Namun saya ingin obrolan itu lebih ada faedah atau manfaatnya. Dan supaya obrolan itu tak hilang ditelan waktu, saya ingin menuliskan obrolan itu. Sehingga obrolan itu bisa bergema menembus waktu.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Sejak SD sampai kuliah, saya menempuhnya di sekolah negeri. Semuanya favorit. Artinya sekolah yang saya ikuti menjadi dambaan para siswa. Atau lebih tepatnya orang tua. Karena kadang yang lebih ingin menempuh di sekolah tersebut adalah orang tuanya. Hehehe.

Namun hanya SD saja yang bukan favorit. Mungkin pilihan SD itu karena dekat dari rumah saja. Sekitar 100 meter. Begitu dekatnya bunyi bel sekolah sampai terdengar dari rumah. Enaknya kalau istirahat selalu pulang ke rumah untuk makan dan minum gratis. Jadi tak pernah bawa uang saku.

Ya, karena tak favorit maka kondisi sekolahnya tak bagus. Dinding sekolah hanya papan yang ditumpuk-tumpuk. Karena ada ukuran yang tak pas, jadi ada beberapa lubang yang tak tertutupi papan. Lubang ini biasanya digunakan mengintip siswa kelas lain. Bahkan orang lain yang lewat. Maklum di belakang dinding belakang sekolah adalah jalan umum.

Selain itu gentengnya sudah compang-camping. Kalau hujan selalu bocor. Bahkan kalau hujannya deras, kelas bubar. Karena meja dan kursi akan ditarik ke sana-kemari oleh siswa menghindari tetesan air. Jadinya kelas berantakan. Ditambah tak ada lampu menyala. Gelap.

Biasanya kalau begini, guru akan diam di pojok. Mungkin merenung. Atau sedih menyesali ditempatkan di sekolah yang jelek. Yang jelas seperti tak happy.

Siswa juga tak happy? Tidak. Siswa justru sangat senang dengan keadaan ini. Selain senang tak ada pelajaran (hehehe khas pelajar), senang karena bisa melakukan apa saja. Biasanya mengobrol tak karuan. Tak ada beban, tak ada tugas atau tak ada pekerjaan rumah. Pokoknya hujan malah diharap.

Entah, kenapa waktu SD kita suka mengobrol. Padahal sebelum masuk sekolah dan selama istirahat, kita sudah cukup mengobrol. Kita punya tempat favorit untuk mengobrol. Yakni di bawah rindangnya pohon cemara.

Di depan sekolah, persis di belakang pagar, berderet pohon cemara. Saya lupa berapa persis jumlahnya. Mungkin ada 6-8 pohon. Saya tak tahu sejak kapan pohon itu ditanam. Saat saya masuk sekolah tersebut, pohon itu sudah ada. (tapi sekarang habis ditebang untuk perluasan sekolah).

Entah karena tukang kebun sekolah yang malas atau memang seharusnya dibiarkan begitu, daun-daun cemara yang gugur dibiarkan di bawah pohon. Tak dibersihkan. Jadi daun-daun yang tua itu menggunung di bawah pohon.

Ada untungnya kondisi seperti ini. Karena kalau diduduki terasa empuk. Bagaikan duduk di bawah bantal. Ya, bagaikan sarang bagi burung atau ayam. Empuk dan nyaman. Memang kadang-kadang saya bawa guguran daun cemara ini ke rumah untuk sarang ayam supaya mau bertelur.

Di bawah rindangnya pohon cemara itu sambil berbantalkan daun-daun cemara kering, kita akan berbincang. Pesertanya kadang sedikit, kadang banyak. Tergantung aktivitas teman-teman lain.

Kalau tak ada PR, pesertanya akan banyak. Semuanya nimbrung. Tapi kalau ada PR atau tugas, peserta obrolan ini akan berkurang. Karena sebagian akan mengerjakannya di kelas. Saya tak tahu kenapa mereka mengerjakannya di sekolah. Padahal itu tugas untuk di rumah. Mungkin lupa ada tugas itu, atau tak tahu bagaimana mengerjakannya atau malas. Yang jelas, ini akan mempengaruhi peserta obrolan cemara.

Tema obrolannya bisa beragam. Kebanyakan adalah acara TV yang kita saksikan di malam sebelumnya. Aneh memang, karena semuanya ya juga menonton. Tapi kita ceritakan kembali seakan-akan yang lain belum menonton. Kadang kita tertawa kembali mengingat adegan yang ada. Kadang kita bertengkar memperkarakan kebenaran sebuah adegan.

Obrolan ini akan berhenti saat bel sekolah berbunyi. Menandakan mulainya pelajaran atau selesainya jam istirahat. Perbincangan apapun akan berhenti. Tema apapun akan distop. Obrolan itu akan terlupakan. Esoknya sudah tema baru.

Obrolan ini sepertinya menunggu waktu sebelum sekolah mulai. Mungkin karena rata-rata siswa sekolah itu dekat, jadi sekitar pukul 6.30 kita sudah sampai sekolah. Tak ada kemacetan. Tak perlu diantar pakai sepeda motor apalagi mobil antar jemput. Bahkan kebanyakan hanya jalan kaki. Yang agak jauh bersepeda.

Waktu yang cukup lama sebelum masuk sekolah (sekitar 30 menit), maka perlu kegiatan untuk mengisinya. Salah satunya ya obrolan di bawah pohon cemara itu. Kalau saya ingat-ingat sekarang ini, rasanya begitu nikmat obrolan itu. Kita bisa menikmati berjalannya waktu detik demi detik.

Beda dengan sekarang, di mana waktu seperti kita kejar. Waktu demikian cepat berlari, kita terengah-engah mengejarnya. Sehingga tidak dapat menikmati berjalannya waktu.

Karena hal itu saya ingin mengobrol lagi layaknya di bawah rindangnya pohon cemara. Mengobrol sebarang tema. Namun saya ingin, karena sudah bukan anak-anak lagi, obrolan itu lebih ada faedah atau manfaatnya. Dan supaya obrolan itu tak hilang ditelan waktu, saya ingin menuliskan obrolan itu. Saya tempelkan di website milik perusahaan besar dunia seperti Facebook, Google atau WordPress. Sehingga obrolan itu bisa bergema menembus waktu.

Mari kita mengobrol! [TSA, 1 Ramadhan 1433H subuh]

~~~
Serial “Obrolan di Bawah Rindangnya Cemara” ini adalah janji saya di awal bulan puasa 2012 untuk membuat sebuah kegiatan yang bermanfaat dan berbeda dengan Ramadhan-Ramadhan saya yang lain. Yakni membuat sebuah tulisan setiap harinya selama bulan Ramadhan. Semoga bisa! Amin.

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, pembicara publik, host radio, pengajar sekaligus praktisi TI. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya, http://yusuf.web.id atau di Facebooknya, http://facebook.com/mcd.yusuf .