Contact us now
+6289-774455-70

Rahasia Rejeki (40): Rahasia Rejeki Yang Terlupakan

Saya tercenung dengan hal ini. Sebuah rahasia rejeki yang mudah. Namun terlalu sederhananya sering kita mengabaikannya. Malah sering kali kita menolaknya. Jangan sampai kita seperti Malin Kundang.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Suatu waktu saya berkunjung ke seorang teman yang baru saya kenal. Dia seorang pengusaha percetakan. Namun juga memiliki beberapa bisnis kecil-kecilan, seperti warung bakso, dan kedai-kedai franchise di depan toko serba ada modern yang sekarang ramai bertebaran.

Saya lihat ada 2 mobil yang bertengger di garasinya. Satu mini MPV baru yang banyak dipakai banyak orang. Lalu ada sedan yang agak lama. Rumahnya bagus bertingkat. Melihat perabot di dalamnya, saya tebak memang dia sudah sukses.

Dia dulu sebenarnya bukan pengusaha. Karyawan juga, ikut orang. Sejak lulus kuliah, dia bekerja berganti-ganti perusahaan. Tapi dari itu semua ada kesamaan: dia menjadi sales.

Bahkan di beberapa perusahaan dia bekerja sebagai sales canvasser. Sales yang membawa mobil mengangkut produk. Biasanya dilakukan mengelilingi beberapa kota sekaligus. Sehingga sekali jalan bisa memakan waktu beberapa hari.

Setelah ngobrol berbagai topik, kita terdiam. Mata saya melihat berita koran tentang Presiden SBY yang mampir ke rumah Ibunya di Pacitan waktu melakukan perjalanan dinas ke Jawa Timur. Sepertinya teman saya melihat apa yang saya baca.

“Kamu tahu rahasia lancar rejeki, Suf?” tiba-tiba dia bertanya. Saya diam. Menunggu dia saja yang mengungkap.

“Berita itu menceritakan SBY yang menyempatkan mampir ke rumah ibunya di Pacitan. Padahal kegiatannya cukup padat, namun dia berusaha menyisihkan waktu untuk bertemu dengan ibunya.”

“Sebenarnya SBY sejak dulu selalu begitu. Sejak dia meninggalkan rumah Pacitannya itu untuk belajar di Akademi Militer. Dia menghormati ibunya. Sehingga dia berusaha kalau di luar kota, untuk menyempatkan datang ke rumah, menengok ibunya. Bahkan sudah menikah sekalipun, dia masih meneympatkan datang.”

“Dia menyayangi ibunya dan menghormatinya. Mungkin saja dia juga memberikan sebagian rejekinya buat ibunya. Kita tak tahu.”

“Yang jelas terbukti dia sukses. Bertemu dengan seorang wanita anak seorang penting di negeri ini. Dan lalu menikah dengannya. Prestasinya bagus. Karirnya melesat. Dengan mudah mengalahkan rivalnya menjadi presiden.”

“Saya kira itu rahasia suksesnya. Tapi itu memang benar. Khususnya padaku.”

“Sejak aku bisa memiliki uang sendiri, saya menyisihkan dulu rejeki itu untuk saya berikan ke ibu. Setiap gaji pertama, kamu tahu saya pindah-pindah kerja kan, selalu saya sisihkan untuk ibu. Setiap ada rejeki saya selalu sisihkan untuk ibu. Bahkan saya naik hajikan dia, meski saya belum. Tak apa, karena setelah saya juga naik haji. Doakan lancar ya, Suf.”

“Ini saya lakukan karena sewaktu SMA saya diberitahu oleh guru silat. Katanya kalau kamu ingin sukses dan kaya, muliakan ibumu. Nasehat yang sederhana, namun terlalu sederhananya malah sering kita mengabaikannya.”

“Kenapa bisa begitu. Karena doa seorang ibu pada anaknya sangatlah mujarab. Tanpa kita sadari, mereka selalu mendoakan keberhasilan kita. Bila kita memuliakannya, itu berarti kita berterima kasih padanya. Meski saya yakin, itu tak akan dapat membalasnya. Dan bila kita melakukan hal ini berulang-ulang, dia akan semakin rajin mendoakan kita. Meski seharusnya kita melakukan secara ikhlas”

“Terbukti rahasia rejeki itu pada saya. Mungkin juga pada presiden kita, SBY,” katanya mengakhiri pertemuan kita.

Saya tercenung dengan hal ini. Sebuah rahasia rejeki yang sederhana dan mudah. Namun kenyataannya kita melupakannya. Bahkan menolaknya. Bahwa keberhasilan kita kerap kali karena doa seorang ibu kita. Jangan sampai kita seperti cerita Malin Kundang. [TSA, 15/03/2011 subuh]

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, pembicara publik, host radio, pengajar sekaligus praktisi TI di SAM Design. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya atau di Facebooknya.

5 Comments - Leave a Comment
  • onid -

    mas yusuf, saya sangat setuju memuliakan orang tua adalah perbuatan yang mulia dan harus dilakukan tiap orang….

    hanya saja mungkin mas yusuf bisa menerangkan kepada saya tentang saudara saya. dia ini sangat memuliakan orang tuanya, sejak masih di surabaya secara teratur dia pulang untuk mengunjungi orangtuanya sekaligus menyisihkan pendapatannya. tidak hanya kepada orang tuanya, kepada saudara-saudaranya pun dia juga mudah memberikan pertolongan, dia bahkan menjadi jujugan saudara-saudaranya yang butuh bantuan…

    bahkan, sejak tahun 2004 dia memboyong istri dan anaknya ke desa agar lebih dekat orang tua. tapi sejak itu, usahanya malah mengalami kemunduran hingga sekarang bisa dikatakan melarat. tiga tahun lalu dia kena penyakit lever hingga sekarang tubuhnya tidak fit seperti dulu, dua tahun lalu dia jatuh dari plafon hingga kakinya tidak bisa berjalan dengan normal sampai sekarang, tahun lalu dia jatuh dari mobil hingga jempolnya patah hingga dia tidak bisa memijat lagi (padahal ini adalah pendapatan sampingannya), dan beberapa bulan lalu dia jatuh dari sepeda motor hingga bahunya patah, sampai sekarang dia belum bisa bekerja karena kondisinya….

    sampai sekarang pun dia masih memuliakan orang tuanya dan tidak segan memberi pertolongan selama dia mampu….

    bagaimana pendapat mas yusuf….???

    • Toko Batik -

      @onid, maaf sy jadi gatel pengen jawab juga. menurut saya; memuliakan ortu cuma satu dari sekian banyak “rahasia rejeki”. jika kita memuliakan ortu tapi kita melakukan sesuatu yang justru bikin rejeki seret, misalnya berzina atau makan harta haram. sehingga pahala perbuatan baiknya terhapus, malah jadi musibah yang didapat. ibarat timbangan dosanya masih lebih berat daripada nilai memuliakan ortu nya. maaf jika salah.. itu hanya pendapat saya.

  • Pingback: ..| Home of Mochamad Yusuf |..

  • Leave a Reply