Rahasia Rejeki (68): Semangat, Kunci Penarik Rejeki

Home / Serial Tulisan / Rahasia Rezeki / Rahasia Rejeki (68): Semangat, Kunci Penarik Rejeki

Mendengar ceritanya yang bersemangat itu, saya percaya dulu dia sukses di kota itu. Juga yakin, bahwa bisnis yang dijalankan sekarang akan sukses pula. Karena terlihat dia optimis dan bersemangat.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Nada dering ponsel saya berbunyi. Saya lihat di layar hanya keluar nomor. Jadi nomor ini tak ada di kontak saya. Berarti nomor tak dikenal alias bukan teman saya. Meski ragu, saya angkat juga panggilan ini.

Sebuah suara yang menandakan keriangan dan semangat di ujung telpon. “Assalammualaikum. Ini Yusuf, kan? Aku Hendro, temanmu SMP,” kata suara di seberang. Sejenak saya mengingat-ingat. Lalu saya ingat wajah teman lama, karena hanya sedikit nama Hendro yang saya kenal.

“Ya, ampun Dro, lama sekali nggak ketemu. Sejak lulus SMA ya?” sahut saya. “Nggak,” tukas dia, “Kita masih ketemu saat kita kuliah.” “Oh ya, kamu betul,” kata saya mengiyakan.

Saya berteman cukup akrab dengannya. Di SMP kita sekelas. Di SMA meski tidak sesekolah lagi, namun masih sekompleks yang terdiri 4 sekolah. Di sini kita masih akrab meski beda sekolah karena mengikuti organisasi ekstrakurikuler yang sama. Dan hubungan ini putus selepas SMA. Mungkin bertemu 1-2 kali setelah itu.

Tapi yang jelas sejak bekerja bahkan setelah berumah tangga, kita tak pernah ketemu. Telpon itu seperti memberi harapan untuk berjumpa kembali. Jadi saya senang ketika dia berkeinginan datang ke rumah.

Akhirnya suatu hari dia berkunjung ke rumah. Rumah saya yang cukup jauh dari rumahnya tak menghalangi dia berkunjung.

Tentu saja waktu bertemu banyak perubahan yang terjadi. Dia lebih gemuk, lebih putih atau lebih tepatnya lebih bersih, lebih tampan dan lebih makmur. Tapi ada perubahan menyolok yang terjadi padanya. Yakni sikapnya yang penuh semangat!

Dia dulu seperti tak banyak omong. Seperti gong, kalau tak dipukul dulu takkan berbunyi. Demikian juga dia. Kalau tak ditanyai dia tidak akan berbincang. Bisa dibilang dia agak pemalu. Dalam pergaulan di organisasi, dia hanya sebagai penggembira saja.

Sekarang dia jauh dari gambaran saya sewaktu di SMA itu. Dia banyak omong dan selalu berinisiatif untuk membuka topik. Begitu menyenangkan pertemuan itu. Selain berbincang-bincang masa lalu, kita juga bicara tentang kabar teman-teman saat ini.

Setelah ngobrol-ngobrol lama, akhirnya dia menawari bisnis ke saya. Sepertinya memang itu tujuannya datang ke rumah. Dengan sopan, saya menolak tawarannya. Bukan karena apa-apa, saya takut tak punya waktu untuk menjalankannya. Jadinya nanti malah sia-sia. Tapi tentu saja, saya tak mengutarakan alasan seperti ini, karena dia sudah pasti punya jawabannya.

Die bercerita bahwa dia lama tinggal di sebuah kota kecil. Dia harus hidup di sini, karena istrinya yang dokter harus ditugaskan di sini. Selama tinggal di sini, dia ikut sebuah MLM. Bisnis MLM-nya sangat sukses. Dia sampai memiliki outlet yang cukup besar. Downline-nya juga banyak.

Namun dia harus kembali ke Surabaya, karena istrinya sudah dapat pekerjaan di rumah sakit (RS) yang cukup terkenal. Dia harus meninggalkan bisnis MLM-nya yang sudah besar itu. Dan dia harus memulai bisnis MLM lagi di Surabaya. Namun dia mengatakan cukup optimis, bahwa bisnisnya juga akan sukses seperti waktu tinggal di kota kecil.

Mendengar ceritanya yang bersemangat itu, saya percaya dia dulu sukses di kota kecil itu. Saya juga yakin, bahwa bisnis yang dijalankan sekarang akan sukses pula. Karena melihat dia optimis dan bersemangat itu akan menularkan semangat ke yang lain untuk ikut juga.

Sederhananya, kalau kita bertemu dengan seseorang yang tak bersemangat dalam mengutarakan bisnisnya, apakah kita mau kalau diajak bergabung? Tentu kita akan ragu, karena nada yang tak semangat dari dia menunjukkan dia juga ragu dengan bisnisnya.

Beda kalau dia bersemangat. Selain kita ketularan bersemangat, kita juga mantab seyakin apa yang dia percaya. Kalaupun misal gagal, kita tahu bahwa kita sudah melakukan seoptimal mungkin, karena dibantu olehnya yang bersemangat.

Hari itu, saya mendapat sebuah rahasia rejeki lain. Bahwa kalau kita optimis dan bersemangat untuk mengejar rejeki, maka rejeki itu dengan sendirinya akan datang menghampiri kita. [TSA, 04/02/2012 pagi]

~~~
Artikel ini bagian dari buku yang saya rencanakan untuk terbit. Rencananya ada 99 artikel yang berkaitan dengan rahasia rejeki. Untuk seri 1 sampai 10, anda bisa membaca secara lengkap di sini. Setelah seri itu, tak ditampilkan secara lengkap. Namun hanya setiap kelipatan seri 5 yang ditampilkan secara lengkap. Jadi pantau terus serial ‘Rahasia Rejeki’.

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, pembicara publik, host radio, pengajar sekaligus praktisi TI. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya atau di Facebooknya.

Leave a Reply

-->
%d bloggers like this: