Contact us now
+6289-774455-70

Master of Facebook (6): Kuliah Dengan Otak Penuh Beban

Jadi di malam pelepasan wisuda itu, saat teman saya curhat dengan berbagai hambatan saat kuliah dalam sambutannya, saya tertawa-tawa sendiri. Tertawa karena mentertawakan diri sendiri. Hehehe.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Dalam sambutannya, seorang teman sekelas yang didapuk menjadi wakil wisudawan malam itu, mengeluh betapa susahnya kuliah saat sudah tua seperti sekarang ini. Secara guyon, dia mengatakan saat mau berangkat kuliah diberati dengan tangisan anak, sehingga tidak jadi kuliah.

Meski saya kurang percaya dengan ceritanya, maklum dia adalah komandan sebuah polres di Surabaya sehingga saya yakin keluarganya biasa ditinggal dinas di luar rumah, saya menyetujui pendapatnya. Yakni kuliah setelah berkeluarga terasa lebih berat.

Keberatan pertama adalah kuliah bukanlah prioritas pertama dalam menyedot sumber daya yang kita miliki. Yang utama adalah pekerjaan. Sehingga segala pikiran, tenaga dan waktu digunakan sepenuhnya untuk pekerjaan. Dan pekerjaan tidak banyak terkait dengan belajar, seperti: membaca buku referensi atau bahkan mengerjakan tugas kuliah.

Tentu bagi yang berprofesi sebagai dosen, kuliah lagi tak menjadi masalah. Karena belajar adalah pekerjaannya. Membaca, menulis dan mengajar adalah bagian dari waktu, tenaga dan pikiran yang dikerahkan. Sehingga masih bisa menyisihkan untuk belajar ilmu-ilmu kuliah.

Berbeda dengan yang bukan berprofesi sebagai tenaga pendidik, seperti teman saya yang polisi itu. Waktunya sudah habis untuk koordinasi, memimpin, melaksanakan bahkan mungkin menghadiri berbagai kegiatan-kegiatan sosial dan kemasyarakatan. Kalau seperti ini, mana sempat membaca buku-buku diktat?

Ini juga yang saya rasakan. Sehingga untuk belajar, menyelesaikan tugas bahkan mengerjakan UAS menggunakan waktu-waktu sisa. Dan biasanya itu sudah tidak fresh lagi, sehingga malah menjadi beban. Akhirnya sering menunda dan terpaksa baru dikerjakan kalau sudah di limit waktu. Hehehe.

Keberatan kedua adalah membagi perhatian dengan keluarga. Kalau saat bekerja sudah sulit membagi untuk kuliah, maka harapannya adalah saat di rumah. Tapi saat di rumah pun, sering diganggu dengan permintaan perhatian sang anak.

Berapa sering saat saya sudah di depan komputer, tiba-tiba Zelda minta duduk di pangkuan saya dan minta bermain game. Kadang kalau lama, saya biarkan saja sendiri bermain komputer, lalu saya tinggal tidur. Harapannya nanti malam, saat semua sudah tidur, saya bangun dan belajar di depan komputer lagi.

Ternyata harapan ini nyaris sia-sia. Karena ternyata bangunnya sama dengan bangunnya penghuni anggota keluarga lain. Alias tidak bisa bangun malam untuk belajar. Kalau sudah begini, saya hanya tersenyum saja. Dan berjanji untuk melakukannya besok malam. (Sebuah janji yang tinggal janji, hehehe).

Keberatan lain, yang terutama, adalah otak yang sudah terasa tumpul. Bagaimana tidak. Untuk membaca dan memahami makna dari sebuah halaman buku teks rasanya susah. Harus dibaca berulang-ulang agar paham maksudnya. Jadi akan banyak makan waktu bila harus membaca sebuah buku, khususnya buku tebal yang sering memang jadi buku referensi.

Itu pun masih ditambah setelah membaca beberapa halaman, sudah terasa capek. Biasanya kalau begini minta selingan, entah makanan atau kegiatan lain. Sayangnya selingan ini justru yang utama, karena bisa memakan waktu lebih banyak. Hehehe.

Saya rasakan bagi yang profesinya bukan dosen, sebenarnya berat sekali untuk belajar lagi. Ini mungkin tak berlaku bagi yang memang pekerjaannya dosen, apalagi dosen dengan ilmu yang sama.

Lainnya adalah banyaknya gangguan-gangguan kecil dan remeh, misal: undangan pernikahan, acara keluarga, harus nglembur urusan kantor, ada masalah dengan rumah dan lainnya. Ini tentu takkan ada, seperti saat saya kuliah S1. Alias masih bujang dan ikut orang tua. Sehingga saat kuliah, harus bolos. Hehehe.

Belum lagi otak sudah penuh beban dan terbagi-bagi konsentrasi. Harus memikirkan strategi untuk memenangkan sebuah proyek kantor, terlibat dalam kegiatan kampung, dinas keluar kota dan masih banyak lagi lainnya, seperti apakah uang belanja sudah cukup atau tidak bulan ini. Hehehe.

Jadi di malam pelepasan wisuda itu, saat teman saya curhat dengan berbagai hambatan saat kuliah dalam sambutannya, saya tertawa-tawa sendiri. Tertawa karena mentertawakan diri sendiri. Hehehe. [TSA, 15/3/2012 malam]

~~~
Tulisan iseng ini hanya memperingati, ternyata saya bisa melewati juga keprihatinan babak II ini. Tujuan tulisan ini untuk memberi semangat anak-anak saya untuk selalu belajar. Semoga kelak Zidan dan Zelda membaca tulisan ini. Tulisan-tulisan tentang ini bisa anda ikuti di serial ‘Master of Facebook’.

~~~
*Mochamad Yusuf adalah magister komunikasi yang meneliti tentang Facebook. Karenanya dijuluki temannya sebagai Master of Facebook. Dia adalah online analyst, pembicara publik, host radio, pengajar sekaligus praktisi TI. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya, http://yusuf.web.id atau di Facebooknya, http://facebook.com/mcd.yusuf.

2 Comments - Leave a Comment

Leave a Reply