Masih Perlukah Referensi itu?

Home / Artikel / SDM (Sumber Daya Manusia) / Masih Perlukah Referensi itu?

Waktu saya dulu mulai mencari kerja, saya baca di buku bahwa dalam surat lamaran harus dicantumkan referensi. Referensi adalah orang yang bisa dikonfirmasi tentang kita: kompetensi, prestasi, pengalaman, keunggulan dan kekurangan kita. Jadi bila ada perusahaan yang ingin merekrut kita, untuk memastikan lagi mereka mengontak referensi yang kita berikan. Istilahnya cross-check.

Karena itu saya sempat bingung. Bagaimana saya akan memberikan referensi, lha saya sendiri belum pernah bekerja. Lazimnya, seperti yang dijelaskan di buku, referensi adalah atasan kita sebelumnya.

Karena itu saya menghadap dosen dan meminta salah satu dosen yang kenal saya sebagai referensi. Dan saya meminta kalau ada perusahaan yang mengkonfirmasi tentang saya agar mereka memberitahukan hal-hal yang positif saja. Hehehe.

Tapi itu dulu. Bagaimana dengan sekarang? Apakah masih perlu mencantumkan referensi di surat lamaran kita? Sebenarnya referensi itu kebutuhan atau formalitas? Seberapa pentingkah referensi ini menentukan keberhasilan meraih pekerjaan idaman?

“Referensi tetaplah penting,” kata Paul W. Barada, presiden Barada Associates Inc., perusahaan yang menyediakan jasa layanan screening pra employment untuk perusahaan-perusahaan besar di Amerika seperti Emmis Communications Corp. dan Acorda Therapeutics Inc.

Perusahaan-perusahaan khususnya perusahaan besar tidak mau berjudi dengan pilihannya. Meski hasil tes bagus, wawancaranya sesuai tapi perusahaan akan memastikan lagi calonnya. Saya sendiri pernah ditanya oleh beberapa perusahaan atas calon karyawan yang sedang melamar perusahaan tersebut. Pelamar itu pernah menjadi staf saya.

Tapi tentu saja keputusan terakhir tetap pada perusahaan. Seperti ketika saya katakan bahwa dia jelek, tetap saja perusahaan itu menerima. Tapi ada yang percaya dengan konfirmasi yang saya berikan, yakni saat saya katakan bagus ya diterima, saya katakan jelek tidak diterima.

Jadi referensi tetap penting, meski di jaman digital sekarang ini. Permasalahannya seperti yang ditengarai Barada adalah pelamar mencantumkan referensi yang tidak mengetahui betul sang pelamar. Harusnya referensi mengenal dengan baik kemampuan dan prestasi pelamar.

“Misalnya,” jelas Barada, “Bisakah teman main golf Anda tahu bagaimana gaya manajemen diri Anda atau tanggung jawab kerja Anda?”

Bila referensi yang diberikan tidak dapat memberikan konfirmasi, itu akan menjadi bumerang bagi sang pelamar. Jadi yang pertama, pastikan referensi yang dicantumkan adalah orang yang mengenal dengan baik khususnya kinerja sang pelamar.

Kesalahan lain yang diamati Barada adalah referensi yang dicantumkan tidak diberitahu dulu oleh sang pelamar. Karena itu, kedua, yang harus dilakukan sang pelamar adalah memberitahu sang referensi. Jangan sampai referensi bingung bila nanti ada perusahaan yang mengontaknya. Beritahu job description posisi Anda, prestasi yang pernah diraih, kompetensi yang dimiliki dan sebagainya. Kalau perlu dibuatkan filenya dan diemail supaya bisa dibaca. Tidak cukup diberitahu lewat telpon apalagi chatting.

Yang ketiga, yang bisa dilakukan pelamar adalah mencantumkan referensi bukan dari bekas atasan, tapi dari karyawan dari perusahaan yang mau dilamar. “Referensi terbaik,” menurut Bob Daugherty, kepala departemen recruitment di Pricewaterhouse Coopers, Amerika, “Adalah orang-orang yang bekerja di perusahaan yang ingin dilamar. Relasi inilah yang benar-benar penting dalam menentukan kelolosan pelamar.”

Saya sendiri punya pengalaman terkait referensi perusahaan yang dituju. Saya memang tidak mencantumkan referensi dari perusahaan yang saya lamar, tapi ada kenalan di perusahaan tersebut. Bahkan dialah yang membawa surat lamaran saya.

Kelak saya tahu yang merekrut menanyakan ke kenalan, bagaimana kinerja saya. Untungnya dia memberi referensi positif, sehingga perusahaan cukup terpengaruh dengan referensi yang diberikan oleh kenalan saya itu.

Daugherty mengatakan faktor referensi dari perusahaan dituju sangat besar dampaknya. Di Pricewaterhouse Coopers, lebih dari 40 persen karyawan direkrut berdasarkan referensi internal. Jadi sekarang siapkan referensi yang tepat agar lolos menjadi pegawai di perusahaan idaman. *(my/20160418)

Leave a Reply

-->
%d bloggers like this: