Pro dan kontra ini juga ramai di internet. Perang kata dan makian saling bertebaran. Melihat situasi seperti ini, seorang teman yang ada di luar negeri, secara guyon akan pindah warga negara saja.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Hari-hari terakhir bangsa Indonesia disibukkan dengan isu kenaikan harga BBM. Pemerintah ingin mengurangi subsidi untuk BBM bahkan menghentikan. Karenanya harganya harus dinaikkan, disesuaikan dengan harga pasar dunia yang sudah mahal.

Namun rakyat Indonesia tak hanya berpikir nominal kenaikannya, tapi dampak berantainya. Karena ketika harga BBM naik, semua harga juga merangsek naik termasuk sembako. Ini yang ditakutkan rakyat Indonesia.

Terjadi pro-kontra. Yang pro, berpikir subsidi lebih baik untuk pembangunan infrastruktur daripada dibakar habis jadi asap. Dan yang kontra, berdalih rakyat tambah susah. Maka yang terjadi adalah demo rencana kenaikan BBM ini.

Ya, ada beberapa demo yang damai. Namun ada juga yang rusuh. Saat demo seperti itu, yang kontra akan memblejeti segala kesalahan pemerintah. Seperti tak pemerintahan yang korup, pembuatan perundangan yang tak pro rakyat, pelayanan kepentingan yang tak dibuat mudah, anggaran gaji pegawai yang lebih besar daripada proyek dan lain-lain.

Pro dan kontra ini juga ramai di internet khususnya media sosial. Perang kata dan makian saling bertebaran. Melihat situasi seperti ini, seorang teman yang ada di luar negeri, karena sedang kuliah pasca sarjana, secara guyon akan pindah warga negara saja.

Saya yang menanggapinya dengan pertanyaan, kenapa? Maka dia memberi jawaban bagaimana pemerintahan di sana lebih pro rakyat. Di mana semua pelayanan begitu cepat, mudah dan tak menyusahkan rakyat. Seperti saat menyekolahkan anaknya di sana, dia cukup menghadap ke kepala sekolahnya dan diwawancarai sebentar dan besoknya sudah boleh sekolah.

Hanya itu? Ya, hanya itu. Teman saya yang terbiasa dengan situasi Indonesia, agak heran. Karena biasanya di Indonesia harus bayar uang muka, beli uang seragam, beli buku paket pelajaran dan lain-lain.

Tak hanya tentang itu, ada kemudahan. Dia juga menemukan kemudahan waktu membeli mobil dan kelak menjualnya. Padahal pemilikan mobil berkaitan dengan pembayaran pajak dan urusan dokumen-dokumen. Ternyata semuanya cukup mudah. Tak berbelit-belit. Dan semuanya tak perlu ada tambahan biaya atau uang kutip kalau di Indonesia?

Tapi benarkah hidup di luar Indonesia menyenangkan? Apakah memang begitu susah kalau hidup di Indonesia? [TSA, 03/04/2012 subuh]


[dipotong]

~~~
Artikel ini bagian dari buku yang saya rencanakan untuk terbit. Rencananya ada 99 artikel yang berkaitan dengan rahasia rejeki. Untuk seri 1 sampai 10, anda bisa membaca secara lengkap di http://enerlife.web.id/category/rejeki/. Setelah seri itu, tak ditampilkan secara lengkap. Namun hanya setiap kelipatan seri 5 yang ditampilkan secara lengkap. Jadi pantau terus serial ‘Rahasia Rejeki’ ini.

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, pembicara publik, host radio, pengajar sekaligus praktisi TI. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya, http://yusuf.web.id atau di Facebooknya, http://facebook.com/mcd.yusuf .