Rahasia Rejeki (60): Rejeki Kemalangan

Home / Serial Tulisan / Rahasia Rezeki / Rahasia Rejeki (60): Rejeki Kemalangan

Siapa bilang kemalangan adalah bukan rejeki? Kemalangan bukan rejeki karena kita tak tahu masa depan. Berikut adalah cerita kemalangan yang mirip dengan ambruknya jembatan Kukar beberapa waktu lalu.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Beberapa waktu lalu ada 2 peristiwa tragis. Pertama terjadi di Kutai Kartanegara. Jembatan gantung yang menghubungkan 2 bagian kota itu, tiba-tiba ambruk bersama dengan penyeberang di atasnya. Padahal saat itu banyak kendaraan yang menggunakan jembatan, maklum jam pulang kantor. Akibatnya belasan orang tewas dan beberapa orang lainnya hilang.

Lalu di Tuban beberapa bulan lalu, ada truk nyelonong dan menabrak acara hajatan. Saat itu ada acara perkawinan dan menyuguhkan acara dangdutan, karenanya menyedot banyak pengunjung. Acaranya berlangsung di pinggir jalan nasional, jalur pantura penghubung Jakarta – Surabaya.

Sehingga banyak kendaraan berat yang lewat; trailer, dump truck, bis antar kota dan lainnya. Terlebih di malam hari saat acara itu berlangsung.

Lokasi hajatan di pinggir jalan yang miring dan berbelok tajam. Lalu ada truk yang karena kelebihan muatan terengah-engah naik di tanjakan, lalu turun dan berbelok. Karena remnya blom dan muatannya banyak, truk nyelonong dan tak bisa belok mengikuti jalan.

Akibatnya truk menabrak pengunjung hajatan dangdut itu. Setelah menabrak, truk masih berlanjut dan akhirnya menabrak pohon sehingga berhenti. Karena awalnya cukup kencang dan harus berhenti mendadak, truk terguling lalu miring dan roboh ke samping menimpa penonton hajatan lain.

Tak terkira lagi korban yang jatuh. Belasan orang tewas dan puluhan lainnya luka berat. Wajar karena itu acara hajatan yang banyak tamu apalagi ada hiburannya.

Membaca 2 berita itu, saya jadi teringat cerita guru ngaji saya waktu kecil dulu. Teringat karena kecelakaan massal yang banyak memakan korban jiwa, tapi ada orang selamat karena kemalangan sebelumnya.

Dulu ada pak tani yang rajin dan selalu ikhlas dalam bertindak. Suatu waktu saat panen tiba, pak tani bersiap-siap pulang ke rumah. Hari itu dia telah melakukan panen. Gabah yang didapat sudah dimasukkan ke karung-karung.

Karung-karung itu sudah ditata rapi di pinggir jalan, siap untuk diangkut pulang. Rencananya besok akan diangkut dengan pedati, kendaraan yang ditarik sapi. Namun dia berencana akan membawa beberapa karung dengan diletakkan di belakang sadel sepeda.

Saat mau mengangkat salah satu karung, ternyata karungnya lapuk. Sehingga jebol dan gabah berhamburan jatuh. Karenanya dia terpaksa harus mengumpulkan gabah yang berjatuhan itu dan mencari-cari karung lain. Sebelum memasukkan kembali, dia memastikan lagi karungnya tak lapuk dan kuat.

Saat itu semua tetangga petani sudah bersiap pulang. Melihat kemalangan itu, salah satu tetangga petani berkata, “Aduh malang sekali, ya Pak. Mau pulang harus kerja lagi dan jadi terlambat pulangnya.”

Pak tani yang ikhlas itu menjawab, “Siapa yang malang? Mana kemalangan itu?” Dia terus bekerja tanpa menghiraukan ejekan teman-teman petani lain.

Setelah selesai menaikkan 2 karung di belakang sepeda, dia bersiap pulang. Saat melewati jembatan ada kerumunan orang. Ternyata jembatan gantung yang menghubungkan kawasan sawah dengan rumah tiba-tiba putus. Saat kejadian ada beberapa orang yang masih di atas jembatan. Orang-orang ini jatuh dan tersapu arus sungai yang deras. Baru saja hujan deras, sehingga arus sungai meluap dan deras.

Entah bagaimana nasib mereka. Kemungkinannya meninggal. Kejadian ini hanya beberapa menit saja sebelum dia sampai jembatan itu. Kalau dia tak harus memasukkan lagi gabah dan bareng dengan tetangganya itu, dia pasti juga jadi korban. Dan di antara korban itu adalah tetangga petani yang bilang kemalangan ke pak tani kita. “Jadi siapa yang malang?” batin pak tani.

Beberapa waktu kemudian ada tetangga pak tani yang mempunyai hajatan pernikahan anaknya. Rencananya akan dihibur acara dangdut dengan bintang ibukota. Sesuatu yang tak boleh dilewatkan. Jarang-jarang ada acara seperti demikian. Maklum yang punya hajat orang kaya dan mempunyai banyak kenalan di kota.

Tapi saat pak tani mau berangkat ke acara, anaknya sakit panas. Dia bimbang apakah harus menunggu anaknya atau terus pergi ke hajatan. Dia putuskan mendampingi anaknya, setelah diberi obat.

Tetangganya datang menjemput dan mengajak bareng. “Maaf, anak saya sakit. Saya tak bisa ikut,” kata pak tani. “Oh, malang sekali. Sayang melewatkan acara yang tiada duanya di tahun ini,” kata tetangga pak tani.

Pak tani yang ikhlas itu lagi-lagi menjawab, “Siapa yang malang? Mana kemalangan itu?” Dia tak menghiraukan komentar tetangganya, dia melepas baju batik yang sudah dipakainya dan mengambil bahan bacaan sambil menunggui di samping anaknya.

Ternyata di acara hajatan itu tiba-tiba terjadi kebakaran. Kebakaran ini begitu cepat terjadi dan merambat ke seluruh rumah dan bagian yang lain. Termasuk bagian tempat acara hajatan berlangsung.

Terjadi kepanikan, mereka cepat-cepat menyelamatkan diri. Akibatnya banyak yang jatuh dan terinjak-injak. Banyak korban tewas dan luka-luka. Dan salah satunya tetangga pak tani yang mengajak bareng berangkat.

Mendengar kabar itu pak tani berucap lagi, ““Jadi siapa yang malang?” batin pak tani.

Di ujung cerita pak ustadz menyimpulkan ceritanya untuk selalu ikhlas dalam semua kejadian. Yang penting adalah kita selalu dalam jalanNya. Karena kalau sudah demikian, kita akan selalu dikasihiNya termasuk selalu dilimpahi keselematan dan rejeki. Dan bentuknya bisa saja seperti kemalangan bagi sebagian orang. Padahal itu rejeki.

Kita baru tahu itu adalah rejeki setelah terjadi peristiwa di masa depannya. Entah hanya sesaat di waktu mendatang atau lama sekali bahkan puluhan tahun setelah peristiwa kemalangan itu terjadi. Kita baru tahu setelah peristiwa di masa depan itu terjadi, dan mengetahui sebenarnya kemalangan itu adalah rejeki.

Kita tak tahu masa depan. Dia-lah yang Maha Tahu. [TSA, 14/12/2011 pagi]

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, pembicara publik, host radio, pengajar sekaligus praktisi TI. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya atau di Facebooknya.

One Comment

Leave a Reply

-->
%d bloggers like this: