(ref: sxc.hu)

(ref: sxc.hu)

Deg! Pernyataan itu sepertinya bertentangan dengan ungkapan sekarang, bahwa cinta adalah segala-galanya. Cinta adalah kunci dari keterikatan seorang pria dan wanita. Jadi cinta adalah perekat dari pernikahan. Tapi mereka menikah tanpa didahului cinta lho?

Oleh: Mochamad Yusuf*

Suatu ketika bersama teman saya menghadiri ulang tahun pernikahan. Penikahan yang cukup awet. 40 tahun! Tampak di acara itu anak-anak mereka, termasuk juga menantu bahkan cucu hadir di sana. Tampak kebahagiaan dan kemesraan antara suami dan istri yang memperingati ulang tahun kebersamaan mereka. Acara demi acara berlangsung.

Saat santai, secara iseng saya tanya apa resep pernikahan yang awet itu pada sang istri. “Hehehe, tidak tahu. Entahlah. Padahal dulu kita dijodohkan lho. Zaman dulu mana ada pacaran?” katanya sambil tertawa.

Deg! Pernyataan itu sepertinya bertentangan dengan ungkapan sekarang, bahwa cinta adalah segala-galanya. Cinta adalah kunci dari keterikatan seorang pria dan wanita. Jadi cinta adalah perekat dari pernikahan. Tapi mereka menikah tanpa didahului cinta lho?

Mungkin setelah itu, mereka lambat laun saling mencintai. Jadi sebenarnya apakah pernikahan harus dimulai dengan pacaran? Atau katakanlah perlukah pernikahan harus dengan dimulai oleh cinta? Jadi pertanyaannya, “Apakah perlu cinta sebelum menikah?”

Pertanyaan ini jadi terjawab dalam sebuah artikel yang saya baca, “Menikah karena Cinta, Rentan Tidak Bahagia.” Tulisan ini mendasarkan pada sebuah artikel di ‘Psychology Today’.

Selama ini bagi kebanyakan orang, pernikahan yang tidak dilandasi cinta dianggap manipulatif, oportunistis, dipandang rendah dan dicap sebagai pengeruk harta. Tetapi ternyata ini tidak benar menurut beberapa pakar,

Betul, cinta tidak pernah salah. Kekuatan cinta mengalahkan segalanya. Dan cinta merupakan simbol kebahagiaan. Namun, dunia tidak berjalan dengan prinsip yang sama. Singkatnya, tidak ada makan siang yang gratis.

Zaman dulu, biasa saja seseorang menikah karena kekayaan atau kedudukan. Ini biasanya dilakukan pada keturunan bangsawan atau saudagar. Mereka saling menikahkah anaknya supaya kekuasaannya langgeng atau kekayaannya awet. Tapi zaman sekarang hal ini katanya dianggap ketinggalan zaman, tidak beradab dan melanggar hak asasi manusia. “Tidak mau ah, kayak zaman Siti Nurbaya saja,” kata anak-anak muda sekarang.

Menurut para pakar pernikahan, seperti Andrew Cherlin, penulis buku “Marriage-Go-Round” dan Stephanie Coontz, penulis buku “Marriage, A History”, ketika seseorang mengupayakan cinta sebagai kekuatan paling tinggi dari pernikahan, justru dia sedang melemahkan dirinya sendiri.

Memutuskan menikah dengan seseorang yang dipercaya dapat mengubah hidup jadi lebih baik, bukan sesuatu yang salah, selama hal itu tidak merugikan orang lain. Menikah dengan alasan meningkatkan kehidupan yang lebih baik seperti anak keturunan mendapatkan pendidikan lebih baik, jabaran yang tinggi kelak, rumah yang bagus, kendaraan mewah dan lainnya. Kata pakar tadi, ini bukan perilaku materialistis, tetapi realistis!

Justru menikah karena semata-mata cinta adalah bukan pilihan yang benar. Dan malah hal ini sering berujung pada perceraian. Berikut 3 alasan menurut mereka:

1. Cinta itu rapuh
Anda bertemu dengan orang yang Anda idamkan seumur hidup Anda. Eh, dia membalas dan merespon ketertarikan Anda. Dan boom… kalian jatuh cinta! Anda pikir ini adalah jodoh Anda. Akhir bahagia yang lama dinantikan. Namun ingat, menikah adalah komitmen seumur hidup. Yang dibutuhkan sudah pasti lebih dari sekadar cinta, tetapi juga pemikiran yang jauh ke depan.

2. Cinta tidak selalu menjadi fondasi kuat pernikahan
Ya, cinta memang kuat, tetapi semakin besar cinta Anda, semakin besar juga potensinya untuk menguap dan hilang. Cinta berarti harapan. Saat harapan ini tidak terpenuhi, rasa kecewa yang Anda rasakan akan lebih menyakitkan. Dan, saat ini semua terjadi, penyesalannya lebih dalam dari cinta itu sendiri.

3. Cinta tidak selalu harus melakukan apa pun untuk pasangan
Ketika Anda mencintai seseorang, keinginan membahagiakan dirinya adalah efek domino yang berbahaya. Ya, dengan begitu, Anda akan melupakan diri sendiri karena hidup Anda hanya berpusat pada pasangan. Padahal, pernikahan yang sebenarnya memerlukan upaya dan kerja keras yang sepadan dari suami dan istri, kerja sama yang mustahil dilakukan apabila cinta memberatkan salah satu pihak.

Bagi saya, pernikahan tidak harus dimulai dengan cinta. Jadi pacaran sebenarnya tidak diperlukan. Namun saat menikah, mulai tersemai benih-benih cinta. Yang nanti sejalan berjalannya waktu, benih-benih cinta itu akan tumbuh dan membesar akhirnya kokoh. Jadi cinta bukanlah alasan utama untuk menikah dengans eseorang.

Bagaimana menurut Anda? [PUTA, 19/11/2013]

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, konsultan tentang online communication, pembicara publik tentang II, host radio, pengajar sekaligus praktisi IT. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya, http://yusuf.web.id atau di Facebooknya, http://facebook.com/mcd.yusuf.