Oleh-oleh Lebaran 1433H/2012M (3): Berkunjung ke Masjid Jin

Home / Blog / Oleh-oleh Lebaran 1433H/2012M (3): Berkunjung ke Masjid Jin

Mejeng sejenak di sekitar loket informasi untuk mendaftar masuk ke pondok pesantren salafiyah"Bihaaru Bahri 'Asali Fadlaailir Rahmah, Sananrejo, Turen, Malang. TEMPAT TERKEREN yang pernah saya datangi selama hidup saya!
Mejeng sejenak di sekitar loket informasi untuk mendaftar masuk ke pondok pesantren salafiyah”Bihaaru Bahri ‘Asali Fadlaailir Rahmah, Sananrejo, Turen, Malang. TEMPAT TERKEREN yang pernah saya datangi selama hidup saya!
Masjid ini diceritakan tiba-tiba ada. Penduduk sekitar tidak tahu adanya pembangunan masjid itu. Tiba-tiba muncul dan ada. Sehingga katanya yang membangun masjid ini adalah para jin.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Meski berkali-kali berada di Malang Selatan dan ada keinginan, tapi tak kunjung berangkat ke sana juga. Entah, mungkin alasan waktu yang terbatas saja. Jadi saat liburan panjang di hari lebaran lalu, tak saya siakan untuk ke sana. Apalagi ada partner yang mendukung perjalanan ke sana.

Kemana sih sebenarnya?

Orang-orang menyebutnya masjid tiban, masjid jin dan nama-nama berbau misteri lainnya. Cerita-cerita yang beredar memang menambah misteri dan rahasia bagi tempat ini. Karenanya saya ingin ke sana sejak dulu.

Masjid ini diceritakan tiba-tiba ada. Penduduk sekitar tidak tahu adanya pembangunan masjid itu. Tiba-tiba muncul dan ada. Sehingga katanya yang membangun masjid ini adalah para jin. Dan cerita-cerita misteri lain yang melingkupinya.

Saya mencoba menulis artikel apa adanya. Apa yang saya tahu, saya lihat dan saya dengar saat di sana. Saya masih belum riset dan membaca artikel-artikel lain khususnya di internet. Mungkin setelah ini, saya tulisa lagi setelah sedikit melakukan riset.

Saya berangkat dari rumah di kakak di Senggreng, Ngebruk, Malang setelah Dhuhur. Inginnya sih bisa shalat Ashar jamaah di sana. Menurut informasi perjalanan ke sana sekitar 45 menit.

Namun karena lebaran, jalanan relatif ramai sepertinya lebih lama. Tapi entah berapa persisnya. Saya lebih konsentrasi mengemudi mengikuti lekuk-lekuk jalan. Sepertinya berbelok-belok dan semakin masuk ke pedesaan.

Akhirnya melihat kerumunan orang dan banyak mobil parkir di sebuah tepi jalan. Yah, sepertinya sudah sampai. Saya yakin di saat lebaran seperti ini pasti penuh, maka saya siap untuk ikutan parkir di situ.

Tapi kakak menyarankan untuk masuk saja. Karena kalau parkir di sana, jalan masih jauh. Ya, saya turuti meski agak ragu karena untuk masuk ke masjid itu, saya harus melewati jalan sempit. Hanya pas 1 mobil. Lha nanti pulangnya bagaimana? Pasti repot. Apalagi kanan kiri banyak penjual.

Pelan-pelan saya kendarai mobil, dan mulai terlihat gedungnya. Terlihat megah, apalagi kubahnya yang besar. Yang menarik di atas atap itu banyak berkibar bendera merah putih.

Lalu saya memasuki gerbang. Gerbangnya tampak megah dengan dipenuhi keramik. Setelah melewati gerbang, saya dihentikan untuk diberi selembar kertas. Bayangan saya, ini adalah peta dan sederhananya ‘company profile’nya. Ternyata dugaan saya itu salah…

Setelah itu mobil berjalan. Mulai mendekati gedung. Tampak megah. Kayak istana saja. Jalan membelok ke kanan, lalu masuk sebuah jalan yang menurun. Tampak gerbang dan jalan yang dipagari tembok tinggi yang artistik.

Saya terus saja, ternyata di belakang gedung ada halaman parkir. Cukup luas. Dan saya masih dengan mudah mendapat lahan parkir. Padahal pengunjungnya sangat padat. Maklum baru satu hari setelah lebaran.

Setelah parkir, kita berjalan menuju tempat informasi. Ternyata selembar kertas ini seperti tiket. Ini harus didaftarkan pada petugas. Dan nantinya akan ditukar dengan kertas lain. Kertas ini seperti tiket. Tapi kelak saya tahu, istilah ini kurang tepat.

Sayangnya pas di tempat informasi, petugasnya tidak ada. Tutup. Terlihat ada tulisan ‘sedang shalat jamaah’ di meja. Memang saat saya tiba di sana bersamaan dengan adzan Ashar.

Menunggu petugas datang, saya dan anak-anak melihat pemandangan sekitar. Zidan sepertinya tertarik dengan bendera yang dikibarkan. Saya lihat,… astaga sepertinya bendera terbesar yang pernah dikibarkan di Indonesia. Minimal terbesar yang pernah saya lihat. Saya pernah ikut upacara 17 Agustus-an di istana, namun rasanya bendera ini masih lebih besar beberapa kali lipat dibanding sang saka merah putih itu.

Setelah petugas datang kita dapat ‘tiket’. Tidak ada uang yang harus dikeluarkan. Gratis.

Mulailah kita masuk ke gedung. Layaknya tempat-tempat yang biasa kita kunjungi, Zidan, anak laki saya, sudah melesat duluan. Saya yang biasa melihat hal ini, biasa saja. Namun kakak yang pernah berkunjung itu menyuruh mencari Zidan dan memintanya untuk dalam satu kelompok. Kelak saya setujui kekhawatiran ini.

Mulailah kita memasuki gedung ini. Banyak ruang, ternyata. Juga banyak jalan dan lorong yang bisa dilewati. Termasuk tangga naik dan turun. Beberapa bagian seperti jalan buntu. Ada ruang, ada lorong tapi tidak ada kelanjutannya.

Meski kita berusaha sekelompok terus, namun ada beberapa orang yang penasaran dengan beberapa ruang sehingga sempat terpisah dengan kelompoknya. Karenanya anggota kelompok besar akan memanggilnya untuk tetap kembali di dalam kelompok.

Betul. Saya merasa gedung ini seperti labirin raksasa. Banyak jalan dan lorong yang entah menuju ke mana. Sehingga sebenarnya, bisa banyak rute yang bisa ditempuh. Tapi kita putuskan mengikuti tulisan ‘jalur silaturahmi Idhul Fithri’ dengan tanda panah yang banyak ditempel di beberapa bagian.

Mengikuti petunjuk itu, ternyata mengikuti sebuah rute. Karena entah di suatu bagian, akan mencul petunjuk itu. Saya ikuti panah yang ditunjuk. Bayangan saya, ini petunjuk bagi tamu yang datang berkunjung ke pemilik/pengelola tempat ini. Tapi kita kan bukan tamu? Hanya pengunjung/wisatawan. Meski begitu kita coba ikuti rute ini, meski ya sekali-kali tidak patuh mengikuti rute yang diminta.

Beberapa kali kita ketemu seperti masjid/mushalla. Karena terhampar permadani yang luas. Dan beberapa orang tampak shalat di sana. Tapi kita sering bingung dan menebak-nebak, sebenarnya ini ruang apa? Ya, ada beberapa mungkin bisa kita tebak misal: ruang tamu, ruang belajar dan lainnya.

Akhirnya kita berhenti di sebuah ruang cukup luas. Tampak ada batas kayu. Di baliknya ada hamparan permadani. Di atasnya tampak beberapa toples makanan. beberapa orang duduk di atasnya sambil menikmati makanan tersebut.

Wah, ini mungkin tamu dari pengelola/pemilik tempat ini. Saya tidak berani mendekati tempat itu. Hanya melihat dari kejauhan. Tapi kakak memberanikan diri mendekat.

Eh, ternyata kita dipersilahkan untuk datang. Ya, karena dipersilakan, kita berani datang dan lalu duduk bersila di permadani. Namun saat istri dan beberapa perempuan mau ikut, ternyata ditolak masuk ke ruang situ. Mereka dipersilakan khusus ke ruang untuk wanita. Sama. Ada permadani dan toples-toples makanan di atasnya.

Seorang pria bersarung dengan kemeja yang rapi ditutup jas menyambut kita denga ramah. Dia mempersilakan mencicipi makanan yang ada dalam toples. Mulailah saya dan rombongan mencicipi makanan. Makanan khas makanan lebaran, seperti kacang, krupuk-krupuk, melinjo dan saya suka onde-onde keras.

Dia sibuk menyiapkan minuman. Tidak seperti kebiasaan lebaran sekarang yang menyediakan minuman siap saji seperti gelas air mineral/teh gelas, dia menuangkan minuman dari sebuah ceret. Karena kurang gelas/air mungkin, dia sempat beberapa kali masuk ke sebuah ruangan. Akhirnya semua rombongan mendapat satu-satu minuman sendiri.

Setelah dia sudah tidak sibuk, mulailah kita berbincang. Awalnya dia menanyakan dari mana kita. Setelah mulai gayeng, saya mulai bertanya ini-itu. Meski sudah terbuka, saya masih belum berani bertanya yang lebih dalam. Enath, apa yang menghalangi saya melakukan hal itu. Mungkin sungkan atau takut.

Betul. Ketika saya mulai masuk gerbang gedung itu, ada perasaan bagaimana begitu. Ada perasaan takut, penasaran, dan berbagai perasaan lainnya.

Dari perbincangan itu, akhirnya saya tahu bahwa gedung yang kita masuki ini bukanlah masjid. Tapi adalah pondok pesantren. Masjid justru berada di luar gedung. Pembangunan pondok ini tidak pernah direncanakan sejak awal. Tapi dibangun saat mendapat petunjuk dari Tuhan saat melakukan shalat. Jadi sedikit demi sedikit. Yang membangun adalah para santri sendiri.

Dari perbincangan itu ada yang membuat saya bangga. Bahwa tidak setiap saat, kita dijamu seperti ini. Ini terjadi karena lebaran. Dan saya lihat dari sekian ribu pengunjung, mulai kita datang sampai pulang tidak banyak rombongan yang masuk ke ruang ini. Saya bangga dijamu dan berbincang-bincang dengan pengelola gedung ini.

Yang lebih hebat lagi istri dan rombongan perempuan lainnnya. Karena mereka dijamu oleh Nyai sendiri. Nyai inilah yang sekarang sebagai pemilik dan pengelola gedung ini. Karena suaminya meninggal beberapa waktu sebelumnya. Dialah dan anak-anak perempuannya (karena anak-anaknya memang hanya perempuan) yang meneruskan pembangunan dan pengelolaan gedung ini. [PURI, 30/8/2012 sore]

~~~
Serial “Oleh-oleh Lebaran 1433H/2012M” ini adalah sedikit cerita saat saya berlebaran di tahun 1433H/2012M.

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, pembicara publik tentang IT, host radio, pengajar sekaligus praktisi IT. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya, http://yusuf.web.id atau di Facebooknya, http://facebook.com/mcd.yusuf .

3 Comments

Leave a Reply

-->
%d bloggers like this: