Pernik Ramadhan 2013 (7): Diary Seorang Manusia

Home / Blog / Pernik Ramadhan 2013 (7): Diary Seorang Manusia

(ref: sxc.hu)
(ref: sxc.hu)
Kita kembali sendiri. Dan anak-anak jauh dari kita. Kita tidak dapat mengembalikan waktu yang kita terima. Tiba-tiba waktu, harga berharga itu, diminta kembali. Sebuah penyesalan di ujung waktu. Seperti apa yang sudah ditulis seseorang pada diary hidupnya.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Saat Ramadhan saatnya melakukan templasi. Perenungan. Bagaikan kepompongan. Berdiam diri yang harapannya mengubah diri dari ulat yang mengganggu dan merusak menjadi kupu-kupu yang indah dan berguna. Karena kupu-kupu membantu penyerbukan, sehingga memungkinkan terjadi pembuahan. Hasil akhirnya adalah buah yang berguna bagi makhluk hidup lain.

Salah satu yang perlu kita renungkan adalah waktu. Waktu adalah harta yang luar biasa hebatnya yang dimiliki oleh setiap manusia bahkan setiap makhluk hidup. Kaya, miskin, tua, muda, rakyat jelata, pejabat pastilah memiliki harta ini, diberikan oleh Allah sang Pencipta.

Yang jadi masalah adalah bagaimana manusia itu memanfaatkan waktu yang telah diterima. Karena dimanfaatkan atau tidak, waktu itu terus berjalan. Seperti hubungan kita dengan anak-anak kita.

Waktunya demikian cepat berlalu. Rasanya barusan lahir, eh sudah belajar berjalan. Barusan masuk sekolah playgroup, eh sudah mau sunat. Barusan lulus SD, sudah mau punya pacar di SMA dan seterusnya.

Karena tidak pandai memanfaatkan waktu, maka hubungan yang terjadi dengan anak-anak kerapkali kurang baik. Karena kita tidak cukup memberikan waktu yang kita terima untuk diberikan lagi pada anak-anak kita. Dan tiba-tiba anak-anak sudah dewasa, berkeluarga dan memiliki anak-anaknya sendiri.

Kita kembali sendiri. Dan anak-anak jauh dari kita. Kita tidak dapat mengembalikan waktu yang kita terima. Tiba-tiba waktu, harga berharga itu, diminta kembali. Sebuah penyesalan di ujung waktu. Seperti apa yang sudah ditulis seseorang pada diary hidupnya.

Mari kita baca bareng diarynya. Semoga menjadi pembelajaran bagi kita. Amin.


Anakku umur 1 tahun. Aku menyuapi dan memandikanmu. Namun kamu membalasnya dengan menangis sepanjang malam. Anakku umur 2 tahun. Aku mengajarimu bagaimana cara berjalan. Namun kamu membalasnya dengan kabur saat aku memanggilmu. Anakku umur 3 tahun. Aku memasakkan semua makananmu dengan kasih sayang. Namun kamu membalasnya dengan membuang piring berisi makanan ke lantai. Anakku umur 4 tahun. Aku memberimu pensil berwarna. Namun kamu membalasnya dengan mencoret-coreti dinding rumah dan meja makan. Anakku umur 5 tahun. Aku membelikanmu pakaian-pakaian yang mahal dan indah. Namun kamu membalasnya dengan memakainya untuk bermain di kubangan lumpur dekat rumah. Anakku umur 6 tahun. Aku mengantarmu pergi kesekolah. Namun kamu membalasnya dengan berteriak."NGGAK MAU!!" Anakku umur 7 tahun. Aku membelikanmu bola. Namun kamu membalasnya dengan melemparkan bola ke jendela tetangga. Anakku umur 8 tahun. Aku memberimu es krim. Namun kamu membalasnya dengan menumpahkan hingga mengotori seluruh bajumu. Anakku umur 9 tahun. Aku membayar mahal untuk kursus pianomu. Namun kamu membalasnya dengan sering bolos dan sama sekali tidak pernah berlatih. Anakku umur 10 tahun. Aku mengantarmu ke mana saja, dari kolam renang hingga pesta ultah. Namun kamu membalasnya dengan melompat keluar mobil tanpa memberi salam. Anakku umur 11 tahun. Aku mengantar kau dan teman-temanmu ke bioskop. Namun kamu membalasnya dengan memintaku duduk di baris lain. Anakku umur 12 tahun. Aku melarangmu untuk melihat acara TV khusus orang dewasa. Namun kamu membalasnya dengan menungguku sampai keluar rumah. Anakku umur 13 tahun. Aku menyarankanmu untuk memotong rambut. Namun kamu membalasnya dengan mengatakan padaku tidak tahu mode. Anakku umur 14 tahun. Aku membayar biaya untuk kempingmu selama sebulan liburan. Namun kamu membalasnya dengan tak pernah meneleponnya. Anakku umur 15 tahun. Aku pulang kerja ingin memelukmu. Namun kamu membalasnya dengan mengunci pintu kamarmu. Anakku umur 16 tahun. Aku mengajari engkau mengemudi mobilnya. Namun kamu membalasnya dengan memakai mobilnya setiap ada kesempatan tanpa peduli kepentingannya. Anakku umur 17 tahun. Aku sedang menunggu telepon yang penting. Namun kamu membalasnya dengan memakai telepon nonstop semalaman. Anakku umur 18 tahun. Aku menangis terharu ketika kau lulus SMA. Namun kamu membalasnya dengan berpesta dengan temanmu hingga pagi. Anakku umur 19 tahun. Aku membayar biaya kuliahmu dan mengantarmu ke kampus pada hari I. Namun kamu membalasnya dengan minta diturunkan jauh dari pintu gerbang agar kau tidak malu di depan teman-temanmu. Anakku umur 20 tahun. Aku bertanya, "Dari mana saja seharian ini?" Namun kamu membalasnya dengan menukas, "Ah, cerewet amat sih, ingin tahu urusan orang!" Anakku umur 21 tahun. Aku menyarankan satu pekerjaan yang bagus untuk karirmu di masa depan. Namun kamu membalasnya dengan menukas, "Aku tidak ingin seperti Engkau." Anakku umur 22 tahun. Aku memelukmu dengan haru saat kau lulus perguruan tinggi. Namun kamu membalasnya dengan bertanya kapan bisa ke Bali. Anakku umur 23 tahun. Aku membelikanmu 1 set furnitur untuk rumah barumu. Namun kamu membalasnya dengan menceritakan pada temanmu betapa jeleknya furnitur itu. Anakku umur 24 tahun. Aku bertemu dengan tunanganmu dan bertanya tentang rencananya di masa depan. Namun kamu membalasnya dengan mengeluh, "Aduh, bagaimana sih kok bertanya seperti itu?" Anakku umur 25 tahun. Aku mambantumu membiayai penikahanmu. Namun kamu membalasnya dengan pindah ke kota lain yang jaraknya lebih dari 500km. Anakku umur 30 tahun. Aku memberikan beberapa nasehat bagaimana merawat bayimu. Namun kamu membalasnya dengan berkata, "Sekarang zamannya sudah berbeda!" Anakku umur 40 tahun. Aku menelepon memberitahukan pesta ulang tahun salah seorang kerabat. Namun kamu membalasnya dengan berkata, "Saya sibuk sekali, nggak ada waktu." Anakku umur 50 tahun. Aku sakit-sakitan sehingga memerlukan perawatanmu. Namun kamu membalasnya dengan membaca tentang pengaruh negatif orang tua yang menumpang tinggal di rumah anak-anaknya. Dan hingga suatu hari seseorang menulis di buku diary itu: dia meninggal dengan tenang. [SUMA, 20/7/2013 siang]

Pernik Ramadhan adalah tulisan yang saya usahakan rutin saya tulis setiap hari selama bulan Ramadhan 1434H/2013M. Semoga tulisan ini membawa manfaat bagi kita semua. Amin.

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, konsultan tentang online communication, pembicara publik tentang II, host radio, pengajar sekaligus praktisi IT. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya, http://www.yusuf.web.id

2 Comments

Leave a Reply

-->
%d bloggers like this: