Meraih Matahari di Puncak Penanggungan [3]: Melakukan Shalat di Puncak Gunung

Home / Blog / Meraih Matahari di Puncak Penanggungan [3]: Melakukan Shalat di Puncak Gunung

Bersama Rusdi Arief, penggagas acara ini.
Bersama Rusdi Arief, penggagas acara ini.
Saya merasa kurang khusyuk, karena diri saya merasa najis. Entah berapa kali sejak mulai mendaki itu, saya pipis sembarangan. Dan setelah pipis, saya tidak merasa membersihkan dengan benar.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Mengapa pendakian gunung ke Penanggungan ini saya lakukan? Padahal usia saya sudah tidak muda lagi. Juga karena sudah lama saya tidak melakukan hal ini.

Mungkin itu semata karena saya ingin mendapat sebuah pengalaman baru. Sebuah kegiatan yang ‘totally different’.

Mengapa?

Ya, karena penggagas acara ini saya kenal bukanlah seorang yang dulunya pecinta alam. Seseorang yang malah saya kenal aktif dalam kegiatan keagamaan. Bahkan sampai sekarang. Karena itu saya bayangkan ada kegiatan keagamaan dalam pendakian itu.

Meski itu tidak benar, tidak ada kegiatan keagamaan dalam acara pendakian itu, dia melakukannya sendiri. Sebuah acara yang bisa dibilang keagamaan juga. Tapi tidak dipaksakan dan dikerjakan bareng.

Setelah sampai di puncak gunung, semuanya pada tidur. Beristirahat. Memulihkan tenaga untuk kembali turun esoknya. Tapi dia melakukan shalat malam. Lama dia melakukannya.

Saat dia shalat, saya berhitung. Melakukannya juga atau tidak seperti dia.

Tapi ternyata saya memutuskan untuk tetap tidur. Saya ternyata belum sanggup memberi warna lain dalam kegiatan seperti ini. Meski begitu, saya melakukan shalat Subuh. Dan ternyata tetap susah. Saya tahu saya tidak khusyuk melakukannya. Tapi saya tetap senang. Karena saya telah memberi warna baru dalam hidup. Melakukan shalat di puncak gunung!

Saya merasa kurang khusyuk, karena diri saya merasa najis. Entah berapa kali sejak mulai mendaki itu, saya pipis sembarangan. Dan setelah pipis, saya tidak merasa membersihkan dengan benar. Harusnya saya membawa tisu basah untuk ‘cebok’ setelah pipis. Kedua, saya merasa kurang sreg dengan wudhu gaya tayammum ini. Yakni berwudhu dengan menggunakan embun yang melekat di daun-daun.

Tapi entahlah… Sepenuhnya saya serahkan pada Tuhan untuk menilai ibadah shalat Subuh saya ini.

~~~
Pelajaran ketiga:
Bawalah tisu basah kalau mendaki gunung. Hehehe. [Pare, 24/12/2012 petang, ditulis menggunakan tablet]

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, konsultan tentang online communication, pembicara publik tentang TI, host radio, pengajar sekaligus praktisi TI. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya, http://yusuf.web.id atau di Facebooknya, http://facebook.com/mcd.yusuf .

4 Comments

Leave a Reply

-->
%d bloggers like this: