Menjadi Tumpahan Curhat Teman Kantor

Home / Artikel / SDM (Sumber Daya Manusia) / Menjadi Tumpahan Curhat Teman Kantor

talk-1034161_1920_300Bekerja di sebuah kantor pastilah bertemu banyak orang. Karena lamanya bertemu (sehari bisa 8 jam) bahkan bekerja sampai puluhan tahun, teman kantor sudah seperti keluarga. Maka sangatlah mungkin mereka pernah curhat dan berkeluh kesah pada Anda.

Apa yang harus Anda lakukan bila demikian?

Sederhana! Jadilah pendengar curhat yang baik. Tapi bagaimana harusnya menjadi pendengar yang baik itu?

Sebelum Anda mengetahui bagaimana menjadi pendengar yang baik, ada baiknya Anda tahu manfaat sebagai pendengar curhat. Menjadi pendengar curhat dapat membantu menyembuhkan rasa sakitnya dan membangun hubungan baik dengannya.

Selain itu menjadi pendengar yang baik juga menjadikan kita paham dan berempati pada orang lain. Ini adalah kemampuan melihat dari sisi orang lain. Dengannya Anda lebih bijak dalam menghadapi persoalan hidup, seperti Anda jadi bersyukur karena ada orang lain yang memiliki masalah yang sama dengan Anda tapi kadarnya lebih berat.

Berikut tips menjadi pendengar curhat teman kantor yang baik:

  1. Berikan perhatian sepenuhnya
    Bila seorang teman kantor curhat pada Anda, tentu saja curhatnya ingin Anda dengarkan. Bukan dia jadi mendengarkan omongan Anda. Karena itu berilah perhatian sepenuhnya. Singkirkan atau matikan hal yang menggangu perhatian Anda. Matikan TV atau radio, letakkan koran/buku/majalah/HP, tutuplah laptop dan berhentilah bekerja.

    Perhatikan juga bahasa tubuh Anda. Cara menatap lawan bicara, cara duduk atau berdiri menunjukkan kadar perhatian Anda ke dia. Posisi mendengarkan yang baik tidak hanya menyingkirkan pengalih perhatian, tapi juga meningkatkan kemampuan berkonsentrasi. Hal ini menunjukkan bahwa Anda bersikap terbuka dan mendahulukan kepentingan lawan bicara.

  2. Bersabar
    Tidak semua orang dapat berbicara dengan baik dan runtut. Apalagi saat curhat yang diliputi dengan emosi. Dia bisa berceritanya meloncat-loncat. Anda tidak boleh emosi mendengar ceritanya yang tidak jelas ini. Tapi bersabarlah. Bantu dia menceritakan secara runtut dengan pertanyaan-pertanyaan singkat atau pengulangan. Mintalah dia memberi contoh atau bukti yang membuat Anda semakin paham.
  3. Simpati dan empati
    Saat Anda mendengarkan curhatnya, dia seringkali larut dalam emosi. Kadang dia geram, jengkel, marah, sedih, puas, senang, menyesal dan sebagainya. Anda boleh saja ikutan dengan emosinya (empati) dan memberi dia simpati, tapi jangan sampai Anda ikutan terbawa emosi. Ingat Anda diminta mendengarkan curhat, sehingga Anda dapat memberi saran atau masukan yang bagus. Kalau Anda ikutan emosi, jadinya Anda tidak netral dan tidak bisa memberi solusi yang tepat.
  4. Berikan saran apa yang dia inginkan
    Kadang dia curhat hanya ingin melampiaskan saja. Karena itu Anda cukup mendengarkan. Tidak perlu berkomentar atau malah memberikan saran. Karena bisa jadi malah dia tidak berkenan.

    Bila dia meminta saran, coba tahan dulu. Ambil nafas, berpikir, dan ingat-ingat apa sebenarnya dia inginkan. Sehingga saran yang Anda berikan masih sesuai dengan harapannya. Misal: dia curhat tentang pacarnya yang selingkuh.

    Dia jengkel ingin memutuskan, tapi dia masih cinta. Dia gregetan tapi inginnya tetap bersamanya. Karena itu saran Anda ke dia untuk minta dia mengecek apa benar selingkuh, jangan-jangan itu saudara jauh atau teman lama. Setelah itu bisa Anda tambahkan saran yang sebaiknya menurut Anda. Kalau tidak, takutnya dia bertahan yang akhirnya jadi berdebat. Bila pun Anda memenangkan perdebatan ini, Anda dapat saja kehilangan sesuatu yang jauh lebih bernilai. *(my/20160419)

Leave a Reply

-->
%d bloggers like this: