(ref: sxc.hu)

(ref: sxc.hu)

Saya maki-maki pada diri. Betapa saya baru tidur pk 00.30, tapi pk 03.00 sudah bangun. Saya bayangkan teman-teman dan anak buah saya yang tidak ikut ke Jakarta, yang masih terlelap. Dan sudah pasti masih meringkuk di bawah selimut. Betapa menyenangkan tidur di malam yang dingin ini.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Saat saya di rumah Ibu, ada tayangan televisi yang memperlihatkan presiden kita, SBY, sedang memberikan pidato. Tiba-tiba Ibu berkomentar, “Dulu saat awal menjabat presiden, dia tampak gagah. Sekarang kelihatan tua, lelah, keriput, mengantuk dan banyak beban.”

Saya yang tidak memperhatikan tayangan TV, ikutan berkomentar, “Dan tambah putih rambutnya. Hehehe.” Saya tetap tidak mendongakkan kepala dari koran yang sedang saya baca untuk melihat tayangan TV, karena sudah tahu bagaimana bayangan presiden SBY saat ini.

“Begitu kok banyak yang ingin menjadi presiden?” kata Ibu menyambung sambil prihatin. Siapa yang nggak kepingin jadi presiden di negeri ini? kata saya dalam hati. Hehehe.

Betul. Orang-orang mungkin silau dengan apa yang akan didapat bila jadi presiden. Mobil dinas Mercedes Benz seri S, tinggal di istana dikelilingi paspampres, punya pesawat kepresidenan, dikawal ‘vorrejder’ dalam perjalanan dan lain-lainnya.

Saya teringat dengan seorang teman yang iri dengan bosnya yang sering keluar kota. Bosnya ini ke sana-kemari naik pesawat. Sedangkan teman saya ini tidak pernah naik pesawat. Sepertinya memang enak naik pesawat. Dalam sekejap bisa ke kota yang jauh. Bahkan ke sebuah negara yang beda benua nun jauh di sana. Begitu pikiran teman saya.

Dia tidak tahu, bahwa naik pesawat hanyalah salah satu konsekuensi terhadap jabatan. Ini mungkin konsekuensi yang enak. Tapi dia tidak tahu ada konsekuensi lain, yang tidak enak dengan naik pesawat itu.

Awalnya saya juga punya perasaan yang sama dengan teman ini. Enak ya jadi bos. Bisa kemana-mana naik pesawat. Bertahun-tahun saya kerja, saya juga tidak pernah naik pesawat.

Akhirnya saya mendapat kesempatan naik pesawat, pergi ke Jakarta mengikuti pameran sebuah perusahaan konsultan marketing yang kondang di negeri ini. Tentu saja saya senang. Tapi senangnya hanya sebentar.

Karena yang mendapat tugas ke Jakarta itu, maka saya harus mempersiapkan segala hal untuk pameran itu. Jadinya bermalam-malam saya nglembur. Bahkan semalam sebelum berangkat besok paginya, saya masih nglembur sampai tengah malam.

Tiba di rumah sudah melewati tengah malam. Langsung saya terlelap. Namun sebentar saya tidur, saya sudah bangun. Saya bangun agar tidak terlambat naik pesawat.

Pesawat berangkat pk 06.00, maka saya harus tiba di bandara maksimal pk 05.00. Perjalanan ke bandara 45 menit, dan 45 menit ke kantor, karena kita kumpul di kantor. Jadi saya harus berangkat dari rumah pk 03.30. Untuk itu saya harus bangun pk 03.00 untuk mandi dan mempersiapkan perjalanan.

Saya maki-maki pada diri. Betapa saya baru tidur pk 00.30, tapi pk 03.00 sudah bangun. Saya bayangkan teman-teman dan anak buah saya, yang tidak ikut ke Jakarta, yang masih terlelap. Dan sudah pasti masih meringkuk di bawah selimut. Betapa menyenangkan tidur di malam yang dingin ini.

Akhirnya dengan kejadian ini saya sadar, sesuatu itu ada konsekuensinya. Tidak perlu iri pada sebuah jabatan. Yang terlihat adalah enaknya, tapi yang tidak terlihat adalah tidak enaknya.

Seperti teman yang sudah nyambi kerja sambil tetap kuliah. Oleh perusahaannya dia diberi ‘pager’. Jaman dulu belum ada ponsel. Tapi ‘ber-pager’ sudah keren. Meletakkan ‘pager’ di ikat pinggang, membuat seisi kampus jadi gempar. Bisa bikin terpesona para mahasiswa cewek, dan bikin cemburu para mahasiswa cowok. Dosen pun melirik dengan cemburu.

Tapi mereka yang iri, tidak tahu ada konsekuensi tidak enaknya. Teman saya itu pernah mengeluh, ingin mengembalikan saja ‘pager’-nya ke kantor. Karena dengan ‘pager’ ini, dia jadi terbebani pekerjaan. Karena kemana-mana dia mendapat informasi/perintah dari kantor. Tidak ada alasan tidak tahu, karena pesan ke ‘pager’ pasti diterima. Kalau tidak dilanjuti maka dianggap membangkang/tidak ‘perform’.

Orang hanya melihat enaknya dari luar. Seperti teman lain yang bekerja di penambangan lepas pantai (‘oil rig’). Gajinya banyak. Namun hidupnya di tengah laut. Tidak peduli waktu. Kalau memang harus kerja, tidak peduli hari raya, tetap berangkat. Jauh dari keluarga. Bisa berbulan-bulan di tengah keganasan ombak samudra.

Karena itu, janganlah gampang iri terhadap sebuah posisi/jabatan. Sepertinya posisi tersebut sangat menggiurkan. Tapi di belakang itu ada konsekuensi-konsekuensi yang berat bahkan tidak enak (seorang teman bercerita bahwa bosnya, owner, di tengah malam sampai dini hari masih mengirimi sms pekerjaan. Sepertinya bosnya tidak dapat tidur semalaman. Mikir perusahaan terus. Padahal teman saya sudah tidur nyenyak. Hehehe).

Yang bisa kita lakukan adalah melakukan yang terbaik untuk pekerjaan kita. Bila kita sudah bekerja dengan baik maka posisi lebih tinggi akan diraih. Bila demikian kita akan siap dengan segala konsekuensi, baik enak atau tidak.

Selamat bekerja terbaiknya! [TSA, 28/4/2014 tengah malam]

~~~
Kerja 4 As adalah serial tulisan berkaitan dengan dunia kerja, problematika kantor dan solusinya, tip & trik serta ke-SDM-an (Sumber Daya Manusia). Anda bisa membaca artikel Kerja 4 As lainnya di: http://enerlife.web.id.

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, konsultan tentang online communication, pembicara publik tentang IT, host radio, pengajar sekaligus praktisi IT. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya, http://yusuf.web.id atau di Facebooknya, http://facebook.com/mcd.yusuf.