(ref: sxc.hu)

(ref: sxc.hu)

Actually I have done it before. But never completed. Always stop halfway. And when excited, I started from begin Koran again. And later stopped again in the middle of the way. And so over and over again.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Beberapa hari lalu seorang teman mengirim pesan ke BBM saya.

“Tahu ODOJ?” tanyanya.
“Tidak,” jawab saya.
“ODOJ itu One Day One Juz. Program membaca Al Quran 1 hari 1 juz.”

Saya tidak merespon. Saya tahu ini sangat berat. Namun dia ternyata tak tinggal diam. Dia mengirim terus pesan-pesan yang terkait program ODOJ. Bahkan meminta saya membaca tautan yang diberikan.

Melihat dia sangat antusias mempromosikan program ODOJ, akhirnya saya tidak bisa diam lagi. Saya bilang, “OK. Siip.” Sebuah jawaban standar. Netral, yang tidak jelas. Apakah mengiyakan atau menolak.

Hari ini, kembali dia mengirim pesan ke BBM saya. Isinya sama. Sepertinya tetap semangat, pantang mundur. Ini mungkin karena dia melakukannya lewat BBM. Memang BBM paling enak buat promosi. Tinggal broadcast.

Cuma saya ragu dengan orang yang biasa broadcast itu. Ragu apakah sudah dibaca dan dimengerti, baru melakukan broadcast? Atau dilihat judulnya menarik dan lihat alineas terakhir disuruh broadcast, maka dia melakukan broadcast. Tanpa membaca lebih dulu, lebih teliti dan mendalam apa yang dibroadcastkan.

Ini sering saya temukan setelah saya mengajukan beberapa pertanyaan dan sanggahan terhadap broadcast tersebut. Mereka sering gelagapan. Jawabannya, sering bilang hanya langsung broadcast saja. Ini mungkin karena gratis melakukan broadcast, sehingga enteng saja melakukannya. Bila membayar seperti SMS, mungkin akan berpikir beberapa kali sebelum melakukan broadcast.

Namun broadcast kali ini menarik perhatian saya. Saya baca broadcast itu. Dan isinya sungguh menyentak saya.

Broadcast itu menceritakan seseorang yang menanyakan pada orang lain tentang program ODOJ. Dan yang ditanya, seperti saya, menjawab netral saja. Namun pertanyaan berikutnya, sungguh mengingatkan saya. Misal: berapa kali Anda membaca koran atau buku? Berapa jam kita lihat TV? Berapa jam kita bekerja sehari? Kenapa kita betah melakukan sebuah hobi?

Lalu dilanjutkan, kenapa kita mau melakukan hal itu? Tentu saja itu karena seizin Allah. Kalau Allah mengizinkan kita pintar, maka kita mau membaca. Kalau Allah mengizinkan kita mendapat rezeki, kita mau saja bekerja sampai nglembur. Dan seterusnya.

Namun kenapa saat melakukan sesuatu untuk Allah, yakni membaca Al Quran, kita tidak mau melakukannya? Padahal sebenarnya itu bukanlah murni untuk Allah. Tetap untuk kita. Allah tidak butuh dan tidak berkurang segalanya, apakah makhluknya membaca Al Quran atau tidak. Saya tercenung.

Betul. Padahal hidup di dunia sebenarnya mencari bekal untuk kehidupan yang lebih kekal. Kenapa kita sampai ngoyo mencari dunia, bahkan dibela-bela sampai kerja larut malam dan kerja lembur?

Akhirnya saya memutuskan untuk menjalankan program ODOJ. Tapi seperti fitrah manusia yang malas dan berat melakukan sesuatu yang baik, saya pasti tidak sanggup melakukan 1 hari untuk 1 juz. Saya takut itu target yang muluk. Saya ingin lebih rasional. Rasional menurut kemampuan saya.

Saya hanya ingin 1 hari membaca 20 ayat Al Quran. Kalau itu saya lakukan secara konsisten dan disiplin, harusnya kurang dari setahun saya sudah menyelesaikan Al Quran secara keseluruhan.

Dan saya ingin fokus membaca terjemahannya saja. Saya sendiri sudah pernah membaca habis Al Quran dalam bahasa Arab. Namun tidak pernah bisa habis membaca terjemahannya. Saya ingin mencoba memahami isi dan kandungan Al Quran.

Sebenarnya saya sudah melakukannya. Namun tidak pernah tuntas. Selalu berhenti di tengah jalan. Dan saat bersemangat, saya mulai dari awal Al Quran lagi. Dan kelak berhenti lagi di tengah jalan. Dan demikian terus berulang-ulang.

Dan nantinya saat membaca terjemahan itu, saya pahami apa yang bisa saya pahami. Saya tidak memaksa untuk memahami dan menafsirkan sendiri sesuatu yang sulit dimengerti. Kalau ini, harusnya ada orang yang lebih tinggi ilmunya yang membimbing saya memahami dan menafisrkan.

Malam ini saya mencoba memulainya. Dan berbeda dengan dahulu. Saya tidak mau terjebak dengan semangat yang kemudian melempem. Saya harus mencari cara. Bila nanti melempem, ada catatannya. Bila kelak kemudian, bersemangat kembali, saya tidak memulai lagi dari awal. Bukan dari Al Fatihah dan Al Baqarah. Tapi harus melanjutkan dari ayat terakhir.

Kemungkinan saya akan memanfaatkan smartphone saya. Atau mungkin mencatatnya di notes. Saya menimbang-nimbang cara yang enak dan efektif. Semoga saya menemukan caranya. Dan yang penting, semoga saya mendapat semangat yang selalu membara untuk membaca Al Quran setiap hari. Tidak berhenti di tengah jalan. Aamiiin. [TSA, 3/2/2014]

~~~
Kubah adalah Kuliah Bekal Hidup. Tulisan di serial Kubah ini mencoba mencari hikmah dari semua kejadian yang terjadi di alam dan kehidupan sehari-hari. Semoga dengan hikmah ini kita dapat hidup bahagia di dunia dan mulia di akhirat. Artikel lain bisa Anda baca di serial ‘Kuliah Bekal Hidup, http://www.enerlife.web.id/category/kubah/’ lainnya.

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, konsultan tentang online communication, pembicara publik tentang II, host radio, pengajar sekaligus praktisi IT. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya, http://yusuf.web.id atau di Facebooknya, http://facebook.com/mcd.yusuf.