Zidan bersama kakek dan neneknya saat berkunjung ke rumah (ref: dok. pribadi)

Zidan bersama kakek dan neneknya saat berkunjung ke rumah (ref: dok. pribadi)

Keputusan ini bagaikan geledek di siang hari bolong. Meski saya tahu kondisi keluarga terakhir-terakhir, tapi tetap saja membuat saya kaget. Berita ini membuat saya seperti di ujung dunia. Gelap. Buntu. langit seakan runtuh.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Suatu ketika saat saya menginjak di tahun pertama kuliah, orang tua memanggil saya. Mereka ingin berbicara dan membahas sebuah hal yang serius. Ini bisa saya rasakan, karena beberapa hari sebelumnya tampak mereka secara sembunyi-sembunyi membahas sesuatu yang serius.

Lalu saya duduk bertiga dengan Bapak dan Ibu. Awalnya mereka berat memulai percakapan ini.

Akhirnya saya tahu maksud perbincangan itu. Ayah dan Ibu sudah tidak sanggup membiayai kuliah saya. Jadi saya tidak akan dimarahi kalau saya tidak kuliah. Kalau tetap meneruskan kuliah, monggo saja. Tapi jangan berharap ada kucuran dana dari Bapak dan Ibu.

Keputusan ini bagaikan geledek di siang hari bolong. Meski saya tahu kondisi keluarga terakhir-terakhir, tapi tetap saja membuat saya kaget. Berita ini membuat saya seperti di ujung dunia. Gelap. Buntu. langit seakan runtuh.

Meski raga dan jiwa ini rasanya sudah remuk, saya tegar mendengar semua penjelasn Bapak. Ibu hanya diam dan menyimak saja. Memang keputusan berat ini harus diambil untuk kebaikan semua.

Selama beberapa hari kemaudian saya terus mempertimbangkan apa yang harus saya lakukan. Satu-satunya pilihan adalah bekerja. Namun kerja apa dengan ijazah SMA saya? Apalagi ijazah saya hanya SMA (umum). Bukan SMK yang sudah dididik untuk siap kerja.

Tapi kalau saya meneruskan kuliah, dari mana biayanya? Minimal biaya untuk membayar SPP. Karena kalau kebutuhan lain seperti transport, makan dan kos masih bisa ‘disiasati’. Transport bisa jalan atau naik sepeda angin. Makan dan kos gratis karena numpang orang tua.

Diam-diam saya mensyukuri takdir diterimanya saya kuliah di Unair. Kampus yang cukup dekat dari rumah. Sekitar 5 km-an. Padahal sebelumnya saya sudah mencoba 2 kali untuk dapat kuliah di ITB, Bandung. Kalau saya kuliah di Bandung, saya pasti angkat kopor dari sana. Karena minimal harus bayar kost dan makan.

Akhirnya saya putuskan tetap kuliah.

Tapi biaya dari mana? Dari honor menulis, jawab saya. Memang saya merasa memiliki kemampuan menulis. Waktu SMA saya sering menulis. Honor menulis bisa sampai Rp 75.000 untuk satu tulisan. Biaya kuliah per semester Rp 120.000. Bila saya bisa menulis 2 artikel selama 1 semester cukuplah saya bisa membiayai kuliah saya.

Namun justru saat diharapkan begitu, saya jadi buntu menulis. Tidak kreatif dan tidak produktif. Jangankah memiliki banyak tulisan yang dimuat, membuat tulisan saja susah. Seingat saya hanya berhasil menulis 1-2 tulisan. Dan semuanya tidak berhasil dimuat. Alias saya tidak mendapat honor.

Untuk sementara biaya kuliah saya hutang dari berbagai teman. Tapi sampai 2 semester saya masih belum bisa menulis. Jadi tidak bisa mengharap pendapatan dari menulis. Dan hutang sudah semakin banyak, karena sudah 2 semester. Saya semakin malu bertemu dengan teman-teman yang belum kunjung saya lunasi hutangnya.

Akhirnya saya melakukan silaturahim ke seorang teman SMP. Dia dulu teman sekelas. Duduknya persis di belakang saya. Ngobrol-ngobrol akhirnya saya tahu dia mengajar privat ke murid-murid SD, SMP dan SMA.

Saya cukup kaget melihat apa yang sudah dilakukannya. Karena saya tahu dia bukanlah murid yag pintar. Rankingnya ada di tengah-tengah. Tapi meski begitu dia berani memberikan les privat untuk pelajaran-pelajaran yang relatif sulit seperti Matematika, Kimia dan Fisika.

Saya tertarik dengan hal ini. Maka saya mulai bertanya ini-itu tentang kegiatan mengajar tersebut. Akhirnya saya katakan tertarik dengan pekerjaan mengajar privat ini. Saya tanya bagaimana cara mendapatkan murid. Dia secara terbuka menjelaskan rahasia mendapatkan murid.

Bahkan dia mau memberikan seorang calon murid pada saya. Kebetulan dia sudah mendapat kontak dari seorang wali murid, tapi dia belum memutuskan untuk mengambil. Dia merasa sudah kebanyakan murid. Capek, katanya. Maka calon murid itu dengan ikhlas akan diberikan pada saya. Dia meminta pada hari yang ditentukan datang kembali ke rumahnya.

Pada harinya saya datang dan diajak ke rumah calon murid. Saya diam dan hanya menyimak saja bagaimana negosiasi dan membuat ‘deal’ dengan ‘calon konsumen’. Dari sini saya sedikit belajar ‘sales’ dan ‘negosiasi’.

Akhirnya orang tua itu setuju dengan saya memberikan les privat pada anaknya. Fee yang disepakati adalah Rp 75.000 per bulannya. Tentu saja saya senang dengan ‘deal’ ini. Artinya setelah ini saya mendapat penghasilan tetap. Dengan penghasilan rutin ini saya dapat membayar SPP. Juga dapat mulai membayar hutang pada teman-teman.

Bahkan setelah saya tahu cara mendapat murid, saya berhasil memiliki banyak murid. Dengan penghasilan ini saya bebas dari kebingungan membayar kuliah. Malah saya bisa memabung. Juga langganan 2 koran sekaligus: koran Republika dan The Jakarta Post, untuk belajar bahasa Inggris.

Masih bisa makan-makan di restoran fast food dan nonton film. Sesuatu yang menurut saya tidak bisa saya bayangkan sebelumnya. Sebuah kehidupan borju, menurut ukuran saya waktu itu, bisa saya lakukan. Dan itu sudah saya lakukan saat masih kuliah.

Ini semua berkat sebuah kunjungan ke rumah teman lama. Seorang teman SMP, yang sebenarnya sudah lama berpisah, Silaturahim ke teman yang sudah berbeda SMA dan kampusnya. Memang dulu waktu SMP, saya akrab dengannya. Saya sering berkunjung ke rumahnya. Dan kelak, saya tetap berhubungan dan mengunjungi rumahnya sendiri yang cukup jauh dari rumah saya sekarang.

Dari pengalaman ini, akhirnya saya percaya dengan hadits bahwa silaturahim bisa mendatangkan rezeki. Anda bisa juga mendapat banyak rezeki dengan melakukan kunjungan silaturahim ini. Betul kan? [SUMA, 19/8/2013 siang]

~~~
Kubah adalah Kuliah Bekal Hidup. Tulisan di serial Kubah ini mencoba mencari hikmah dari semua kejadian yang terjadi di alam dan kehidupan sehari-hari. Semoga dengan hikmah ini kita dapat hidup bahagia di dunia dan mulia di akhirat. Artikel lain bisa Anda baca di serial ‘Kuliah Bekal Hidup, http://www.enerlife.web.id/category/kubah/’ lainnya.

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, konsultan tentang online communication, pembicara publik tentang IT, host radio, pengajar sekaligus praktisi IT. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya, http://www.yusuf.web.id atau di Facebooknya, http://www.facebook.com/mcd.yusuf.