Pernik Ramadhan 2013 (4): Keluarga adalah Surga dan Neraka Kita Sesungguhnya

Home / Blog / Pernik Ramadhan 2013 (4): Keluarga adalah Surga dan Neraka Kita Sesungguhnya

(ref: sxc.hu)
(ref: sxc.hu)
“Aku protes! Ini tidak adil. Saya memang bejat. Saya memang rusak. Saya memang jauh dari agama. Namun hal ini terjadi karena kedua orang tua saya tidak mendidik saya sebagaimana seharusnya. Mereka harusnya bertanggung jawab masuknya saya ke neraka.”

Oleh: Mochamad Yusuf*

Kelak manusia akan dikumpulkan di sebuah tempat yang luas. Mereka diadili di sebuah pengadilan dengan bukti dan saksi yang tidak dapat dibantah. Sebuah pengadilan tanpa suap dengan keputusan yang sangat adil. Vonis dari pengadilan ini hanya 2: masuk surga atau masuk neraka.

Sampailah pengadilan ini memanggil seseorang. Setelah dilihat catatan amal kebaikan dan catatan keburukan, dan tentunya juga mencocokkan saksi-saksi maka orang ini divonis masuk surga. Ini karena amal kebaikannya lebih banyak datipada amal keburukannya. Betapa gembiranya dia. Dengan bersorak-sorak dia masuk surga.

Lalu sampailah juga pengadilan memanggil seseorang. Melihat catatan keburukannya lebih banyak daripada kebaikannya, maka tidak ayal lagi vonisnya harus masuk neraka. Orang ini digiring masuk ke neraka. Dia sedih dan tampak penyesalan yang amat dalam. Namun saat di pintu neraka, dia tertegun dan berhenti. Tidak mau bergerak.

“Aku protes! Ini tidak adil. Saya memang bejat. Saya memang rusak. Saya memang jauh dari agama. Namun hal ini terjadi karena kedua orang tua saya tidak mendidik saya sebagaimana seharusnya. Yakni menjadi manusia yang baik. Mereka harusnya bertanggung jawab masuknya saya ke neraka. Kalau perlu mereka juga masuk neraka bersama saya,” teriaknya.

Melihat kehebohan ini, para malaikat yang menggiringnya melaporkan kepada Allah SWT.

“Di mana orang tuanya?” tanya Allah.
“Ada di surga,” jawab malaikat.
“Panggil mereka dan masukkan mereka ke neraka bersamanya” titah Allah.

Di pengadilan lain, seseorang divonis masuk surga. Amal kebaikannya melebihi amal keburukannya sehingga menyebabkannya masuk ke tempat yang didamba semua makhluk hidup. Surga! Malaikat menggiringnya masuk surga. Namun saat di surga, dia tertegun.

Dia berhenti. Tidak mau bergerak. Dia mulai menangis. Menangisnya semakin keras. Terguling-guling di tanah sambil terus menangis. Melihat hal ini malaikat menanyakan padanya kenapa dia menangis.

Akhirnya malaikat melaporkan kehebohan ini pada Allah.

“Kenapa dia tidak mau masuk surga?” tanya Allah.
“Dia teringat pada kedua orang tuanya. Dia merasa masuk surga karena bimbingan kedua orang tuanya. Dia merasa tidak adil kalau dia sendiri masuk surga tanpa mengetahui kabar kedua orang tuanya,” jawab malaikat.
“Dimana kedua orang tuanya?” tanya Allah kembali.
“Ada di neraka,” jawab malaikat.
“Panggil mereka dan masukkan bersamanya ke surga” perintah Allah.


Kesibukan kita mengejar harta, karir, jabatan dan materi-materi lainnya kerap memang memaksa kita untuk mengerahkan sumber daya yang kita miliki untuk keperluan itu. Termasuk mungkin adalah waktu dan perhatian pada anak. Kerap untuk meraih hal itu semua, kita harus jauh dengan anak entah sebentar atau lama, sehingga tidak punya kesempatan untuk mendidik dan membentuk akhlaknya. Apalah arti kesuksesan yang diraih: kekayaan berlimpah, jabatan mentereng, status sosial yang tinggi dan lainnya, bilamana keluarga menjadi korbannya. Anak-anak merasa kurang perhatian sehingga lari ke narkoba dan pergaulan bebas? Ini hanyalah sedikit balasannya di dunia. Di akhirat kita bisa saja terseret ke neraka gara-gara kita menelantarkan anak dengan tidak membentuk karakter yang baik. Lalu apa artinya itu semua? Marilah kita kembali ke pondasi dasar kita saat dihadirkan di dunia. Yakni beribadah padanya. Dan keluarga adalah pondasi untuk mencapai untuk itu semua. Modal untuk meraih surga atau neraka. Karena di sana kita memiliki amanah dan tanggung jawab masing. Yakni sebagai anak dan orang tua. Karena setiap manusia pasti adalah anak. Dan bisa juga menjadi orang tua. Mari kembali ke keluarga. Di sanalah surga atau neraka kita sesungguhnya. Terserah kita. Jadi jangan sia-siakan sumber daya khususnya waktu dan umurkita. Ingat cerita di atas. Kesempatan kitlah di sana untuk mencipta surga dan neraka kita. [PR, 2/4/2013 siang]

Pernik Ramadhan adalah tulisan yang saya usahakan rutin saya tulis setiap hari selama bulan Ramadhan 1434H/2013M. Semoga tulisan ini membawa manfaat bagi kita semua. Amin.

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, konsultan tentang online communication, pembicara publik tentang II, host radio, pengajar sekaligus praktisi IT. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya, http://www.yusuf.web.id

4 Comments

Leave a Reply

-->
%d bloggers like this: