bisa mengikuti jejaknya, percayalah kita tetap orang paling beruntung sedunia. Karena itu tetaplah bersyukur. Dengan bersyukur Anda akan menemukan banyak sekali kenikmatan yang mungkin hanya Anda miliki. Orang lain tidak. Selain itu dengan bersyukur, kita akan menjalani hidup dengan ceria dan bersemangat. [TSA, 12/1/2010 subuh]

~~~
*Mochamad Yusuf adalah konsultan senior TI, pembicara publik, host radio, pengajar sekaligus developer website & software SAM Design. Aktif menulis dan bukunya telah terbit, “99 Jurus Sukses Mengembangkan Bisnis Lewat Internet”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya atau di profil Facebooknya.