Rahasia Rejeki (15): Misteri Rejeki Tukang Tambal

Home / Serial Tulisan / Rahasia Rezeki / Rahasia Rejeki (15): Misteri Rejeki Tukang Tambal

Saya sampai sekarang tak bisa menjelaskan bagaimana itu terjadi. Kalo misalnya tukang tambalnya lupa mencabut paku, seharusnya sudah bocor jauh sebelumnya. Karena jarak rumah – kantor adalah 16 km.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Tiga bulan lalu saya mengalami kejadian yang aneh. Begitu anehnya, saya sampai menuliskan sebagai status facebook. Ingin tahu apa komentar teman-teman dari peristiwa itu.

Sebenarnya kejadiannya biasa. Hanya ban bocor. Tapi ban ini bocornya baru ketahuan pagi sebelum dipakai. Jadi malamnya tak bocor. Bahkan masih bisa mengantarkan saya dari kantor ke rumah. Namun pagi ketika mau dipakai, ketahuan ban bocor.

Oke, bisa saja banyak hal yang menyebabkan hal itu. Namun kejadian ini berlangsung 3 hari berturut-turut. Bahkan sepeda anginnya (pancal) Zidan juga ikutan. Jadi yang itu bisa sehari 2 kali bocor. Sehingga total 4 kali bocor, 3 kali sepeda motor saya dan sekali sepada anginnya Zidan.

Terus terang saya merasa aneh. Karena ban luar dan ban dalamnya masih baru. Untuk ban luar ketebalannya masih cukup. Dan ban dalam belum banyak tambalannya.

Bocor sebelumnya sudah lama. Mungkin beberapa bulan sebelumnya. Saat itu memang ban sudah aus, jadi saya ganti sekalian. Ban luar dan dalam. Dan kelak, setelah peristiwa aneh ini terjadi, kebocoran tak ada lagi. Padahal saya juga tak melakukan apapun, selain menambal. Karena saya merasa ban luar dan dalamnya masih baru.

Jadi selama 3 hari, saya setiap pagi ke bengkel untuk menambal. Cukup jengkel juga. Tapi saya masih bisa bersyukur, karena terjadi di rumah. Jadi suasananya masih enak. Kalau itu terjadi di jalan, mungkin saya lebih uring-uringan. Karena masih harus mencari-cari tukang tambal ban. Dan itu pun sambil menuntun sepeda motor. Bila arahnya salah, bisa menuntun sangat lama karena jauh.

Saya sampai sekarang tak bisa menjelaskan bagaimana itu terjadi. Kalo misalnya tukang tambalnya lupa mencabut paku yang masih menancap, seharusnya sudah bocor jauh-jauh sebelumnya. Karena jarak rumah – kantor adalah 16 km. Jadi kalau pulang pergi total bisa lebih dari 30 km. Kalau masih ada paku, pastinya sudah bocor selama dalam perjalanan itu.

Kalo misalnya ada yang masangi paku di sekitar perumahan saya, sudah pasti banyak korbannya. Karena warga perumahan rata-rata sama yakni pegawai. Sehingga berangkat dan pulangnya hampir di jam yang sama dengan saya. Kalau demikian pasti banyak korban dari perumahan saya. Tapi kenyataannya tidak.

Kesimpulan saya sementara saat ini adalah mungkin itu rejekinya tukang tambal ban depan perumahan. Karena selama 3 hari berturut-turut itu saya bawa ke tukang tambal ban yang sama. Jadi tukang tambal ban itu dapat rejeki menambal sebanyak 4 kali. Bahkan orang yang menambal orangnya sama. Padahal sebenarnya tukang tambal ban itu tandem dengan kakaknya. Biasanya yang nambal ya kakaknya itu. Jadi yang terima uangnya ya adiknya itu.

Inilah mungkin yang dimaksud dengan rejeki ada yang mengatur. Asal kita beriktiar untuk mencarinya. Pekerjaan tukang tambal adalah salah satu ikhtiar. Mari kita beriktiar mencari rejeki! Karena rejeki akan datang, selama kita berusaha mencarinya. [TSA, 02/11/2010 subuh]

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, pembicara publik, host radio, pengajar sekaligus praktisi TI di SAM Design. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya atau di Facebooknya.

2 Comments

  • Pengalaman yang mirip sering saya alami. salah satunya adalah rezeki warung yang masakannya bisa dikatakan gak enak. cerita berawal dari perjalanan pulang saya dari trenggalek ke surabaya…. saya sudah merencanakan makan enak di kota kediri, tentunya pada tempat yang sudha ditentukan. Al hasil tempat-tempat makan yang saya tuju tidak buka. keliling mencari alternatif, hasilnya selalu ragu untuk mampir. ternyata akhirnya sampailah pada sebuah warung yang secara tiba-tiba saya ampiri. kami bertujuh waktu itu. dan…. kami makan dengan menu yang rasanya tidak enak bagi kami. Tapi saya berfikir…. kenapa ya tadi tiba-tiba berhenti di warung ini?
    jawaban paling logis adalah ya rejeki yang punya warung.

Leave a Reply

-->
%d bloggers like this: