Contact us now
+6289-774455-70

Rahasia Rejeki (66): Rejeki Yang Sering Diabaikan

(ref: sxc.hu)

Karena itu saya sempat jengkel dengan ungkapan ‘semudah membalikkan telapak tangan’ saat membaca sebuah berita. Bagi penderita GBS, membalikkan telapak tangan sama susahnya dengan mengatur negara.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Hari itu ada sebuah judul berita yang langsung menarik perhatian saya. Meski posisinya di bawah sendiri, saya ingin langsung membacanya. Setelah membaca berita itu, ingatan saya seperti terlempar ke beberapa tahun lalu. Yakni saat saya menderita sakit GBS. Ya, dia juga menderita sakit GBS itu.

GBS adalah singkatan dari Guillain-Barre Syndrome. Guillain dan Barre adalah dokter yang pertama meneliti tentang penyakit ini. Mereka menemukan pertama kali penyakit ini pada 2 tentara yang berdiam di parit-parit perlindungan saat Perang Dunia I. Saat itu mereka ditemukan lumpuh. Lumpuh tanpa sebab. Menariknya mereka bisa sembuh kembali seperti sedia kala.

Sejak itu penelitian tentang GBS dimulai. Penyakit ini terbilang cukup langka. Kemungkinan diidap 1 dari 200.000 orang. Jadi sebenarnya tak banyak. Saat pertama kali saya sakit dan dibawa ke sebuah Rumah Sakit (RS), saya penderita GBS pertama di rumah sakit itu sejak berdiri. Lalu saya pindah ke sebuah RS lagi. Di sini saya adalah pasien GBS ke-9 sejak RS itu berdiri. Dan itu kadang setahun tak ada, tapi tahun lain langsung ada 2-3 pasien.

Penyakit GBS ini menyebabkan lumpuh sebagian atau total secara keseluruhan pada tubuh. Saat lumpuh, ya tidak dapat menggerakkan anggota tubuh yang terserang. Untuk anggota yang lumpuh bisa berbeda penderita satu dengan lainnya. Ada yang terserang tangan, kaki, organ dalam, leher ke bawah dan lain-lain.

Lumpuh ini terjadi karena rusaknya sel syaraf belakang. Gerakan tubuh pada dasarnya digerakkan 2 faktor: otot dan syaraf. Kalau kita capek dan melakukan kerja keras, bisa jadi otot kita jadi pegal, sehingga susah menggerakkan. Tapi kalau otot sehat, tapi syaraf sakit, tetap juga tak bisa menggerakkan.

Bagaimana sel ini bisa rusak? Ini gara-gara auto-immune, sistem kekebalan tubuh kita yang terdiri dari sel-sel darah putih. Normalnya sel-sel darah putih ini akan mematikan/memakan zat-zat yang merusak tubuh seperti virus, bakteri dan lain-lain.

Entah karena apa, auto-immune ini seperti tak bisa bekerja dengan baik. Dia sepertinya tak bisa membedakan mana lawan, mana kawan. Maka sel tepi syaraf belakang dianggap musuh, sehingga dimakan juga. Maka saat mereka rusak, maka kita menjadi lumpuh.

Saya sendiri terserang kelumpuhan dari leher ke bawah. Untungnya meski dari leher ke bawah, organ dalam tak ada yang lumpuh. Yang ditakutkan kelumpuhan itu menyerang organ dalam seperti paru-paru atau jantung. Kalau paru-paru masih dibantu pernapasannya dengan respirator. Tapi kalau jantung lumpuh? Ya, mati.

Penderita GBS di koran itu sudah terserang paru-paru. Paru-parunya sudah tidak berfungsi lagi. Alias tidak dapat menghirup udara dari luar. Maka dibantu oleh alat bantu pernapasan. Namun karena lama, selain tentu saja akan makan banyak biaya, si penderita ini sudah keluar dari rumah sakit. Berobat di rumah, maka dia dibantu dengan alat tiup yang dipenjet-penjet dengan tangan.

Jadi ada orang yang melakukan hal ini. Biasanya pasiennya sendiri tak boleh melakukan. Karena kalau dilakukan dia akan cepat capek. Bila capek, maka penyakit GBS ini bisa menyerang lebih ganas.

Dan tentu dengan bantuan alat bantu ini harus dilakukan setiap waktu. Entah saat sedang makan, mandi, MCK, tidur dan lainnya. 24 jam paru-paru harus ditiup dengan alat ini untuk mendapat pasokan udara.

Yang menyedihkan penderita ini sudah melakukannya selama 18 tahun, yakni sejak masih duduk di bangku SMA sampai umur 30-an. Untung istrinya tetap setia mendampampingnya untuk meniupkan udara. Istrinya ini dulu adalah perawat yang membantunya.

Karena saya juga penderita GBS, saya memahami sekali penderitaan ini. Saya tahu bagaimana tersiksanya jadi lumpuh. Hanya untuk menggaruk gatal di ujung hidung saja tak dapat dilakukan. Jangankan itu. Membalikkan telapak tangan susahnya minta ampun. Bahkan bisa dibilang mustahil.

Karena itu saya sempat jengkel dengan ungkapan ‘semudah membalikkan telapak tangan’ saat membaca sebuah berita. Bagi penderita GBS, membalikkan telapak tangan sama susahnya dengan mengatur negara. Hehehe.

Saya sendiri menderita GBS selama sebulan penuh. Yakni sejak terserang sakit sampai saya bisa nyetir mobil sendiri (tapi sepeda motor belum sanggup). Lha kalau 18 tahun? Saya tak bisa membayangkan penderitaannya.

Diam-diam saat membaca berita itu, saya syukuri sebuah rejeki yang selalu kita abaikan, yakni: kesehatan. Seringkali kita hanya mengeluh tentang sedikitnya uang yang kita punya, sempitnya rumah yang kita miliki, beratnya naik motor (kapan bisa naik mobil) dan lainnya.

Tapi tak merasakan bahwa setiap saat kita selalu mendapat rejeki. Paru-paru yang bekerja menghirup udara. Jantung normal yang memompa darah ke seluruh tubuh. Ginjal yang bekerja menyaring darah. Bahkan masih bisa kentut!

Sepertinya klise. Kita selalu paham dengan rejeki ini. Tapi kenyataannya kita selalu mengabaikannya. Jadi kalau saat anda merasa bokek dan rejeki jauh, cobalah perhatikan tangan, kaki, rambut, rasakan detak jantung anda dan lainnya. Hembuskan nafas dan rasakan. Nikmati semua rejeki ini dengan gratis. [PURI, 31/01/2012 sore]

Artikel ini bagian dari buku yang saya rencanakan untuk terbit. Rencananya ada 99 artikel yang berkaitan dengan rahasia rejeki. Untuk seri 1 sampai 10, anda bisa membaca secara lengkap di sini. Setelah seri itu, tak ditampilkan secara lengkap. Namun hanya setiap kelipatan seri 5 yang ditampilkan secara lengkap. Jadi pantau terus serial ‘Rahasia Rejeki’.

*Mochamad Yusuf adalah online analyst, pembicara publik, host radio, pengajar sekaligus praktisi TI. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya atau di Facebooknya.

Leave a Reply