(ref: sxc.hu)

(ref: sxc.hu)

“Tapi kalau sekarang saya tidak berani. Pengguna internet sudah beraneka. Mulai dari karyawan sampai pelajar. Juga semua perusahaan memiliki fasilitas internet. Kalau sekarang cari jodoh lewat internet, saya takut seperti membeli kucing dalam karung. Bisa-bisa mendapat orang yang tidak tepat.”

Oleh: Mochamad Yusuf*

Beberapa waktu lalu saat malam setelah memberi training ke klien, saya mengobrol dengan salah satu peserta. Ngobrol ini sebenarnya lanjutan dari ngobrol saat makan siang sebelumnya. Kebetulan pas makan siang kita hanya berdua semeja. Dari ngobrol yang makin gayeng ini, saya baru tahu kalau dia termasuk pengantin baru.

Saya ucapkan selamat dan secara iseng saya tanyakan bagaimana ceritanya ketemu dengan istrinya dulu. Karena saya tahu dia orang Surabaya dan istrinya dari Jakarta. “Internet, Pak,” jawabnya sambil tertawa. “Tepatnya Facebook. Dan lebih tepat lagi game Farmville.”

Ceritanya dia suka main game Farmville di Facebook. Karena dia suka game itu dia mendapat banyak poin dan ternak. Karena banyak, dia sering membagi poin dan ternaknya ini ke orang lain. Salah satunya yang diberi adalah istrinya itu. Dari pemberian ini akhirnya berkenalan dan jumpa darat. Dia dari Surabaya berangkat ke Jakarta menemuinya. Dan akhirnya jadi jodoh.

Saya tersenyum dalam hati. Karena semakin banyak orang yang mendapatkan jodoh dari internet. Di kantor saja banyak teman juga yang mendapat jodoh dari internet. Cuma kalau sekarang harus banyak kewaspadaan bila mencari jodoh di dunia maya. Tidak seperti dulu, saat seorang teman lain yang juga mendapat pendampingnya dari internet.

“Ya, dulu enak,” katanya saat saya tanya mengapa dia berani mencari jodoh di internet. Tidak takut tertipu? “Tidak. Dulu di 1997-1998 pengguna internet terbatas. Hanya perusahaan besar saja yang memiliki fasilitas internet. Itu pun yang punya akses pastilah memiliki posisi yang tinggi. Kalau sudah sebagus itu posisinya, penghasilannya juga bagus. Sehingga dia punya dana untuk merawat diri. Sehingga dia juga bagus. Jadi sambil tutup mata pasti hasilnya bagus. Hehehe,” ceritanya.

“Tapi kalau sekarang saya tidak berani. Pengguna internet sudah beraneka. Mulai dari karyawan sampai pelajar. Dari pengangguran sampai penjahat. Juga semua perusahaan memiliki fasilitas internet. Kalau sekarang cari jodoh lewat internet, saya takut seperti membeli kucing dalam karung. Bisa-bisa mendapat orang yang tidak tepat,” demikian dia menuturkan ke saya.

Betulkah pendapatnya ini? Kenapa orang masih mendapatkan jodoh lewat internet seperti klien saya ini? Ya, meski saya juga percaya dengan ucapan teman ini. Kenyataannya memang banyak berita tentang anak gadis yang dilarikan pacar atau orang yang baru dikenal di internet. Adakah rambu-rambunya? Adakah tips-tipsnya? [DPS, 11/2/2013 siang].


[BERSAMBUNG]

~~~
Artikel ini bagian dari serial ‘Misteri Cinta dan Jodoh’. Inginnya sih saya membuat sampai 99 artikel dan dijadikan buku. Kenapa tidak? Bila Anda suka, Anda bisa membaca tulisan lainnya serial ini di http://enerlife.web.id/category/cinta-dan-jodoh/. Jadi pantau terus ya!

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, konsultan tentang online communication, pembicara publik tentang TI, host radio, pengajar sekaligus praktisi TI. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya, http://yusuf.web.id atau di Facebooknya, http://facebook.com/mcd.yusuf.