Benarkah bangsa Indonesia adalah bangsa yang penuh tenggang rasa/tepo seliro? Yakni begitu memperhatikan kepentingan yang lain. Namun kalau kita sempatkan melihat situasi di jalan, mungkin kita ragu.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Pagi ini ketika berangkat kerja, terjadi kemacetan di sebuah jalan. Saya dan istri heran, jarang sekali sebenarnya jalan ini macet. Memang jalan ini sempit. Hanya pas 2 mobil sedang berpapasan. Tapi kepadatan kendaraan yang lalu-lalang tak begitu banyak.

Dengan susah payah, saya arungi kemacetan ini. Setelah beberapa menit terbuang dan mengerahkan banyak tenaga, akhirnya saya ketemu juga dengan simpul kemacetan itu. Ternyata ada 2 mobil parkir yang nyaris berseberangan. Di kiri kanan jalan. Karenanya ruang yang tersisa hanya satu jalur, sehingga kendaraan yang lewat harus bergantian.

Saya toleh kanan-kiri mencari-cari kira-kira di mana pengemudi kedua mobil ini. Sebuah mobil parkir di depan sebuah rumah. Mungkin dia pemilik atau tamu rumah ini. Sedang yang satu mobil parkir di depan sebuah warung. Saya tebak pengemudinya pasti makan di sana.

Saya geleng kepala. Siapapun yang terakhir parkir, seharusnya mengatur kendaraan supaya tak sejajar dengan kendaraan lain. Kalau tahu seperti ini seharusnya memindahkan mobilnya ke tempat lain. Dan kalau misalkan yang parkir adalah yang makan di warung, saya lebih geleng kepala lagi. Karena kemacetan itu jelas terlihat dari para penikmat di warung itu.

Kalau saya ingat, sebenarnya ini bukan kejadian yang pertama dan satu-satunya. Banyak. Ada mobil parkir di dekat belokan. Atau mobil parkir kurang minggir. Mobil mogok di tengah jalan, padahal seharusnya bisa dipinggirkan. Parkir banyak sepeda motor dengan posisi melintang. Dan lainnya.

Secara hukum mereka tidak salah melakukan. Tidak ada larangan untuk melakukan itu. Namun cobalah diperhatikan akibat tindakan mereka. Banyak orang yang dirugikan. Ada yang mau sekolah menjadi terlambat. Ada yang berangkat kerja ke kantor menjadi terhambat. Waktu terbuang, tenaga diperas, bensin terbuang.

Apakah mereka tidak bisa menempatkan dirinya di posisi yang dirugikan? Kalau para pengemudi sembrono itu di pihak yang dirugikan, pasti mereka juga akan mengomel. Apakah tidak ada rasa tenggang rasa/tepo seliro di hati mereka? Bukankah itu menjadi jiwa bangsa Indonesia. Bahkan dulu sampai ditatarkan di mana-mana.

Apakah rasa tenggang rasa itu sudah luntur? Tidak hanya luntur. Kalau luntur masih terlihat sisa-sisanya. Saya khawatir perasaan itu sudah hilang sama sekali. Jadinya di jalan menjadi rimba ganas yang menggunakan hukum rimba.

Bagaimana pendapat anda?

~~~
*Mochamad Yusuf adalah konsultan senior TI, pembicara publik, pengajar sekaligus developer website & software. Aktif menulis dan bukunya telah terbit. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya atau di profil Facebooknya.