Karin Black, sedan Toyota Corona Absolute 2.0 saya. (dok.pribadi)

Karin Black, sedan Toyota Corona Absolute 2.0 saya. (dok.pribadi)

Yang saya perhatikan, dia kalau bertemu seseorang memulai dulu dengan bersalam. Dia berusaha untuk memulai menyapa terlebih dahulu. Setelah itu akan berjabat tangan. Jabatannya sangat keras. Mantap.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Sampailah kita di rumah setelah jalan-jalan bersama ke kota di hari Minggu itu. Memang sekali sebulan kita ke mall bersama keluarga. Tujuannya biasanya ke toko buku. Tentu juga mampir makan. Tapi makan tak wajib. Yang wajib adalah ke toko buku. Saya memang membiasakan anak-anak dekat dengan buku sejak kecil.

Setiba di rumah, anak-anak meluncur masuk ke rumah bersama bundanya. Biasanya saya yang terakhir masuk ke rumah, karena saya harus memastikan kondisi kendaraan. Dan kadang saya lanjutkan dengan bersih-bersih mobil.

Tapi saya lihat sepertinya bunda kesulitan membuka pintu rumah. Pintu gerbang sih sudah berhasil dibuka. Anak-anak mulai memanggil saya minta bantuan membuka pintu.

Aneh, rasanya. Karena pintu itu tak masalah. Saya datangi mereka dan mengambil alih kunci rumah. Saya masukkan kunci rumah dan memutarnya. Klak, dan kunci pintu terbuka.

Saya buka pintunya lebar-lebar. Tampak di dalam gelap. Ya, kita tak berpikir menyalakan lampu tadi sebelum berangkat. Karena biasanya pulang tak sampai malam.

Sebelum menjejakkan kaki masuk ke dalam khususnya untuk menyalakan lampu, saya mengucapkan salam, “Assalammualaikum, Vica!” Zelda, putri saya terakhir yang belum sekolah, bertanya siapa Vica itu. Saya jawab Vica adalah nama rumah kita.

Ya, saya memang memiliki kebiasaan untuk memberi nama pada benda-benda kepemilikan. Biasanya yang saya beri nama adalah barang-barang yang harganya cukup mahal. Ya sekitar di atas Rp 100.000. Dan yang hampir selalu menemani kita, layaknya sobat kental. Misal: ponsel, jam tangan, mobil, sepeda motor, rumah dan lain-lain.

Memang kadang seperti orang gila, mengajak mereka bercakap-cakap. Tapi saya bayangkan mereka seperti makhluk bernyawa. Dan kehadirannya sangat bermakna dan vital bagi saya.

Pernah ada kejadian, mobil saya sepertinya mau mogok. Aduh, padahal jalannya di tengah hutan. Saya elus-elus pilar penghubung kaca depan dan kaca samping sambil berkata, “Karin, jangan mogok dulu ya… please.” Karin Black adalah nama mobil saya. Sambil terus merayu-rayu Karin, saya tetap kemudikan mobil. Dan ajaib mobil tak mogok sampai tujuan. Hehehe.

Kembali ke rumah. Saya jelaskan siapa Vica itu, nama lengkapnya Aedivicare, ke Zelda. Dan kenapa kita bersalam ke Vica. Bersalam di sini maksudnya mengucapkan salam, “Assalaimmu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Saya jelaskan bahwa seharusnya kita rajin atau selalu bersalam kepada yang lain. Dengan menebar salam kepada orang lain, maka kita telah menebar jala-jala rezeki.

Memang tak semua kesempatan kita bisa bersalam. Kita lihat kondisi. Namun kalau memungkinkan, seperti masuk rumah yang kita tahu siapa penghuninya (keluarga kita), maka kita wajib bersalam. Juga kalau bertemu dengan seseorang, kita bisa menyapanya dengan salam.

Kenapa saya melakukan ini?

Hal ini saya jadikan kebiasaan karena sebuah nasehat seorang teman. Teman saya ini bisa dibilang sukses dari ukuran materi. Bisnisnya membesar dan beranak-pinak.

Yang saya perhatikan, dia kalau bertemu dengan seseorang akan memulai dulu dengan salam. Dia berusaha untuk memulai menyapa terlebih dahulu. Setelah itu akan berjabat tangan. Jabatannya sangat keras. Mantap. Sambil tetap berjabat tangan, maka dia menanyakan kabar dengan wajah berseri-seri.

Saya terkesan dengan gaya seperti ini. Kesan yang saya tangkap bahwa dia adalah orang yang ramah, terbuka dan mau diajak berbagai tawaran/kesempatan. Tak mau menutup diri dan merasa benar sendiri.

Akhirnya dalam sebuah kesempatan, saya tanyakan kebiasaan seperti ini. Dia menjawab, dengan sikap terbuka dan ramah, orang akan membuka diri. Ini seperti seseorang yang telah membukakan pintu ke kita. Dengan begini, kita bisa masuk dan mulai melakukan apa yang kita niatkan.

Lha, kalau pintunya tak terbuka, dia hanya membuka pintu sedikit, maka kita takkan bisa masuk. Mau tidak mau, maka kita terpaksa menjelaskan niat kita di luar. Kesempatan ini jadi tak nyaman lagi. Tergesa-gesa. Sehingga kebanyakan gagal.

Dengan terbuka, maka dia sebenarnya mulai percaya ke kita. Karena dengan kepercayaan, maka sebuah bisnis dapat berjalan. Tanpa kepercayaan dari orang lain, kita akan sulit menjalankan bisnis. Bisnis lancar maka rezeki juga lancar.

“Oh, begitu…” saya menggut-manggut mendengarkan. Dan tiba-tiba, saya tak begitu percaya penjelasan ini. Memang sangat masuk akal penjelasannya ini. Tapi saya merasa pasti ada alasan lain. Saya terus mendesak menjelaskannya.

Maka dia tersenyum, “Bisa saja kamu, Suf. Betul. Memang ada alasan lain. Dengan rajin bersalam, sebenarnya kita rajin menggali rezeki. Ada hadits yang terkait hal ini.”

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah, dari Abu Umamah, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Tiga orang akan dijamin oleh Allah. Jika ia hidup, Allah akan mencukupkan kebutuhan dan rezekinya. Dan jika meninggal, Dia akan memasukkan ke dalam surga. Pertama adalah orang yang memasuki rumahnya, lalu mengucapkan salam, maka ia berada dalam jaminan Allah. …”

Bayangkan masuk ke rumah saja, disunnahkan bersalam. Ke rumah, kadang kita tak tahu apa penghuninya siap menerima salam kita. Kadang di belakang, atau mungkin sedang tidur. Sehingga tak langsung bisa menjawab salam kita. Tapi kita tetap disunnahkan bersalam, apapun keadaannya.

Lha kalau masuk rumah saja disunnah bersalam, apalagi kalau bertemu dengan orang lain. Bersalam berarti kita memberikan perhatian pada orang lain. Terlebih salam sebenarnya adalah doa untuk kebaikan. Bila kita mendoakan orang lain, maka orang lain tersebut juga akan mendoakan balik ke kita. Saling mendoakan.

Sebuah kebiasaan kecil dan sederhana, namun begitu besar makna dan manfaatnya. Maka sejak itu saya mencoba untuk melakukan bilamana ada kesempatan. Anda mau mencoba juga bukan? [TSA, 18/06/2012 subuh]

~~~
Artikel ini bagian dari buku yang saya rencanakan untuk terbit. Rencananya ada 99 artikel yang berkaitan dengan rahasia rezeki. Untuk seri 1 sampai 10, anda bisa membaca secara lengkap di http://enerlife.web.id/category/rejeki/. Setelah seri itu, tak ditampilkan secara lengkap. Namun hanya setiap kelipatan seri 5 yang ditampilkan secara lengkap. Jadi pantau terus serial ‘Rahasia Rezeki’ ini.

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, pembicara publik, host radio, pengajar sekaligus praktisi TI. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya, http://yusuf.web.id atau di Facebooknya, http://facebook.com/mcd.yusuf .