Surat untuk Zidan: Kamu Boleh Bersepeda 5 Km Ke Sekolah

Home / Uncategorized / Surat untuk Zidan: Kamu Boleh Bersepeda 5 Km Ke Sekolah

Saat bersepeda adalah saat menggali pengalaman yang akan beda dalam hidupmu. Sebuah pengalaman yang akan susah dilupakan. Sebuah saat yang menyenangkan. Ayah sudah merasakannya berkali-kali.

Surabaya, 18 Juli 2010

Buat Zidan, anakku.

Pas lima hari ini kamu bersepeda ke sekolah. Tepatnya mulai senin kemarin. Senin itu, kamu dan Rafif, sobat kentalmu dan ayah, membuntuti kamu di belakang, bersepeda ke sekolah. Untuk itu kamu harus menempuh jarak sejauh 5 km.

Mungkin beberapa orang mencibir, kenapa ayah harus memberi perhatian kamu bersepeda ke sekolah. Bukankah itu wajar bahkan banyak yang lebih jauh. Seperti Lintang di Laskar pelangi. Lintang katanya, menempuh sejauh 40 km. Itu hanya berangkatnya. Jadi sehari dia menempuh jarak sejauh 80 km. Itu mungkin setara Surabaya – Malang. Ya, itu fiksi. Meski mungkin dalam praktiknya ada.

Tapi ayah sendiri sejak SMP harus bersepeda ke sekolah. Waktu SMP sih nggak jauh, hanya sekitar 2 km. Waktu SMA lebih jauh lagi. Sama dengan jarakmu saat ini, 5 km. Tapi di SMA itu hanya sewaktu kelas 1. Waktu kuliah baru ayah bersepeda kembali ke kampus. Ayah lakukan sampai lulus kuliah. Bahkan sebulan setelah kerja (di SCTV), ayah masih bersepeda ke sana kemari.

Ya, bersepeda mungkin bukan sesuatu prestasi. Tapi bagi ayah, hal itu adalah pencapaian prestasi. Karena sekarang bersepeda jauh sekali dengan bersepeda waktu dulu. Bersepeda waktu ayah sekolah beda dengan kamu saat bersepeda sekarang. Dulu tak begitu banyak yang berkendara di jalan. Di jalan, ayah bisa berjejer di jalan bersama teman-teman. Dulu kendaraan tak kencang-kencang. Dan ayah dan teman, aman-aman saja melakukannya.

Sekarang? Begitu banyak kendaraan, khususnya sepeda motor. Yang mengendarai juga sering anak yang belum cukup umur, yang belum tahu masalah lalu lintas. Mereka hanya bisa mengendarai. Akibatnya mereka bisa berkendara kencang-kencang. Apalagi yang memiliki SIM! Lebih kencang lagi. Di jalan sekarang adalah tempat yang algojo pun kalah jumlahnya dengan menghukum mati para terpidana mati.

Apalagi ada ruas sejauh 400 meter yang kamu lewati, yang ayah khawatir. Kamu tahu kan, itu jalan antara perumahan kita dengan perumahan sebelah, Taman Pondok Jati. Jalannya sempit, tapi sepi dan mulus. Sehingga ada kecenderungan pengendara ngebut di sini. Apalagi kalau pagi saat para siswa dan karyawan berburu waktu supaya tak telat.

Waktu kamu dulu minta ijin untuk bersepeda ke sekolah, ayah masih tak mengijinkan. Ayah bilang nanti kalau sudah kelas 4. Setelah kamu naik kelas 4, ayah berteguh hati, kamu bisa bersepeda sekarang. Atau tidak sama sekali.

Kenapa ayah mau mengijinkan kamu?

1. Saat ini sampai kelas 6 adalah saat memungkinkan kamu bersepeda. Kelak kalau kamu sekolah ke SMP atau SMA, jarak sekolah lebih jauh lagi. Dan harus melewati jalan raya propinsi dimana banyak bus antar kota dan truk trailer ngebut mengejar setoran. Itu tak mungkin.

2. Saat bersepeda adalah saat menggali pengalaman yang akan beda dalam hidupmu. Sebuah pengalaman yang akan susah dilupakan. Sebuah saat yang menyenangkan. Ayah sudah merasakannya berkali-kali. Bila kamu nanti sudah tak bisa bersepeda bersekolah di SMP/SMA, kamu sudah merasakan sekitar 3 tahun. Benar nggak?

3. Ayah ingin Zidan nanti bisa hidup sederhana. Sederhana bukan berarti hidup melarat dan kekurangan. Tapi hidup yang cukup-cukup saja, meski kamu sekalipun kaya-raya seperti seorang konglomerat. Rasulullah meminta kita untuk hidup sederhana. Dengan bersepeda kamu bisa merasakan bagaimana orang-orang yang mungkin hidupnya tak berkecukupan sehingga harus jalan kaki atau bersepeda. Kamu tak boleh sombong pada mereka.

4. Ayah ingin kamu memaksimalkan waktumu di sekolah. Kalau kamu antar jemput, kamu harus pulang cepat-cepat karena mobil jemputan sudah menunggu. Bila kamu bersepeda, kamu tak harus terburu-buru seperti itu. Kamu bisa ke ruang guru menemui ustadzah minta dijelaskan atau berdiskusi pelajaran sebelumnya. Atau ke perpustakaan untuk membaca dan meminjam buku. Atau ke laboratorium komputer untuk belajar komputer dan browsing internet. Atau kamu bisa bermain sepak bola atau basket. Atau berlatih silat yang sudah kamu tekuni sejak kelas 2.

5. Ini juga ada kaitannya dengan waktumu di atas itu, yang bisa kamu maksimalkan selain untuk belajar di sekolah. Dengan melakukan berbagai kegiatan yang positif itu, berarti kamu sudah menggunakan waktu mudamu dengan benar. Sehingga kamu bisa menjawab pertanyaan malaikat waktu di kubur. Pertanyaan yang akan ditanyakan pada setiap manusia yang barusan dimakamkan.

6. Dengan bersepeda itu kamu bisa memupuk rasa setia kawan. Bukankah ayah tak menyetujui kalau temanmu, Rafif, juga tak bersepeda? Kalau Rafif bersepeda juga, ayah setuju juga kalau kamu bersepeda. Karena ayah khawatir kalau kamu bersepeda sendiri. Ya, ini saat ini. Kalau nanti kamu sudah kelas 5/6, ayah tak mensyaratkan Rafif harus bersepeda juga. Toh, sekarang sudah mulai banyak temanmu yang bersepeda ya? Jadi masih banyak teman, meski mungkin Rafif nanti tak bersepeda lagi.

7. Ya tentu saja Ayah dan Bunda berkewajiban membelikan sepeda kalau kita mengijinkan kamu bersepeda ke sekolah. Sepeda yang kamu miliki saat ini tak layak menempuh jarak sejauh 5 km. Kamu bisa capek dan sakit kalau pakai sepeda kecilmu itu. Dan dengan memiliki sepeda itu, kamu sekarang bisa lebih bebas. Mau ke rumah teman untuk belajar kelompok, darling atau kegiatan lain, kamu tak tergantung lagi ke ayah untuk mengantarkan. Tapi ayah minta kamu lebih bertanggung jawab dengan kebebasan ini. Setuju kan?

Oke, itu alasan ayah kenapa ayah teguh mengijinkan Zidan memulai bersepeda di kelas 4 ini. Semoga apa yang ayah harapkan dengan kamu bersepeda itu tercapai. Dan semoga Allah memberi kita perlindungan dan kekuatan untuk bersepeda sampai kapan pun. Amin.

NB:
Saya boleh kan meminjam sepedamu di hari Minggu? Meski waktu sekolah ayah bersepeda terus, ternyata sekarang perut ayah membuncit. Perlu bersepeda lagi sepertinya. Hehehe. Boleh kan? Janji deh, tak merusakkan! Hehehe.

Salam
Dari Ayahmu yang selalu menyayangimu.

M Yusuf

———————————
*Mochamad Yusuf adalah online analyst, pembicara publik, host radio, pengajar sekaligus praktisi TI di SAM Design. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya atau di Facebooknya.

One Comment

Leave a Reply

-->
%d bloggers like this: