(ref: sxc.hu)

(ref: sxc.hu)

Nabi Musa ragu untuk mendekati orang tua itu. Dia ragu, apakah orang tua ini layak masuk surga. Tapi karena dia orang pertama yang dilihatnya saat mau keluar kota, maka seharusnya orang tua inilah yang akan menjadi tetangganya di surga.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Seseorang pernah bercerita pada saya bahwa dia tidak krasan di tempat kerjanya. Saya tanya ada apa. Jawabnya, banyak yang iri padanya. Dia memang berprestasi sehingga disukai pemilik perusahaan. Saya tanya kenapa hal itu dipusingkan. Bukankah itu bukan masalahmu. Itu justru masalah pada mereka.

Jawabnya, mereka sudah mulai menerornya. Bahkan saat kemarin dia tidak bisa mengambil gaji, gaji yang dititipkan perusahaan buat dia telah dibuka. Saya jawab, kalau itu sudah tidak betul. Kamu bisa melaporkan orang yang telah membuka surat itu. Tapi yang lebih baik, kamu lupakan dan abaikan saja mereka. Dan berikutnya kamu ambil gaji sendiri. Nggak usah dititipkan.

Lebih lanjut saya jelaskan, bahwa di manapun akan banyak orang iri terhadap kita. Bahkan kamu tidak percaya, yang iri itu bisa atasanmu atau orang yang kamu anggap dia atasmu. Karena orang selalu melihat yang lain lebih baik darinya. Mereka tidak puas dengan apa yang sudah dimilikinya.

Karena itu di bahasa Jawa ada istilah ‘sawang-sinawang’. Yang artinya melihat yang lain lebih baik. Dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris juga ada istilah seperti ini yakni ‘rumput tetangga terasa lebih hijau’.

Kalau kita tidak bisa menikmati apa yang kita miliki, dan selalu meng-iri apa yang dimiliki orang lain, maka kita tidak akan mudah bersyukur. Itu akan membuat kita merasa kurang. Ini akan membuat hati kita tidak puas. Tidak ada kebahagiaan. Semua terasa menyedihkan. Apapun yang diterima, dimiliki tetap tidak merasa bahagia. Kalau sudah seperti bagaimana rasanya hidup di dunia.

Lalu saya ceritakan sebuah kisah Nabi Musa dan kakek pengumpul kayu bakar.

Pada suatu hari Nabi Musa penasaran siapa yang akan menjadi teman dan tetangganya di surga. Maka dia bertanya pada Tuhan. “Tuhan, bila saya memang akan jadi penghuni surgamu, siapakah yang akan menjadi eman dan tetanggaku di surga?” tanya Nabi Musa. Lalu Tuhan menjawab, “Cobalah besok pagi selepas Subuh, kamu pergi keluar kota dari pintu gerbang timur. Orang pertama yang kamu temui, dialah yang akan menjadi teman dan tetanggamu di surga.”

Maka besok paginya Nabi Musa dan anaknya, Sulaiman, berjalan kaki ke luar kota. Saat selepas pintu gerbang dia melihat seorang laki-laki tua. Dia tampak seperti orang miskin. Dia sepertinya barusan dari hutan. Tampak di punggungnya setumpuk kayu bakar yang berhasil dikumpulkan dari hutan. Lalu mulailah dia memilah, mengaturnya dan mengikatnya.

Mulailah dia berteriak, “Kayu bakar, kayu bakar.” Dia mulai menawarkan kayu kabar yang telah diikat rapi untuk dibeli orang lain. Tampak seseorang mendekatinya. Lalu dia menanyakan harganya. Orang tua memberikan harga. Dan mereka mulai tawar-menawar dan kemudian terjadi transaksi. Orang itu mengeluarkan uangnya, mengambil kayu bakar dan pergi.

Nabi Musa ragu untuk mendekati orang tua itu. Dia ragu, apakah orang tua ini layak masuk surga. Tapi karena dia orang pertama yang dilihatnya saat mau keluar kota, maka seharusnya orang tua inilah yang akan menjadi tetangganya di surga.

Akhirnya dengan ragu didekati orang tua. Setelah bersalam, Nabi Musa bermaksud menjadi tamu orang tua tadi. Oh, silakan. Mari ikut saya. Akhirnya mereka berjalan dan menuju ke rumah orang tua tadi. Namun sebelum ke rumah, orang tua tadi membeli gandum.

Setelah sampai rumah, orang tua itu mempersilakan tamunya masuk ke rumah. Dan dia melangkah ke belakang rumah. Mulailah dia menumbuk biji gandum tadi menjadi tepung. Dari tepung ini dibuat odonan roti. Setelah dibakar roti ini siap dimakan. Orang tua mempersilakan tamunya, Nabi Musa dan Sulaiman, untuk menikmati roti ini bersama-sama.

Sebelum mereka makan orang tua ini berdoa, “Ya, Tuhan terima kasih atas kayu bakar yang aku jual tadi. Kamulah yang menumbuhkan dari biji. Kamulah yang membuat kering dahan-dahan dan ranting yang aku ambil sebagai kayu bakar. Terima kasih untuk menyuruh seseorang membeli kayu bakarku. Terima kasih juga untuk gandumnya. Kamulah yang menumbuhkan dari bijinya. Dari gandum ini aku buat sebagai roti. Terima kasih untuk rezeki yang Engkau berikan hari ini. Tanpa Engkau, aku tidak bisa menikmati hal ini semua.”

Dan mulailah mereka makan. Dalam hati Nabi Musa sadar kenapa orang tua ini akan menjadi teman dan tetangganya di surga. Dia selalu menyukuri apa yang telah diberikan padanya. Dia tidak pernah mengeluh dengan rezeki yang diterimanya. Dan dia juga tidak pernah iri dengan apa yang telah dimiliki orang lain. Dia selalu bersyukur dengan apa yang selalu diterimanya.

Dia tidak hanya hidup bahagia di dunia, tapi juga di akhirat. Sebuah rahasia yangs sederhana. [PR, 10/1/2013].

~~~
Kubah adalah Kuliah Bekal Hidup. Tulisan di serial Kubah ini mencoba mencari hikmah dari semua kejadian yang terjadi di alam. Semoga dengan hikmah ini kita dapat hidup bahagia di dunia dan mulia di akhirat. Artikel lain bisa Anda baca di serial ‘Kuliah Bekal Hidup, http://www.enerlife.web.id/category/kubah/’ lainnya.

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, konsultan tentang online communication, pembicara publik tentang TI, host radio, pengajar sekaligus praktisi TI. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya, http://yusuf.web.id atau di Facebooknya, http://facebook.com/mcd.yusuf .