Saat mudik. Tak menghiraukan keselamatan. Yang penting terangkut kembali ke desa.
Saat mudik. Tak menghiraukan keselamatan. Yang penting terangkut kembali ke desa.
Nasib… Belum lebaran, bahkan puasa belum datang, saya sudah mengalami ‘post lebaran syndrome’. Post lebaran syndrome? Penyakit apakah itu? Parahkah itu? Gawatkah itu? Apakah saya juga bisa tertular?

Oleh: Mochamad Yusuf*

Kalau ditanyakan ke pengidapnya sih… ya lumayan parah. Hehehe. ‘Post lebaran syndrome’ ini memang bukan penyakit. Tapi penderitanya bisa sama-sama menderitanya saat mengidapnya.

Post lebaran syndrome ini sering dialami oleh keluarga dimana sang suami dan istri sama-sama bekerja. Meski kadang salah satu tak bekerja, entah hanya suami atau istri yang bekerja, keluarga ini juga bisa mengalami. Memang paling banyak keluarga yang suami dan istri bekerja. Karenanya mereka butuh pembantu rumah tangga untuk membantu pekerjaan di rumah, seperti membersihkan rumah, mencuci, seterika, memasak dan lainnya.

Biasanya pembantu ini tinggal di rumah majikan. Jadi selalu ‘always on’. Mereka biasanya libur panjang saat lebaran. Saat orang-orang mudik ke desa, mereka juga mudik kembali ke desanya masing-masing. Mereka biasanya akan mudik bareng dengan teman-teman pembantu yang sedaerah. Kadang sampai menyewa kendaraan untuk mengantar pulang kembali ke desa.

Setelah lebaran selesai dan orang-orang kembali mulai bekerja, pembantu belum kembali. Entah apa yang membuat mereka belum kembali ke rumah majikannya. Ogah bekerja dengan pekerjaan sama lagi? Apakah karena liburannya kurang panjang? Apakah ada tawaran lain dari teman-teman sedesa yang lebih oke? Majikannya kejam? Gajinya kurang? Atau kesempatan resign tanpa dihalang-halangi oleh majikannya? Entahlah…

Yang jelas setelah itu kebanyakan para majikan terjangkit ‘post lebaran syndrome’. Mereka stress karena sudah harus bekerja, namun rumah berantakan tak ada yang mengurus. Baju kotor menggunung. Makan selalu beli di luar. Belum anak-anak yang sekolah tak ada yang mengantar. Mereka terpaksa memperpanjang liburan. Atau membolos kerja.

Yang paling menderita penyakin ‘post lebaran syndrome’ ini biasanya para istri. Maka bila dia sudah tak kuat lagi menahan rumahnya berantakan, maka istri akan membagi tugas ke seluruh keluarga. Ada yang menyapu, mengepel, cuci baju, setrika dan lainnya.

Mereka yang biasanya tak pernah melakukan hal ini, jadi menderita. Tangan melepuh, pinggang terasa kejang, badan jadi pegal-pegal dan yang paling sering mereka idap: uring-uringan. Ingin marah selalu. Entah siapa saja ingin diomeli, bahkan kadang-kadang termasuk suami dan anak-anaknya.

Lalu bagaimana obatnya?

Entahlah… saya tak tahu obat yang paling cespleng. Mungkin satu-satunya hanya membayar gaji layak bahkan sangat layak buat pembantunya. Sehingga mereka tetap loyal. jadi setelah liburan, mereka akan kembali bekerja ke kita.

Saya sendiri tak pernah mengalami ‘penyakit’ ini. Karena para pembantu satu daerah bahkan satu desa dengan istri. Jadi kalau mudik, ya bareng. Kembali ke rumah, juga bareng. Bahkan di desa, anak-anak masih diemong sama pembantu. Dia masih membantu kita meski di desa.

Mungkin ini bisa jadi obatnya. Tapi saya kira akan susah menjadi situasi seperti ini.

Jadi terasa kalau begini, bahwa peran kecil pembantu sangatlah vital. Kalau tahu begitu, kok ada yang menyia-nyiakan sampai menyiksa segala? [TSA, 5 Ramadhan 1433H / 24 Juli 2012M subuh]

~~~
Serial “Obrolan di Bawah Rindangnya Cemara” ini adalah janji saya di awal bulan puasa 2012 untuk membuat sebuah kegiatan yang bermanfaat dan berbeda dengan Ramadhan-Ramadhan saya yang lain. Yakni membuat sebuah tulisan setiap harinya selama bulan Ramadhan. Semoga bisa! Amin.

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, pembicara publik, host radio, pengajar sekaligus praktisi TI. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya, http://yusuf.web.id atau di Facebooknya, http://facebook.com/mcd.yusuf .

2 total views, 2 views today

2 thoughts on “Obrolan di Bawah Rindangnya Cemara (5): Post Lebaran Syndrome

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *