Oleh: Mochamad Yusuf*

Sabtu malam 14 Nopember silam, secara tak sengaja saya menonton sebuah acara di MetroTV. Sebenarnya saya jarang nonton TV, karena saya dan istri sepakat melarang anak-anak menonton TV di hari-hari sekolah. Untuk itu, TV dimasukkan ke gudang dan baru dikeluarkan pas hari libur , yakni jumat malam sampai minggu sore. Minggu malam TV sudah dimasukkan kembali ke gudang.

Meski di hari bebas nonton TV, entah karena kebiasaan tidak nonton TV atau capek atau programnya tak ada yang bagus, saya jarang pula menonton TV. Kalaupun menonton, saya tak loyal pada sebuah acara. Pindah-pindah channel. Jadi kalau ada program/acara TV yang saya nonton sepenuhnya, berarti itu ‘mendapat kehormatan’ dari saya. Hehehe.

Di malam minggu itu, acara yang ‘mendapat kehormatan’ itu adalah ‘Legenda’. ‘Legenda’ adalah acara besutan maestro kuis dan reality show, Helmy Yahya, yang berisi lagu-lagu lama sekitar era 70-90an. Acara berformat talk show dengan mengundang nara sumber yang membahas sebuah tema. Tentu saja acara penuh dengan pemutaran video klip lagu-lagu lama.

Tema pada malam itu adalah karya-karya David Foster. Helmy Yahya dan narasumber membahas siapa itu David Foster dan karya-karyanya. Ada “Goodbye”-nya Air Supply, soundtrack “Bodyguard”-nya Whitney Houston, Earth Wind & Fire, Madonna, Olivia Newton John dan lainnya.

david_foster-640

David Foster, kampiun pemusik yang menghasilkan banyak hits dan penghargaan.

Menikmati lagu-lagu David Foster tersebut, saya seperti terlempar ke masa-masa sekolah saya. Di mana saya harus ngelembur belajar untuk dapat nilai baik. Ketika semua anggota keluarga sudah terlelap tidur, saya begadang belajar dengan teman alunan musik dari radio. Lagu-lagu yang diputar itu beberapanya ditayangkan di program ‘Legenda’ itu.

Musik Sebagai Tuan Rumah di Negeri Sendiri

Tiba-tiba saya sadar, ternyata saya sudah lama tak ‘berteman’ dengan musik barat. Tapi dengan musik nasional, musik Indonesia tercinta. Dan baru saya sadari di radio-radio bahkan televisi, lagu yang kerap diputar adalah lagu nasional. Karena itu saya terperangah bahwa di Inggris saat ini ada ‘The Saturdays’ yang meledak dan jadi idola. Mereka secantik dan seenergik Spice Girl. Mereka adalah ‘Spice Girl’nya saat ini.

saturdaysjustcantsleeve-640

The Saturdays, Spice Girl-nya era sekarang.

Saya yakin generasi muda sekarang ini lebih kenal dengan pemusik lokal seperti Peter Pan, Dewa, ST12, D’massiv, Nidji, Viera dan lainnya. Mereka sudah tak tahu siapa pemusik atau penyanyi yang lagi ‘in’ di luar sana. Jadi saya tak kaget, ketika seorang pelajar menanyakan saya siapa Michael Jackson itu ketika dia meninggal beberapa saat lalu. Padahal dulu saya dan segenerasi tidak hanya kenal penyanyi barat, penyanyi tetangga saja bisa jadi idola seperti Maribeth atau Jose Mari Chan.

Bagi saya ini adalah kemajuan yang luar biasa bagi negeri ini. Di tengah keterpurukan dengan miskinnya prestasi, bahkan di tingkat SEA Games saja tak jawara, di lain pihak kita disesaki prestasi negatif seperti korupsi, prestasi ini seakan oase di padang pasir yang tandus. Begitu menyejukkan.

Musik seakan sudah menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Bahkan juga di negara-negara tetangga. Musik tidak hanya menjadi sesuatu yang menghibur, tapi juga membuka lapangan kerja, menggerakkan sektor perekonomian, meningkatkan pendapatan operator seluler seperti XL, juga mendatangkan devisa bagi negara. Musik sudah menjadi mesin penggerak ekonomi yang aktif saat ini.

Industri Kreatif Kemenangan Industri Kita

Beberapa saat lalu pemerintah Indonesia menawar untuk menunda pelaksanaan perdagangan bebas (AFTA) di kawasan Asia tenggara. Alasan pemerintah perlu waktu untuk mensosialisaikannya. Tapi alasan sebenarnya bagi saya, Indonesia belum siap bertempur dengan negara-negara tetangga bahkan sekalipun dengan negara Vietnam, yang barusan bangkit dari lamanya perang.

Pemerintah belum menyiapkan infrastruktur dan belum mantapnya industri-industri bahan baku, sehingga produk-produk Indonesia belum kompetitif. Apalagi ada mitos etos kerja yang tak produktif. Karena itu sedikit demi sedikit beberapa industri asing memindahkan pabriknya dari Indonesia ke negara lain seperti Thailand atau Vietnam.

Kalau kita amati industri yang padat modal bahkan padat teknologi bisa berpindah ke satu negara ke negara lain, mengikuti biaya produksi yang murah. Meski pemiliknya tetaplah negara-negara maju. Seperti industri sepatu. Dari Amerika Serikat sebagai pemilik merk dan pemakai sepatu ‘sneaker’ terbesar pindah ke Meksiko, lalu ke Indonesia, sekarang pindah ke Vietnam.

Tapi coba bandingkan dengan industri kreatifnya. Musik misal tidak dapat dipindahkan ke negara lain. Atau film. Sejak dulu ada di Hollywood tak bisa dipindahkan ke Jepang, Inggris apalagi Indonesia! Padahal industrinya sangat legit karena bisa mendulang pendapatan sangat gila-gilaan seperti film Titanic yang pendapatannya bisa trilyunan. Dan ke depan ada film Avatar yang diramalkan lebih gila-gilaan lagi.

avatar-movie-640

Avatar the Movie, film yang diramalkan berpendapatan terbesar sepanjang masa.

Sepertinya memang kita tidak bisa bersaing di industri padat modal, padat karya atau sekalipun padat teknologi ini. Namun kita punya kekuatan industri, yang tidak mudah dipindahkan atau ditiru negara lain, yakni industri kreatif. Musik seperti sudah saya jelaskan di atas, adalah salah satunya. Yang lain adalah desain dan TI (teknologi informasi). Ini yang terjadi pada SAM Design, perusahaan web desain yang berlokasi di Surabaya.

Desain yang Universal

SAM Design sebenarnya distributor komputer bermerk (branded). Namun ketika krisis moneter menghantam di awal orde reformasi, tingkat penjualannya menurun dari waktu ke waktu. Karena dolar yang tinggi, maka harga semakin melangit. Padahal di sisi lain nilai pendapatan masyarakat menurun, sehingga daya beli turun. Untuk itu dilakukan efisiensi. Salah satunya pengurangan karyawan. Dari bulan ke bulan jumlah karyawan berkurang. Bayang-bayang kebangkrutan di depan mata.

Untuk survive harus beralih ke sektor lain. Karena daya beli konsumen Indonesia menurun, maka targetnya adalah konsumen luar negeri yang tak terkena dampak krisis moneter. Tapi jualan apa yang masih kompetitif dan kita menang dengan negara lain? Jualan TV, mereka bisa bikin lebih canggih dan murah. Jualan sepatu, harganya tak kompetitif.

Dipikir-dipikir, akhirnya mereka memilih desain. Desainlah yang masih kompetitif dengan negara lain. Bahkan kita dikenal dengan cita rasa seni yang tinggi dan orisinal. Mereka juga tidak mudah meniru desain kita, karena modal desain adalah kreativitas. Tidak semudah itu menciptakan jiwa kreatif khususnya seni.

me-&-sammies-2009-640

SAM Design, pemain lokal namun berani melayani global

Selain itu desain bersifat universal. Apa yang bagi rakyat Indonesia bagus, bagus pulalah bagi rakyat Amerika atau Eropa. Sehingga tak bingung apakah ini layak diterima konsumen atau tidak, karena kita bisa rasakan sendiri sebelum mengirimkannya.

Desain bisa dijual dengan mudah dan kebetulan ada media untuk transaksinya yakni internet. Jadinya mereka menawarkan jasa pembuatan web desain. Pada waktu itu sekitar akhir tahun 99-an, website masih bersifat statis. Belum ada web programming yang membuatnya dinamis. Jadi kekuatannya memang pada desain.

Lalu datanglah permintaan dari California untuk membuat website sebuah sekolah. Inilah klien pertama mereka. Setelah dikerjakan, dia puas dan memberi order lagi. Bahkan teman-temannya direferensi, sehingga datang banyak order dari Amerika. Ini semua membuat mereka optimis bahwa industri kreatif memang kekuatan dari industri Indonesia.

Saat ini banyak sekali industri kreatif TI yang tidak hanya melayani konsumen Indonesia, tetapi luar negeri. Di Bali, bahkan ada perusahaan yang kantornya seperti hotel. Klien-kliennya bisa datang untuk meeting sekalian liburan. Secara individu, para profesional Indonesia dikenal pintar dan kreatif membuat sistem informasi dan website disamping harga yang kompetitif dengan India atau Cina.

Semua itu karena ada media baru yakni internet. Internetlah yang memungkinkan ini semua. Internetlah yang mendorong, menumbuhkan dan memperkuat industri kreatif.

Internet Modal Industri Kreatif

Internetlah yang membuat sebuah lingkungan kondusif bagi para kreatif untuk berkarya. Buktinya adalah lagu-lagu yang menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Internet juga menjadi media promosi yang paling efektif.

Sebuah trio pemusik, “Goodnight Electric”, yang membawa genre aneh yakni memainkan musik dari komputer, telah beberapa kali manggung di Eropa. Bahkan sempat didokumentasikan oleh TV Jerman. Di Indonesia mungkin dia tak populer, tapi ternyata di negeri orang lain dia jadi raja. Kata mereka, “Goodnight Electric” bisa membuat musik bisa berjiwa dan bersemangat. Padahal lagu-lagu seperti itu biasanya dingin. Dan masih banyak pemusik seperti ini.

Goodnight Electric-01

Goodnight Electric, salah satu pemain lokal lain namun jaya pula di global

Kalau dikatakan hanya pemusik ‘underground’ saja yang berpromosi di internet, anggapan itu salah. Banyak pemusik besar yang terkenal berkat internet. Mbah Surip contohnya. Sebelum terkenal, ternyata dia membuat video klip yang diupload ke YouTube. Dari YouTube inilah kemudian populer. Saykoji, rapper lokal, bahkan berani mengupload lagunya di internet dengan gratis. Dia tak takut lagunya dibajak. Dia malah berharap dibajak, sehingga bisa populer.

Lalu dari mana pendapatannya kalau lagunya dibagikan gratis? Dari Ring Back Tone (RBT)! RBT ini adalah nada tunggu ketika seseorang menelpon sebelum diangkat. Ini aneh memang, karena yang berlangganan (yang mengeluarkan uang) justru tak mendengarkan, tapi orang lainlah yang menikmati. Ini memang khas Indonesia. Di negara lain tak segempita seperti ini.

Bagi pemusik RBT ini lebih enak. Karena lebih mudah dan cepat mengukurnya jumlah penjualan dibanding penjualan lewat kaset atau CD. Juga tak terlalu banyak mengeluarkan biaya promosi.

Bagi operator seluler, ini juga menjadi tambahan penghasilan yang tak sedikit. Pendapatan RBT ini bisa menyumbang 5-15% pendapatan total. Uang yang masuk dari RBT bisa mencapai 200-500 milyar per tahunnya. Seperti XL yang juga merasakan legitnya RBT sampai 216-240 milyar per tahun. “Setiap bulan kami bisa meraup sekitar Rp 18 miliar – Rp 20 miliar dari biaya langganan RBT,” ujar I Made Harta Wijaya, General Manager Layanan Nilai Tambah dan Pemasaran Excelcomindo Pratama.

rbt-operator

Pendapatan Operator Seluler dari RBT1

Internet yang Masih Mahal

Sayangnya meski ternyata dampak internet yang sudah gegap gempita itu, ternyata penetrasi internet di Indonesia masih rendah. Penetrasi adalah perbandingan pemakai dengan jumlah penduduk secara keseluruhan. Penetrasi internet masih sekitar 10,5% dari jumlah penduduk Indonesia yang sudah mencapai 235 juta. Ini terasa jomplang dibandingkan negara tetangga seperti Singapura (73%), Malaysia (68%) bahkan sekalipun dengan Vietnam (25%).

penetrasi-internet-640

Penetrasi internet Indonesia dan negara tetangga

Hal ini mungkin terjadi karena biaya koneksi yang mahal. Bagi beberapa orang internet masih merupakan barang mewah. Mereka lebih banyak berinternet di kantor yang menjadi fasilitas. Namun tawaran paket dari operator seluler membantu konsumen mewujudkan keinginan berinternet yang terjangkau. Bahkan ada keunggulan lain yakni bisa di mana saja dan kapan saja.

Mahalnya ini karena banyak content-content provider di luar negeri seperti Google, Gmail, Yahoo ataupun Facebook. Padahal untuk bisa sampai ke server-server ini kita harus menggunakan saluran (bandwith) negara tetangga. Padahal harga bandwith ini tidaklah murah.

Namun tingkat pertumbuhan per tahunnya sangat tinggi. Indonesia di tahun 2008 mencapai 1500%. Jadi bertambah tak 2-3 lipat, tapi 15 kali lipat! Bandingkan dengan Singapura (150%) atau Malaysia (500%). Dengan jumlah penduduk yang sangat besar (235juta), ada harapan sangat besar pengguna internet menjadi terbesar di Asia tenggara. Mereka bisa dijadikan konsumen yang empuk untuk melakukan promosi via internet.

pertumbuhan-internet-640

Pertumbuhan internet Indonesia dan negara tetangga

Mereka juga konsumen yang legit bagi operator seluler untuk menambah penghasilan dari transaksi data via seluler. Apalagi dengan banyaknya gadget yang memudahkan koneksi ke internet (online). Ada Blackberry yang butuh koneksi BIS/BES, ada Nokia dengan Ovinya sampai HP online yang murah meriah dari merk lokal/Cina. Apalagi banyak content internet yang lagi digemari seperti Facebook, email dan chatting.

Ke depan operator yang sanggup melayani transaksi data secara mobile akan banyak menangguk untung. Operator harus pintar meramu paket-paket yang tepat untuk menjaga konsumen selalu online. Dan yang penting adalah menjaga kestabilan berinternet. Tidak mudah ngedrop kecepatan apalagi putus-nyambung.

Usulan untuk Kominfo

Sayangnya meski terlihat pontensi yang cerah dari internet, pemerintah belum terlalu giat mendorong, mendukung dan menciptakan lingkungan yang kondusif tumbuhnya internet. Karena itu saya mengusulkan beberap langkah yang bisa dilakukan dalam jangka pendek, menengah dan panjang oleh pemerintah khususnya Kominfo demi kemajuan internet, demi daya saing industri kreatif.

Jangka pendek:
1. Pemerintah menyediakan sebuah fasilitas khusus yang sifatnya gratis atau murah untuk hosting berbagai aplikasi dan website. Dengan ini diharapkan banyak muncul content-content lokal.
2. Pemerintah mendorong pelajar, mahasiswa dan akademisi untuk membuat content-content internet yang menarik dengan berbagai lomba. Bila dulu pemerintah rutin mengadakan lomba karya tulis, sebaiknya ke depan ditambah lomba kreativitas IT dengan penghargaan yang sama yakni diundang upacara 17 Agustus di istana.

Jangka menengah:
1. Pemerintah mengatur koneksi internet untuk ke satu titik dahulu (Internet Exchange), dimana ini akan mengurangi biaya bandwith internasional bila mengakses content lokal.
2. Pemerintah memberikan insentif yang menarik sehingga industri pendukukung bisa tumbuh subur. Misal pembangunan gedung cyber, catu daya (listrik PLN) tersendiri, penangguhan pajak dan lainnya.

Jangka panjang:
1. Pemerintah membuat jaringan FO (fiber optik) yang menghubungkan seluruh pulau-pulau besar. Dengan FO akan didapat bandwith yang sangat besar namun lebih murah bila dibandingkan memakai satelit. Saya usulkan lokasi titik pusat ini ada di Madura. Madura selain masih dekat dengan Jawa apalagi ada jembatan Suramadu, juga berada di tengah-tengah kepulauan Indonesia.
2. Pemerintah menyambung koneksi langsung ke Amerika Serikat lewat kabel FO. Bila dianggap memakan biaya besar, bisa disambungkan ke negara-negara besar yang cukup besar bandwithnya. Saran saya bisa disambungkan ke Australia. Apalagi nanti titik temunya di Madura yang relatif dekat ke Australia.
3. Di titik ini akan dibangun pusat koneksi seluruh Indonesia. Jadi di sini ada koneksi internet, ada koneksi ke operator seluler, koneksi telekomunikasi PSTN dan lainnya.

Penutup

Terbukti industri kreatif adalah industri kompetitif yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Industri ini tak mudah dipindahkan atau dijiplak negara lain. Internet tak hanya menyuburkan semangat berkreasi, tetapi juga sebagai promosi dan media penjualan. Internet menjadi terjangkau setelah operator seluler membantu koneksi yang murah, apalagi ada dukungan gadget yang terjangkau. Masalahnya sekarang biaya internet yang mahal ke luar negeri. Ini tidak bisa ditanggung sendiri oleh pemain swasta. Tapi pemerintahlah yang dapat melakukannya. Caranya dengan menjalankan beberapa langkah yang saya usulkan.

Semoga industri kreatif tetap menjadi pilihan industri yang tepat bagi Indonesia. Sehingga kita masih bisa berjaya dan makmur sejahtera. Amin.

~~~
*Mochamad Yusuf adalah salah satu pemain di industri kreatif web desain Indonesia. Anda dapat menemuinya di http://m.yusuf.web.id.