Contact us now
+6289-774455-70

Rahasia Rejeki (9): Berkah Sebagai Anak Guru?

Yang menarik ketika dia ditanya kesuksesannya, dia memberikan jawaban yang standar. Tapi saat wartawannya mendesak, baru dia memberikan jawaban yang unik: “Mungkin karena saya anaknya guru!”

Oleh: Mochamad Yusuf*

Sebuah wawancara begitu menarik perhatian saya di sebuah media massa. Karena topik perbincangannya berbeda dengan biasanya di media umumnya. Yang diwawancarai adalah orang yang sukses bisnisnya. Bisnisnya memang tidak banyak, juga tidak ada yang terkenal, namun semuanya solid dan menguntungkan.

Kenapa berbeda topiknya? Karena ini adalah media massa bundel yang diberikan bagi donatur sebuah amil zakat. Bila seseorang tercatat rutin memberikan sumbangan ke amil zakat ini minimal rupiah tertentu, dia akan mendapat majalah ini. Tentu saja topiknya berkaitan dengan agama.

Orang ini sebenarnya sering diwawancarai dan diliput media massa mainstream, media massa seperti biasanya. Kalau ditanya kesuksesannya, dia akan menjawab karena kerja kerasnya, keuletannya, kegigihannya dan penerapan teori managemen terbaru.

Bahkan di sebuah wawancara lain dia mengatakan karena hoki, untung. Dikatakan hoki karena akibat sebuah peristiwa yang jarang terjadi, yakni krisis moneter. Krisis moneter inilah yang menyebabkan runtuhnya bisnis para konglomerat. Normalnya dia pasti akan sulit bersaing dengan bisnis mereka. Setelah mereka rontok, bisnisnya mempunyai kesempatan untuk eksis.

Rasanya masuk akal. Tapi saya kira meski itu karena hoki, kesuksesannya juga karena kerja kerasnya juga. Karena meski diuntungkan oleh situasi tapi kalau dia tidak siap, tentu saja hoki itu tak ada gunanya. Tapi meski siap sekalipun, tapi kalau tak datang kesempatan itu, dia pasti tak akan eksis. Jadi kerja keras + takdir!

Namun yang menarik ketika dia ditanya kesuksesannya, dia memberikan jawaban yang standar. Sama seperti di media massa lainnya. Tapi wartawannya mendesak, “Ah tak mungkin sekedar itu,” baru dia memberikan jawaban yang cukup unik bagi kebanyakan orang: “Mungkin karena saya anaknya guru!”

Dia bercerita bapak dan ibunya adalah guru SD. Mereka bekerja dengan penuh dedikasi. Puluhan, ratusan bahkan ribuan telah dibekali ilmu oleh mereka. Beberapa muridnya ada yang berprestasi. Meski keduanya tak pernah meraih prestasi, namun murid-muridnya sangat menghargai hasil kerjanya. Di waktu tertentu apalagi saat lebaran mereka datang ke rumahnya untuk mengucapkan terima kasih atas pelajarannya.

Sering juga datang para orang tua. Atau para muridnya yang sudah berhasil menjadi pejabat, profesi dan lainnya juga datang ke rumahnya. Sering di akhir kunjungan mereka berdoa supaya amal ibadahnya dibalas dengan setimpal.

“Karena orang tua sudah senang jadi guru, dan tak ingin menjadi yang lain, maka doa itu sepertinya dikabulkan dan ditujukan ke saya. Atau doa itu disambungkan dengan doa mereka yang berharap kesuksesan saya. Saya lihat mereka sering bangun malam untuk berdoa.”

“Saya pernah menanyakan kenapa mereka melakukan hal itu. Yang mengejutkan mereka mendoakan keberhasilan murid-muridnya. Tapi saya yakin mereka pasti mendoakan kesuksesan saya, anaknya. Doanya plus doa para orang tua dan murid-muridnya membuat saya berhasil seperti ini,” katanya.

Ya, mungkin saja benar. Tapi saya kira ini adalah paduan antara hoki, doa dan kerja kerasnya. Jadinya setelah membaca majalah ini, saya mendapat sebuah rahasia rejeki lagi. [TSA, 25/10/2010 solah-solah]

~~~
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, pembicara publik, host radio, pengajar sekaligus praktisi TI di SAM Design. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Yang terbaru, “Jurus Sakti Memberangus Virus Pada Komputer, Handphone & PDA”. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya atau di Facebooknya.

Leave a Reply