Rahasia Rejeki (35): Kisah Si Cantik Dan Si Buruk

Home / Serial Tulisan / Rahasia Rezeki / Rahasia Rejeki (35): Kisah Si Cantik Dan Si Buruk

Bahwa rejeki yang dimiliki sejak lahir seperti kecantikan, orang tua yang kaya, bersekolah di sekolah favorit belum menjamin dia mendapat rejeki lebih. Rejeki akan datang bila kita mengupayakannya.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Lewat Facebook akhirnya saya bertemu kembali teman sekolah. Entah sudah puluhan tahun sejak lulus sekolah. Tentu saja senang bisa berjumpa lagi. Akhirnya kita putuskan untuk bertemu tatap muka.

Seperti jamaknya, teman sekolah yang tak bertemu lama pasti menanyakan beberapa pertanyaan klise, seperti kerja di mana, tinggal di mana dan anaknya berapa. Demikian juga ketika bertemu dia, saya tanyakan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya basa-basi ini.

“Anakmu berapa?” saya bertanya. “Belum,” jawabnya. Saya sudah hampir menanyakan kenapa kok belum, apa niat KB dulu dan sudah berapa lama menikah, dia sepertinya sudah bisa membaca pikiran saya. “Belum, saya malah belum menikah,” katanya lirih.

“Tidak, saya belum pernah menikah. Saya tidak status bercerai,” dia menjelaskan sebelum saya mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Tentu saja saya akan bertanya seperti ini, karena dia teman seangkatan. Sehingga pasti umurnya hampir sama dengan saya.

Sudah pasti umurnya sudah kepala 3. Bahkan sudah hampir mendekati kepala 4. Tentu saja umur seperti ini sudah sepatutnya menikah. Tak ada alasan belum cukup umur atau tidak siap.

“Kenapa?” tanya saya terus terang. Mungkin karena sudah teman lama atau mungkin karena sudah lama tak bertemu, dan mungkin setelah ini tak bertemu lagi, saya berani menanyakan pertanyaan yang tanpa basa-basi ini. Langsung, menukik.

Dia menghela nafas. Berpikir dan mencoba mencari jawaban yang tepat. Mungkin dia berharap dengan jawaban yang tepat, saya tak akan melanjutkan dengan pertanyaan selanjutnya. Dan berhenti tak membicarakan topik ini.

“Saya tak menarik, Suf,” katanya, “Saya tak cantik dan seksi. Siapa yang akan suka dengan saya?”

“Tapi kamu sudah bekerja kan?” tanyaku. “Ya, kerja kecil-kecilan,” jawabnya. “Sudah berapa lama kamu kerja di situ?” tanya saya kembali. “Sudah hampir 20 tahun. Karenanya saya sudah dipercaya pemilik. Saya sudah seakan-akan sudah seperti pemilik perusahaan ini.” “Artinya, kamu sudah cukup secara materi kan?” tanya saya meyakinkan. Dia mengangguk.

“Kamu tak ada alasan untuk tidak menikah. Kamu tak bisa juga menyalahkan fisikmu itu. Kamu punya hak untuk hidup bahagia dengan berkeluarga. Bahkan kalau sikapmu benar, kamu bisa lebih bahagia dengan orang yang dianuhgrahi kecantikan dan fisik sempurna. Saya punya cerita.” kata saya mulai meyakinkan dia.

Ya, saya punya teman. Sebenarnya bukan teman saya persisnya. Dia adalah teman sekolah dari seorang teman saya. Saya mendapat cerita ini darinya.

Dia punya 2 sahabat. Sahabat karena ditemukan di sekolah menengah pertama. Yang satu dikarunia kecantikan dan fisik yang sempurna. Sedangkan yang satu ya standardlah. Bahkan bisa dibilang jelek.

Yang cantik tentu saja percaya diri, karena banyak yang mengagumi bahkan menyukai. Sehingga banyak yang memberikan perhatian, bahkan hadiah. Kalau ada tugas kelompok sekolah, dia tak kesulitan mencari kelompok. Banyak teman pria yang menawari bergabung di kelompoknya. Atau kalau ada ulangan, banyak cowok yang bersedia memberikan contekan. Dia senang dan terlena dengan hal ini.

Sebaliknya yang satunya, meski fisiknya standard dia tak merasa kekurangan dengan apa yang dimilikinya. Dia aktif dalam berbagai organisasi. Sikapnya ceria, ramah, suka menolong dan selalu ingin maju. Dia juga bersikap mandiri. Sehingga dia banyak meraih prestasi.

Setelah lulus sekolah, ketiga sahabat ini berpisah. Dan bertemu kembali setelah dewasa. Ternyata si cantik sudah kawin cerai sebanyak 3 kali. Pernikahannya tak pernah lama. Semua suaminya berselingkuh dan meninggalkan dia dan anak-anaknya.

Sekarang dia harus menghidupi 4 anaknya sendiri. Keadaannya tak terurus. Sepertinya dia mengalami keadaan yang menyengsarakan. Sisa-sisa kecantikan sepertinya tak berbekas lagi.

Ternyata karena kecantikannya itu, sikapnya yang sejak masih bujang tetap terbawa sampai menikah. Dia masih membayangkan banyak lawan jenis yang akan memanjakannya. Dia tak berubah, bahwa dia sekarang adalah seorang istri yang harusnya ‘melayani’ suaminya.

Bahkan ketika pertengkaran muncul bahkan sampai hebat pun, dia tetap percaya diri. Bahwa kalau cerai sekalipun, dia akan mudah untuk mencari suami baru. Karena sikapnya ini, ‘suami-suami’nya tak tahan dengan sikapnya. Sehingga berselingkuh dan menikah lagi.

Sekarang dia merasakan buahnya dari ini semua. Usia mengurangi kecantikannnya, dan tentu saja sudah berkurang pula yang mengaguminya. Padahal dia harus menghidupi anak-anaknya. Dia tak terbiasa untuk mencari uang dan bekerja keras. Karena biasanya dilayani. Sekarang dia merana.

Sebaliknya teman yang jelek tadi jadi cantik. Teman saya sampai takjub, tak percaya bahwa dia temannya yang ‘buruk rupa’ itu. Ternyata keaktifannya terus dia pertahankan sampai kuliah. Sehingga dengan banyak teman, dia dengan mudah mendapat pekerjaan. Kelak dia sampai menduduki posisi yang tinggi. Bahkan kemudian dia berbisnis sendiri, banyak yang mendukungnya.

Sifatnya yang ramah, ceria dan banyak menolong ini membuat seseorang tertarik padanya. Dia menikah dan bersikap baik dengan suaminya. Sehingga rumah tangganya berjalan dengan lancar dan bahagia.

Keberhasilan karir dan bisnisnya, membuat dia punya banyak uang untuk merawat diri. Sehingga dia bisa ‘mempermak’ dirinya menjadi cantik. Ditambah dengan apa yang dikenakannya, seperti baju, aksesoris, tas dan lainnya semakin menunjang penampilannya. Sekarang dia sudah berubah. Persis seperti cerita ‘itik buruk rupa’ yang berganti itik yang sempurna.

Saya ceritakan semuanya pada teman yang baru bertemu lewat Facebook itu. Harapan saya, dia mengubah konsep hidupnya dan berubah sikap dan kegiatannya untuk tetap dapat meraih kehidupan. Masih ada waktu untuk tetap meraih kebahagiaan.

Bahwa rejeki yang dimiliki sejak lahir seperti kecantikan, orang tua yang kaya, bersekolah di sekolah favorit belum menjamin dia mendapat rejeki lebih. Rejeki itu akan datang bila kita mengupayakan dan bersikap positif, bahwa kita bisa meraihnya. Bukan sekedar rejeki itu pasti datang. [TSA, 03/03/2011 subuh]

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, pembicara publik, host radio, pengajar sekaligus praktisi TI di SAM Design. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya atau di Facebooknya.

One Comment

Leave a Reply

-->
%d bloggers like this: