Contact us now
+6289-774455-70

Berbuat Baik, Berjanjilah Pada Orang Lain

gk buku 2Kalau anda punya niatan melakukan perbuatan baik, apalagi hal yang susah dan besar, janganlah segan mengutarakan ke yang lain. Anggap saja itu sebagai janji. Dan anda harus melunasi apapun caranya.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Hermawan Kartajaya, pakar marketing Indonesia, menulis serial cukup menarik di Jawa Pos dan Radar Surabaya saat ini. Serial ini rencananya berisi 100 tulisan yang dimuat setiap hari di koran tersebut. Di sebuah tulisan dia menyatakan pernah terpaksa berjanji di muka umum. Janjinya adalah membuat teori sendiri, tak sekedar menyitir teori orang lain. Ini karena pertanyaan ‘menohok’ dari seorang peserta seminarnya, “Konsultan kok hanya mengutip saja?”.

Karena pertanyaan ini, dia sempat berhenti sejenak. Setelah agak tenang, dia berjanji akan mengeluarkan teorinya sendiri. Ini sebenarnya tak berencana dan tak berniat. Namun karena dia sudah ngomong di depan orang banyak, dia berusaha mewujudkannya. Selama 6 bulan kemudian dia berupaya keras mewujudkan janjinya ini. Kelak dia bisa melunasi janjinya ini.

Saya sendiri pernah mengalami seperti ini. Tapi tidak seperti Hermawan Kartajaya, saya memang berniat dan merencanakan.

Sejak lama saya ingin punya buku yang saya tulis sendiri. Keinginan yang timbul setelah saya rajin menulis khususnya di internet. Tentu saja ini sebuah keinginan yang berat dan susah. Menulis saja bagi sebagian orang saja sulit, apalagi menjadikan buku. Tentu saja lebih susah lagi.

Menjadikan buku tentu saja lebih sulit daripada menulis. Karena harus meyakinkan orang lain, bahwa uangnya akan kembali. Karena kalau menjadikan buku, berarti ada orang yang berani berkorban untuk kita. Meraka berani ‘bertaruh’ bahwa uangnya akan kembali.

Ketika sebuah buku ada di toko, maka penerbit telah mengeluarkan uang: biaya edit, layout, film, kertas, cetak, promosi dan lainnya. Harapannya tentu saja bukunya laku. Tapi kalau tidak, uangnya tak akan kembali.

Namun meski berkali-kali saya berniat menulis buku, sebuah naskah tak pernah jadi. Saya memang ada rencana pintas, mengumpulkan semua tulisan saya di internet, dan dijadikan buku. Tapi saya ingin menulis yang memang direncanakan untuk buku. Bukan sekedar kumpulan tulisan.

Karena bagi saya, pembeli buku jangan sampai merasa ‘dibohongi’. “Lha, kalau seperti ini, ngapain saya beli bukunya. Saya bisa mendapatkannya di internet atau koran,” begitu sering saya dengar kalau ternyata buku itu hanya kumpulan dari tulisan di media cetak atau internet.

Begitu niatnya, saya sampai menuliskan sebagai resolusi dalam awal tahun. Tapi sampai 3 tahun, resolusi ini tak pernah terwujud. Sampai saya mulai putus asa.

Kemudian saya ditugaskan kantor membuka divisi baru, pelatihan dan konsultasi. Jadinya saya mulai bicara di muka umum. Tentu saja, untuk bicara ini saya harus belajar banyak. Menyiapkan alurnya dan kemudian presentasinya. Kadang karena begitu banyaknya materi yang disampaikan, tapi waktu terbatas presentasinya, ada pikiran untuk menuliskan saja sebagai buku.

Tapi ternyata meski sudah ada modal, tapi wujud buku saya tak pernah ada. Akhirnya dalam sebuah kesempatan seminar, saya berkata bahwa sekarang sedang menulis buku. Saya sadar mengatakan ini. Bahkan kemudian, saya mengulanginya dalam berbagai kesempatan.

Seorang teman pernah menegur hal ini. “Mas, kenapa nggak diam-diam saja. Kalau bukunya sudah terbit, baru bilang. Kalau nggak terbit-terbit, kan malu.” Betul. Saya sendiri juga khawatir dengan hal ini.

Tapi saya memang berencana dengan tindakan ini. Kalau diam-diam saja dan nanti sebagai kejutan, takutnya tak terwujud-wujud. Karena toh ‘tak akan ditagih’. Tidak. Saya katakan saja di muka umum, sehingga terpaksa saya harus ‘melunasinya’.

Betul, akhirnya ketika datang sebuah kesempatan, saya kerja keras untuk mewujudkan itu. Tiap pulang kantor, saya menulis. Satu-dua jam, tak peduli capek atau tak mood, saya lakukannya. Sampai-sampai saya mengetik sambil tertidur. Betul, pikiran saya sudah ‘blank’, tapi saya tetap mengetik.

Akhirnya buku itu terwujud juga. Tentu saja saya puas dengan hal ini. Sebuah hutang janji yang lunas.

~~~
Kalau anda punya niatan melakukan perbuatan baik, apalagi hal yang susah dan besar, janganlah segan mengutarakan ke yang lain. Anggap saja itu sebagai janji. Dan anda harus melunasi apapun caranya. Ya, kecuali anda cuma ingin berjanji saja. [TSA, 15/02/2010 subuh]

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online strategist, pembicara publik, host radio, pengajar sekaligus praktisi TI di SAM Design. Aktif menulis dan bukunya telah terbit, “99 Jurus Sukses Mengembangkan Bisnis Lewat Internet”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya atau di profil Facebooknya.

6 Comments - Leave a Comment
  • Mochamad Yusuf -

    Saya takut setelah buku pertama terbit, saya jadi puas. Bukankah saya bercita-cita memiliki buku sendiri? Dan buku itu akhirnya jadi buku pertama, sekaligus terakhir.

    Karena itu saya ‘janji’ lagi, supaya punya buku ke-2 dan seterusnya. Hehehe.

  • Leave a Reply