Enerlife [5]: Kebaikan Dibalas Dengan Kejahatan?

Home / Artikel / Motivasi & Inspirasi / Enerlife [5]: Kebaikan Dibalas Dengan Kejahatan?

(ref: sxc.hu)
(ref: sxc.hu)
Tapi bagaimana kita tahu tujuan mereka baik atau buruk? Dengan perasaan dan nalar. Tapi kalaupun tidak ada kesangsian pada kita, kita wajib menolong. Setelah menolong, kita lepas tanggung jawabnya ke Tuhan. Bahwa kita melakukan hal ini karena ingin menolong.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Dahulu kala saat manusia dan hewan bisa berkomunikasi, tinggallah seorang petani yang jujur. Teramat jujur malah. Orang sekarang menamakan sebagai naif. Dia berprinsip bahwa kebaikan selalu dibalas dengan kebaikan. Entah itu langsung atau tidak langsung, sekarang atau nanti, cepat atau lambat.

Pada suatu hari dia pergi ke hutan mencari kayu bakar. Saat sedang asyik mencari ranting yang bisa dibawa pulang, dia mendengar suara. “Tolong, tolong.” Petani mencari suara ke sana ke mari. Tapi tidak terlihat seorang/seekor makhluk hidup sekalipun.

Dia tetap meneruskan pekerjaan. Namun suara itu muncul. Bahkan lebih keras. Sekarang dia lebih menajamkan penglihatannya. Tetap tidak ada. “Apa suara hantu?” pikir pak Tani. “Tidak mungkin,” katanya.

Tiba-tiba dia melihat ke bawah, terlihat seekor ular tertindih batu. Pantas tidak terlihat. Ternyata posisinya di bawah.

“Tolonglah aku,” kata sang ular.

“Tidak,” kata pak Tani. “Nanti setelah aku tolong, kamu nanti menggigit aku dan aku dimangsa olehmu.”

“Tidak mungkin. Mana ada kebaikan dibalas dengan kejahatan,” sanggah ular.

“Ular tetap ular. Kamu binatang licik,” kata pak Tani yang mulai bergegas meninggalkan tempat itu untuk kembali pulang.

Tapi ular terus mengiba-iba. Dia mengatakan bahwa dia ditunggu anak, istrinya di rumah dan berbagai alasan lain. Akhirnya pak Tani luluh juga. Maka ditolonglah ular itu.

Tiba-tiba saat ular sudah terbebas dari himpitan batu, ular meloncat mau menggigit leher pak Tani. Untung pak Tani sigap sehingga bisa mengelak.

“Kurang aja kamu, Ular. Kenapa kebaikanku dibalas dengan kejahatan?” tanya pak Tani marah.

“Pak Tani, mana ada di dunia ini kebaikan dibalas dengan kebaikan? Dimana-mana kebaikan dibalas dengan kejahatan,” kata Ular.

“Aku tak percaya omonganmu.”

“Oke. Kita tanyakan ke makhluk hidup lain. Kalau ada yang mengiyakan bahwa kebaikan dibalas kebaikan, kamu akan saya bebaskan dari gigitanku.”

“Baiklah”.

~~~

Maka kedua makhluk hidup itu berjalan mencari makhluk hidup lain. Di tengah jalan mereka bertemu kuda yang sudah tua. Pak Tani bertanya apakah benar kebaikan dibalas dengan kejahatan.

“Benar,” kata Kuda.

“Lho, kok bisa?” tanya pak Tani. Ular sudah senang dan membayangkan bisa membawa daging pak Tani ke rumah.

“Dulu waktu aku masih muda, aku membantu majikanku dengan membajak sawah. Juga mengantar dia dan keluarganya ke sana kemari. Aku juga membawa berbagai barang ke kota. Tapi setelah aku tua, aku diusir dari rumah pak Tani. Kebaikanku dibalas kejahatan olehnya,” jelas Kuda panjang lebar.

“Sebentar ular. Jangan digigit dulu aku. Kita cari makhluk lain,” pinta pak Tani.

“Oke,” kata sang Ular.

~~~

Mereka berjalan dan melihat seekor biri-biri. Bulunya awut-awutan. Sepertinya dia terburu-buru pergi. Pak Tani menanyakan apakah benar kebaikan dibalas dengan kejahatan.

“Betul,” kata Biri-Biri.

“Bagaimana bisa?” tanya pak Tani.

“Setiap musim panas, bulu saya dibiarkan lebat. Padahal saat musim panas terasa gerah. Namun saat musim dingin ketika saya butuh bulu supaya hangat, bulu saya malah dicukur. Katanya mau dijual untuk wol. Padahal setiap hari saya sudah memberikan susu untuk anak pak Tani. Namun setelah saya lama memberi kebaikan pada pak Tani, dia malah ingin menyembelih saya. Makanya saya lari. Ternyata kebaikanku dibalas kejahatan oleh pak Tani” jelas Biri-Biri.

Ular sudah semakin santai. Jelas semakin yakin bahwa kebaikan dibalas dengan kejahatan. Dan dia sudah mebayangkan pesta daging pak Tani di rumah bersama keluarga. Tapi pak Tani meminta kesempatan untuk menanyakan 1 makhluk hidup lagi. Ular mengiyakan. Dia sudah yakin bahwa dia akan menang.

~~~

Saat ular lengah karena puas, pak Tani melihat ada Serigala. Ular tidak melihatnya. Cepat-cepat dia menyelinap menghampiri Serigala. Pak Tani menceritakan kisahnya dan meminta kalau ditanyai apakah kebaikan dibalas dengan kejahatan dijawab tidak betul. Pak Tani menjanjikan kalau Serigala membantu hal ini, maka akan diberi ayam dan biri-birinya di rumah. Serigala setuju. Dan pak Tani kembali ke ular.

“Ayo ular, kita cari makhluk hidup lain untuk ditanyai. Oh itu, ada Serigala. Coba kamu tanyakan ke dia,” kata pak Tani.

“Baiklah. Hei Serigala, apakah kebaikan selalu dibalas dengan kejahatan?” tanya sang Ular.

“Tidak betul itu,” jawab Serigala tegas. “Seharusnya kebaikan dibalas dengan kebaikan.”

Lalu Serigala menanyakan mengapa mereka sampai mencari makhluk hidup lain untuk bertanya tentang hal ini. Ular menceritakan kisah pertemuannya dengan pak Tani. Serigala meminta merekonstruksi kejadian sebelumnya, supaya bisa melihat kejadian sesungguhnya. Ular dan pak Tani setuju. Bertiga mereka kembali ke tempat semula. Lalu ular ditumpuki batu lagi.

“Oh, kejadiannya seperti ini ya?” tanya Serigala.

“Betul. Sekarang kamu sudah paham ya. Ayo ambil lagi pak Tani batunya. Aku sudah susah bernafas. Sepertinya batunya lebih besar daripada aslinya dan kamu tekan lebih erat,” pinta Ular.

“Kali ini aku benar-benar tidak mau, Ular. Matilah kamu. Kamu sudah saya tolong, tapi tidak mau berterima kasih. Malah kamu mau menggigitku. Sekarang kamu akan mati perlahan-lahan. Mati sendiri jauh dari keluargamu,” kata pak Tani puas. “Ayo Serigala, kita pulang. Biarkan dia,” kata pak Tani beranjak meninggalkan ular dan Serigala. Kali ini Ular menyesal. Di tempat terpencil ini tidak ada makhluk hidup cukup besar untuk menolongnya mengangkat batu.

~~~

Malamnya Serigala bersiap ke rumah pak Tani. Dia membayangkan daging ayam dan biri-biri janji hadiah pak Tani. Tapi pak Tani sudah bersiap. Semua pintu sudah ditutup. Binatang ternaknya sudah dimasukkan kandang. Hanya pintu depan dibiarkan terbuka. Namun 2 ekor anjingnya sudah berjaga di situ.

Ketika Serigala mau masuk ke rumah pak Tani, anjing-anjing menggonggong bersiap dan menantang berkelahi kalau Serigala bersikeras tetap masuk ke rumah pak Tani. Saat Serigala berpikir apakah menunggu atau menerjang masuk, tiba-tiba sebuah panah dengan ujungnya berapi melesat dan tertancap persis di sebelahnya.

Tampak pak Tani membawa busur dan anak panah yang berapi.

“Ayo, kalau mau berani masuk, kamu pasti akan mati terpanggang dengan panahku. Kamu saya biarkan lari dan jangan mendekat lagi ke rumahku. Kalau tidak, saya tidak segan menarik anak panah ini, dan kali ini tidak saya melesetkan,” teriak pak Tani.

Serigala tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia lari tunggang langgang ke hutan, sebelum benar-benar pak Tani menjalankan niatnya untuk menarik panahnya.

~~~

Saya menceritakan kisah ini ke anak-anak saya dalam suatu perjalanan mengantar sekolah. Memang saya mencoba dalam perjalanan mengantar anak-anak ke sekolah mengisinya dengan pembentukan karakter mereka. Cara paling mudah adalah menceritakan sebuah kisah. Dan menarik hikmah dari cerita itu. Dengan cerita, hikmah itu akan lebih melekat di otak anak, daripada memarahi atau menasehati.

Saya katakan bahwa menolong itu baik. Tapi bagaimanapun harus melihat dulu sebelum menolong. Jadi tidak sembarang asal menolong. Menolong kadang bisa merugikan diri sendiri dan orang lain. Dengan berhati-hati, kita bisa lebih menghindarkan kerugian pada diri dan orang lain.

Misal: ada beberapa anak mengamen dan meminta uang ke kita. Kita tahu pasti bahwa uang yang didapat mereka itu bukan untuk menyambung hidup, tapi digunakan untuk membeli minuman keras. Sebenarnya dengan memberi uang, berarti kita menolong. Itu baik. Tapi kalau dibuat mabuk-mabukan, pertolongan kita dapat merugikan mereka. Maka dengan tidak memberi, maka sebenarnya itu menolong.

Tapi bagaimana kita tahu tujuan mereka baik atau buruk? Yakni dengan perasaan dan nalar.

Tapi kalaupun tidak ada kesangsian pada kita, kita wajib menolong. Setelah menolong, kita lepas tanggung jawabnya ke Tuhan. Bahwa kita melakukan hal ini karena ingin menolong. Ingin sebagai manusia yang beriman. Bila pertolongan kita kelak salah, biarlah Tuhan menghukum mereka. Dan kita tetap berharap sebagai manusia baik yang pengasih dan penyayang sesama manusia. [PR, 29/10/2012]

~~~
EnerLife, ‘Energize Your Life’, adalah tulisan motivasi bermaksud mencerahkan pikiran dan hati. Serta memberi motivasi kesuksesan hidup. Anda bisa membaca artikel EnerLife lainnya di: http://EnerLife.web.id.

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, pembicara publik tentang IT, host radio, pengajar sekaligus praktisi IT. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya, http://yusuf.web.id atau di Facebooknya, http://facebook.com/mcd.yusuf .

3 Comments

Leave a Reply

-->
%d bloggers like this: