Rahasia Rejeki (54): Mathius Effect

Home / Serial Tulisan / Rahasia Rezeki / Rahasia Rejeki (54): Mathius Effect

Mathius Effect adalah efek berantai yang semakin lama semakin besar. Bila dia kaya semakin kaya. Bila dia miskin maka makin miskin. Kata Rhoma Irama, “Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.”

Oleh: Mochamad Yusuf*

“Sudah miskin, terus mengalami kesusahan,” begitu kata seorang kerabat. Saat itu kita membicarakan seorang anak tetangga yg salah satu matanya tak bisa melihat. Anaknya cantik, tapi melihat kondisinya seperti itu iba juga. Pernyataan itu keluar, ketika saya tanyakan apakah sudah dibawa ke dokter untuk disembuhkan.

“Ibunya jadi TKI. Sudah lama tak tahu kabarnya. Bapaknya jadi kernet. Sekali kerja bisa beberapa hari. Dia ikut neneknya yang hanya buruh petani. Setahu saya, tak pernah diperiksa secara intensif. Pernah sekali dibawa ke RS. Tapi biayanya yang tinggi, menyurutkan mereka untuk melangkah ke pemeriksaan lebih lanjut. Ya, selama ini dibawa ke mantri atau tukang pijat untuk diurut-urut,” kata kerabat.

Tiba-tiba dia berkata, “Kenapa yang kaya malah jarang mengalami penyakit yang aneh-aneh ya? Mereka punya uang banyak, malah tak pernah mengalami sakit yang butuh banyak biaya.” Saya diam. Ini yang dikatakan oleh Malcolm Galdwell dalam bukunya, ‘Outliers’ sebagai Mathius Effect.

Mathius Effect adalah efek berantai yang semakin lama semakin besar. Bila dia kaya, makin lama makin kaya. Bila dia miskin, maka makin lama makin miskin. Terjemahan sederhananya adalah, “Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.” Ini menyitir lirik lagu Rhoma Irama yang terkenal itu.

Coba kita tengok ke belakang keadaan si anak itu. Setelah diketahui ibunya mengandung dia, seharusnya sang ibu harus makan makanan yang bergizi. Namun karena miskin, ibunya tak cukup makan bergizi. Makan cukup saja mungkin kurang. Boro-boro harus ditambah asupan susu dan vitamin lain. Bahkan sang ibu meski mengandung harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

Karena miskin pula, sang orang tua tak dapat memeriksakan ke dokter spesialis kandungan. Padahal pemeriksaan ini untuk mengecek kondisi sang anak. Kalau diketahui kelainan sejak awal, bisa dilakukan tindakan lebih dini. Paling ke bidan, bahkan mungkin tidak.

Ketika lahir, sang bayi tak cukup tambahan gizi. Juga tak dapat vaksinasi yang lebih. Mungkin vaksinasi yang wajib saja. Itu pun mungkin karena gratis dari Puskesmas atau Posyandu. Jangan harap dapat vitamin tambahan. Padahal vitamin bisa memperkuat ketahanan tubuh.

Sedangkan kondisi rumah, karena miskin bisa saja memperburuk ketahanan tubuh. Lantainya tanah sehingga lembab dan kotor. Dindingnya sebagian anyaman bambu, sehingga angin malam yang dingin bisa masuk. Satu bangunan dengan rumah ada kandang sapi untuk tambahan penghasilan. Tak bisa membuat kandang terpisah, karena biaya. Padahal kandang hewan ini bisa saja menularkan penyakit.

Bila ada sakit kecil, tak juga diobati. Paling diobati secara tradisional. Namun kalau kondisi semakin parah, obat tradisiopnal ini tak mampu mengobati. Bila anak sakit, konsentrasi orang tua terganggu. Saat mereka mengobatkan sang anak, tentu saja mereka tak kerja. Bila tak kerja, maka tak dapat penghasilan. Karena upah dibayar sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan. Tak bekerja ya tak gajian. Bila tak kerja, maka akan semakin miskin. Bila sakitnya semakin lama, maka semakin miskin pula.

Ini akan bertolak belakang dengan sang kaya. Bila kaya sejak kandungan, sang ibu mendapat asupan gizi bahkan vitamin cukup. Kalau perlu bisa beristirahat penuh. Setelah lahir selain ASI, masih ditambah susu kaleng dan vitamin-vitamin. Rumahnya bersih dan sehat. Kalau sakit sedikit sudah dibawa ke dokter bahkan spesialis.

Tentu saja sang anak ini bisa cerdas. Bila cerdas dia bisa sekolah yang bagus. Setelah lulus sekolah yang bagus, dia dapat pekerjaan yang bagus. Dan seterusnya. Sedang buat si miskin, dia tak dapat sekolah. Kalaupun sekolah, sekolahnya tak bagus. Tak bisa sekolah sampai tinggi. Tentu saja pekerjaan yang diraih tak akan bagus.

Jadi awalnya adalah kondisi orang tua. Saat orang tua kita diberi karunia yang cukup, itu adalah rejeki awal. Selanjutnya akan berlanjut dengan datangnya rejeki demi rejeki. Bila awalnya sudah miskin, maka itu bisa awal dari kondisi yang semakin mengenaskan dari hari ke hari.

Sering kita melupakan rejeki yang sudah di tangan kita. Gara-gara melihat orang lain mendapat rejeki yang lebih banyak. Padahal bisa saja terjadi rejeki itu karena memang seperti sudah jadi haknya. Yang perlu kita lakukan adalah selalu berdoa dan bekerja sebaik-baiknya untuk mencari rejeki. [TSA, 15/07/2011 subuh]

~~~
Artikel ini bagian dari buku yang saya rencanakan untuk terbit. Rencananya ada 99 artikel yang berkaitan dengan rahasia rejeki. Untuk seri 1 sampai 10, anda bisa membaca secara lengkap di sini. Setelah seri itu, tak ditampilkan secara lengkap. Namun setiap kelipatan seri 5, akan ditampilkan secara lengkap. Jadi pantau terus serial ‘Rahasia Rejeki’.

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, pembicara publik, host radio, pengajar sekaligus praktisi TI di SAM Design. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya atau di Facebooknya.

2 Comments

Leave a Reply

-->
%d bloggers like this: