(ref: sxc.hu)
(ref: sxc.hu)
Suatu waktu setelah memberikan seminar, saya ngobrol dengan seorang peserta. Dia ini seorang pemerhati pendidikan. Ada beberapa hal yang perlu saya renungkan dari percakapan ini. Apakah itu?

Oleh: Mochamad Yusuf*

Kadang saya bersyukur dengan kegiatan saya berbagi ilmu ini. Selain saya bisa memperluas ilmu karena harus belajar lagi, saya juga mendapat tambahan ilmu dari peserta. Ya, kuncinya saya harus rendah hati untuk mau belajar dari orang lain. Tak merasa sayalah yang lebih pintar.

Seperti juga percakapan dengan seorang peserta seminar saya tentang PR 2.0 beberapa waktu lalu. Dia seperti mengingatkan saya bahwa pendidikan anak itu penting. Siapapun orang tua seharusnya mencari pendidikan terbaik untuk anaknya sekalipun mahal. Terbaik tidak hanya masalah keilmuan tapi juga pengembangan akhlaknya.

Sekolah yang baik tak hanya sekedar berprestasi sehingga menjadi favorit. Tapi sekolah yang baik haruslah memberi contoh teladan, pembentukan akhlak mulia dan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pengembangan pribadi dan prestasi.

Karena itu dia menyarankan untuk memasukkan ke sekolah terpadu dengan agama. Ini khususnya untuk pendidikan dasar: SD (sekolah dasar) dan SMP (sekolah menengah pertama). Mahal memang tapi itu sepadan dengan hasil yang diraih.

Dia bercerita pernah menyewa biro konsultan psikologi untuk sebuah sekolah agama terpadu ini. Konsultan yang disewa ini ternyata kagum dengan inisiatif, percaya diri dan keberanian para siswa maju menyelesaikan soal atau menjawab pertanyaan. Mereka berebut maju atau menjawab ketika konsultan ini memberikan tantangan atau pertanyaan. Padahal di sekolah lain yang pernah ditangani, sekalipun negeri favorit, siswa biasanya menunduk tidak mau maju.

Masalah akhlak juga demikian. Dia bercerita ada lulusan SD sekolah agama terpadu, masuk ke sekolah negeri favorit. Orang tuanya ingin lebih irit, karena biaya ke negeri lebih murah. Yang terjadi kemudian penyesalan orang tuanya. Akhlak anaknya berubah setelah bersekolah di sini. Dia yang dulunya alim, hormat sama orang tua menjadi nakal, merokok dan lainnya.

Memang ada harga untuk itu. Biaya menyekolahkan ke sekolah umum bahkan negeri favorit sekalipun biasanya terjangkau. Dengan menyekolahkan kesini, uang kita bisa berlebih sehingga bisa menabung untuk renovasi rumah, mengganti mobil keluaran baru atau liburan ke luar nageri. Namun hasil pendidikan anak kualitasnya meragukan.

Dengan menyekolahkan ke sekolah agama terpadu, biaya lebih mahal sehingga sedikit atau tidak ada tabungan. Sehingga tidak bisa renovasi rumah, mengganti mobil dengan baru atau jalan-jalan ke mall setiap saat. Tapi kualitas pendidikan anak bisa dijamin.

Lalu apalah artinya bisa menabung tapi harus berurusan dengan pihak lain karena masalah anak. Waktu masih anak sudah merepotkan begini, apalagi kalau sudah besar (yang repot tidak hanya orang tuanya, tapi orang lain, hehehe).

Percakapan dengannya membuat saya merenung masalah pendidikan anak saya ini. Saya memang berencana setelah anak saya lulus SD, menyekolahkannya ke SMP negeri yang favorit. Tapi kalau hasilnya tak bagus, meski mahal saya mungkin harus mencari sekolah agama terpadu yang bagus.

Memang mahal. Tapi itu bukanlah biaya konsumsi, tapi investasi. Sebuah investasi masa depan yang tak pernah rugi. Bagi saya dan anak, mungkin bangsa pula. Tapi jujur ini sesuatu yang berat. Sesuatu dengan godaan besar, yang memang lebih enak mikir masa sekarang yang pendek.

Semoga saya bisa memberi solusi yang terbaik. Amin. [TSA, 15/1/2010 subuh]

~~~
*Mochamad Yusuf adalah konsultan senior TI, pembicara publik, host radio, pengajar sekaligus developer website & software SAM Design. Aktif menulis dan bukunya telah terbit, “99 Jurus Sukses Mengembangkan Bisnis Lewat Internet”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya atau di profil Facebooknya.

2 total views, 2 views today

1 thought on “Investasi Masa Depan Yang Tak Pernah Rugi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *